Koran Jakarta | September 15 2019
No Comments
Kondisi Politik

Sultan Berharap Elite Politik Bersikap Negarawan

Sultan Berharap Elite Politik Bersikap Negarawan

Foto : ISTIMEWA
Sri Sultan Hamengku Buwono X
A   A   A   Pengaturan Font

YOGYAKARTA – Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta para politisi dan negarawan harus punya sikap lêgâwâ yang intinya adalah kompromi antara egosentrisme pribadi dan golongan dengan realitas politik yang berorientasi pada kepentingan rakyat ke depan.

“Saya berharap, yang menang bisa menghargai yang kalah, dan yang kalah bersedia menghormati yang menang. Hal ini akan menunjukkan kepada dunia, bahwa Indonesia dapat menjadi percontohan proses demokrasi yang bermartabat,” ujar Sultan saat menghadiri acara “Syawalan Forkopimda, Pejabat dan Tokoh Masyarakat Kabupaten Sleman”, Selasa di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Selasa (11/6).

Menuurt Sultan, pelaksanaan Pemilu 2019 di Indonesia menjadi peristiwa pemungutan suara paling rumit yang pernah digelar. Sebab Pemilu 2019 di Indonesia diikuti oleh 192,8 juta pemilih, 245 ribu kandidat yang memperebutkan sekitar 20 ribu kursi legislatif, dengan pemungutan digelar serentak di sekitar 800 ribu TPS dan melibatkan 6 juta petugasKelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS)

“Sesungguhnya, penilaian itu adalah sebuah pujian atas suksesnya Pemilu 2019, mengingat kondisi geografis Indonesia yang terbentang luas dan berkepulauan,” ujar Sri Sultan.

Meski meninggalkan persoalan yang diakibatkan oleh aksi demo yang menjurus anarkis pada 21-22 Mei lalu dan membawa korban, Gubernur DIY yakin bahwa sebagai bangsa kita bisa menemukan solusi yang elegan.

Karena bagaimanapun juga, menurut Sri Sultan, Pemilu adalah instrumen untuk memastikan rotasi kekuasaan berjalan demokratis dan kontrol akuntabilitas publik terhadap negara. Dengan demikian, Pemilu berfungsi sebagai sarana membangun legitimasi, penguatan dan sirkulasi elit secara periodik, penyediaan perwakilan, dan wahana pendidikan politik.

“Pemilu bukan suatu akhir. Masih akan ada perjuangan panjang yang harus dilalui bersama ke depan. Jika ada kemungkinan ketidakpuasan yang berimbas pada pertaruhan harga diri, harus ada yang menengahi agar mereka saling membuka pintu maaf,” jelas Gubernur DIY tersebut.

Menurut Sultan, mengabdi untuk masyarakat tidak harus menjadi presiden, namun masih banyak lahan pengabdian kepada rakyat. Pernyataan siap kalah dan siap menang diharapkan bukan hanya retorika tetapi menjadi spirit dalam politik kebangsaan. YK/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment