Sulit Terdeteksi, Waspadai Tanda Fisik yang Muncul | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 10 2019
No Comments
Kanker Hati

Sulit Terdeteksi, Waspadai Tanda Fisik yang Muncul

Sulit Terdeteksi, Waspadai Tanda Fisik yang Muncul

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Kanker hati seringkali tidak terdeteksi tetapi ada tanda fisik yang harus diwaspadai.

Kanker bisa terjadi pada siapa saja, tidak mengenal jenis kelamin dan usia. Terma­suk kanker hati. Kanker ini dialami juga oleh mendiang Gebi Ra­madhan, salah satu komika Indonesia. Kanker hati dapat bermula dari benjo­lan di hati kemudian terjadi kerusakan pada organ hati dan menyebar ke organ lain di tubuh.

Yosef Fransiscus, Health Claim Senior Manager Sequis, mengatakan, gejala awal kanker hati seringkali tidak terdeteksi. Sekali pun 1 dari 3 pasien tidak menunjukkan gejala kanker hati di awal. Namun, secara umum ada beberapa tanda fisik yang patut diwaspadai, seperti turunnya berat badan secara drastis, mual dan muntah, nyeri di bagian perut, gangguan makan, lemas, dan lesu.

“Gejala lain, misalnya membesarnya ukuran hati sehingga terasa ada yang berbeda di dalam perut bagian bawah tulang rusuk sebelah kanan. Pembe­saran juga dialami limpa dan terasa ada beban lebih dan sakit di bagian tulang rusuk sebelah kiri. Rasa sakit kemudian menjalar ke area perut dan tulang belikat sebelah kanan. Cairan di perut bertambah banyak yang men­jadi penyebab mual, beberapa bagian tubuh terasa gatal-gatal dan bola mata berubah kekuning-kuningan,” urainya.

Jika gejala-gejala tersebut di atas terasa atau terlihat, lanjutnya, segera konsultasi ke dokter umum. Jika di tahap pemeriksaan awal, dokter umum menemukan beberapa gejala yang menjurus pada penyakit kanker, dokter akan segera merujuk pasien ke dokter ahli yang dapat mendiagnosis apabila seseorang mengidap kanker hati.

Sementara itu, Chyntia Olivia Mau­rine Jasirwan, dokter spesialis penya­kit dalam OMNI Hospitals Pulomas Jakarta, menguraikan, ada dua jenis kanker hati, yaitu kanker hati primer dan sekunder.

“Jenis kanker hati primer yang paling sering terjadi adalah hepatocellular car­cinoma. Umumnya, kanker ini terjadi akibat komplikasi penyakit hati seperti sirosis (kondisi terbentuknya jaringan parut di hati akibat kerusakan jangka panjang) dan hepatitis (radang hati),” jelasnya.

Ada beberapa jenis kanker hati primer lainnya, seperti hepatoblas­toma. Kanker hati ini hanya menyerang anak-anak. Jenis lainnya adalah kanker yang tumbuh di sel-sel pembuluh darah di dalam hati yang disebut angiosar­coma dan kanker yang berkembang di saluran empedu atau cholangiocarci­noma.

“Sedangkan kanker hati sekunder adalah kanker yang tumbuh di organ lain kemudian menyebar ke hati, misal­nya penyebaran dari kanker lambung, kanker usus, kanker paru-paru, dan kanker payudara,” ujarnya.

Tahapan Stadium Kanker Hati

Sama seperti jenis kanker lainnya, kanker hati juga terbagi dalam bebera­pa tahap atau stadium. Istilah stadium yang biasa dipakai adalah BCLC, yaitu BCLC A,B,C, atau D. “Adanya stadium ini bermanfaat bagi dokter dan pasien untuk memutuskan rencana dan tahap pengobatan. Jika pasien mendapatkan diagnosis terkena kanker hati, sebai­knya segera minta dokter menjelaskan tahapan stadium kanker tersebut, “ ujar Chyntia.

Stadium awal disebut Stadium A. Pada kondisi ini, terdapat satu tumor berukuran sedang < 5 cm, atau 2-3 tu­mor dengan ukuran < 3 cm. Pada tahap ini, fungsi hati masih terbilang normal atau sangat minimal bila terganggu. Jika tumbuh beberapa tumor besar di hati maka pasien telah masuk pada Stadium B. Namun, kondisi pasien se­cara umum masih baik dan fungsi hati belum mengganggu.

“Kemudian, jika kanker sudah menyebar ke pembuluh darah, kelenjar getah bening, atau organ tubuh lain maka pasien sudah masuk pada Sta­dium C. Pada stadium ini, hati masih berfungsi tetapi kondisi pasien mulai memburuk. Jika kondisi fisik semakin memburuk demikian juga fungsi organ hati maka pasien sudah masuk pada Stadium D,” jelasnya.

Penderita kanker yang didiagnosa di stadium awal dapat bertahan selama 5 tahun. Namun, jika sel kanker hati me­nyebar ke jaringan organ di sekitarnya atau kelenjar getah bening, persentase harapan hidup selama 5 tahun menjadi hanya 11 persen. Jika sel telah menye­bar jauh maka kemungkinan bertahan 5 tahun menurun menjadi hanya 3 persen.

“Pengobatan penyakit kanker hati bergantung pada jumlah, ukuran, dan lokasi tumor dalam hati, seberapa baik fungsi hati pasien masih bekerja, ada tidaknya sirosis, dan penyebaran tu­mor. Selama sirosis atau tumor belum menyebar pengobatan paling optimal yang dapat dilakukan adalah operasi,” ujar Chintya.

Chintya mengatakan tumor yang kecil dengan ukuran kurang dari 5 cm dapat dioperasi agar tidak menyebar dan hati dapat berfungsi normal kembali. Namun, jika tindakan operasi tidak bisa dilakukan maka akan dilakukan prose­dur ablasi (menggunakan ethanol hangat yang diinjeksi, atau suhu beku) untuk menghancurkan sel kanker atau melalui kemoterapi (suntikan ke arteri agar da­rah mampu memompa ethanol langsung ke tumor dan menghancurkannya).

Apabila kanker telah membesar atau memiliki kerusakan hati yang parah maka disarankan pasien untuk melakukan transplantasi hati. Prosedur ini dilakukan dengan mengganti organ hati pasien dengan hati yang sehat dari pendonor. pur/R-1

Yang Menjadi Pemicu

 Yosef mengatakan pengidap kanker hati tidak hanya ditemukan pada orang lanjut usia tetapi juga ditemukan pada orang muda. Hal ini seiring dengan mening­katnya gaya hidup yang tidak sehat. Misalnya, karena sering begadang, kurang istirahat, dan karena faktor stres.

“Gangguan pada jam biologis tubuh seb­agai efek kurang tidur dapat menyebabkan mutasi genetik yang dapat berpotensi mem­buat sel dalam tubuh berkembang menjadi kanker. Sedangkan ketika mengalami stres, sistem imun menjadi lemah untuk dapat merespon sel tumor dan menghambat proses perbaikan DNA. Akibatnya, proses perkem­bangan tumor untuk menjadi kanker terjadi lebih cepat,” jelasnya.

Selain itu, lanjutnya, konsumsi minuman beralkohol berlebih dapat memicu pertumbu­han sel kanker hati karena hati harus bekerja keras menetralisir racun dalam tubuh.

Ia mengingatkan agar penderita diabe­tes tipe 2 lebih waspada karena berpotensi menderita kanker hati. Katanya, kelebihan gula dalam tubuh dapat memicu obesitas dan lemak yang menumpuk dapat mengganggu kinerja sel hati serta memicu sel kanker untuk berkembang. pur/R-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment