Koran Jakarta | October 14 2019
No Comments
Strategi Bisnis

Super Energy Tambah Suplai Gas

Super Energy Tambah Suplai Gas

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - PT Super Energy Tbk (SURE) berencana untuk menambah pasokan suplai gas baru yang berada di wilayah Jawa Timur. Untuk itu, Perseroan pun masih menunggu keputusan dari Pemerintah terkait hal tersebut. Hanya saja pihaknya berharap penambahan pasokan suplai gas tersebut bisa terealisasi di tahun ini atau kuartal pertama 2020.

Direktur Utama Super Energy, Agustus Sani Nugroho, mengatakan penambahan pasokan baru tersebut memang tergantung dapat atau tidaknya suplai gas. Perseroan berencana untuk menambah suplai gas baru di wilayah Jawa Timur yang tengah dalam proses. Namun lantaran belum secara resmi diumumkan oleh Pemerintah, maka pihaknya juga belum bisa menyebutkan namanya secara spesifik.

“Kemungkinan kita akan mendapatkan pada range antara 2-3 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) tambahan suplai gas baru, sehingga produksi gas juga akan naik dengan rasio yang kurang lebih sama,” ungkapnya di Jakarta, Rabu (19/6). Untuk itu, Perseroan tengah mempersiapkan penambahan kapasitas dan fasilitas pendukung untuk bisa memaksimalkan tambahan suplai gas yang diperoleh di tahun ini.

Perseroan optimistis konsumsi produk akhir akan terus tumbuh sejalan dengan tumbuhnya industri yang merupakan konsumen Perseroan. Permintaan gas yang terus meningkat di tengah pasokan yang terbatas menjadi peluang yang menjanjikan. “Perseroan memperkirakan pendapatan akan meningkat sekitar 18,48 persen dibandingkan tahun 2018,” ujar dia.

Sepanjang 2018, pendapatan Perseroan tumbuh 2,87 persen menjadi 295,85 miliar rupiah, dibandingkan tahun. Seiring dengan kenaikan pendapatan maka beban pokok pendapatan juga naik 20,76 persen menjadi 168,55 miliar rupiah, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya 139,57 miliar rupiah.

Laba bruto tercatat turun tipis sebesar 7,25 persen menjadi 127,30 miliar rupiah, dibandingkan tahun sebelumnya 148,03 miliar rupiah. Marjin laba kotor juga tuun menjadi 43,03 persen menjadi pada tahun 2018, dibandingkan pada tahun 2017 sebesar 51,48 persen. Tingginya beban operasional dan keuangan cukup mengganggu pencapaian Perseroan pada tahun 2018.

Meskipun beban umum dan administrasi turun menjadi 74,68 miliar rupiah pada tahun 2018, dibandingkan pada tahun 2017 sebesar 114,04 miliar rupiah, tercatat rugi selisih kurs dan beban lainnya sebesar 23,47 miliar rupiah pada tahun 2018 dibandingkan pada tahun sebelumnya sebesar 883 juta rupiah.

Hal ini membuat laba usaha Perseroan tercatat mengalami penurunan sebesar 1 1,94 persen menjadi 29,15 miliar rupiah pada tahun 2018, dibandingkan pada tahun 2017 sebesar 33,11 miliar rupiah.

 

yni/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment