Koran Jakarta | May 21 2019
No Comments

Sukses Harus Bermisi demi Sesama

Sukses Harus Bermisi demi Sesama
A   A   A   Pengaturan Font
TP Rachmat On Excellence

Judul : TP Rachmat On Excellence

Penulis : Ekuslie Goetiandi dan Berny Gomulya

Penerbit : Gramedia

Cetakan : Desember 2018

Tebal : 368 halaman

ISBN : 978-602-06-1891-3

Theodore Permadi Rachmat, yang akrab dipanggi TP, dikenal luas sebagai profesional andal. Bahkan, kini dia tercatat sebagai salah satu konglomerat Indonesia yang bergerak di berbagai bidang usaha. Kesuksesan TP tentu tidak didapat secara instan. Ada perjuangan panjang hingga berada di titik ini.

Buku ini menggambarkan kisah hidup TP sehingga pembaca bisa belajar tentang pemikiran, pandangan dan pesan-pesan berbisnis. Prinsip pertama memiliki mindset atau pola pikir positif. Menurutnya, segala cita-cita dan praktik hidup diawali dari mindset atau pola pikir. Mindset yang tepat akan menuntun ke tempat tepat lewat jalan tepat pula.

Sebaliknya, mindset keliru akan mengantar ke tujuan yang tidak semestinya lewat jalan yang tak tentu arah. Maka, jika ingin menempuh hidup yang hebat, pembaca harus mengawali dengan membangun mindset of excellence pula (hal 5). Steve Jobs dan perusahaan Apple salah satu contoh terbaik mindset of excellence.

Hanya dalam kurun tiga tahun, kombinasi iPod dan iTunes terjual 10 juta produk dan berkontribusi hampir 50 persen dari total penjualan Apple. Padahal Apple bukanlah perusahaan pertama yang memperkenalkan produk digital music player. Sebelumnya, sudah ada sebuah perusahaan Diamond Multimedia yang telah memperkenalkan digital Rio tahun 1998. Akan tetapi, kesuksesan produk tersebut kalah jauh dari Apple.

Apple melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar perkara teknologi canggih dan desain indah. Dia memiliki mindset untuk menghadirkan pengalaman bermusik yang excellent, di antaranya mengunduh musik digital dengan mudah, nyaman, dan menikmatinya dengan kualitas prima.

Tidak hanya itu, mindset of excellence, telah membuat Steve Jobs dan Apple tidak pernah berhenti di satu titik pencapaian. Dia senantisa mendaki titik pencapaian baru yang lebih tinggi. Maka tidak heran, nilai kapitalis pasar Apple yang pada 2003 hanya sekitar satu miliar dollar AS kini (2018) menembus satu triliun dollar AS.

Buku mengungkapkan, untuk sukses perlu tujuan hidup (purpose), sikap proaktif (proactivity) dan orientasi proses demi pertumbuhan (process for growth). Tidak kalah penting, jika ingin sukses juga perlu mengetahui dengan jelas cita-cita. Bila tidak, orang hanya akan berputar-putar di tempat dan bingung. Kemudian, membuat roadmap untuk menentukan arah pencapaian serta memiliki komitmen kuat.

Prinsip lain memahami arti sukses itu sendiri “why of success”. Dalam upaya meraih sukses, harus memiliki misi tertentu. Jadi, tidak hanya fokus dengan pencapaian fisik. Misalnya, sejarah kilas balik perusahaan yang dibuat Mark Zuckerbeg—pemiliki Facebook—kelahiran media sosial yang sampai kini masih digandrungi ini bertujuan menghubungkan teman-teman satu kampus di Harvard. Ini kemudian membuatnya menjadi triliuner termuda.

Begitu pula dengan Teddy. Di balik setiap langkah bisnisnya, dia memiliki cita-cita untuk menghadirkan perbedaan bagi lingkungan sekeliling. Ia ingin hartanya bisa menghadirkan kebaikan banyak orang. Buku memaparkan, “Less for self, more for other, and enough for everyone. Kecukupan bagi setiap anak manusia,” (hal 21).

Masih banyak prinsip dan pesan-pesan dalam berbisnis dalam buku. Misalnya, cara mengatur strategi berbisnis, menjadi pemimpin visioner, dan membangun SDM. Secara keseluruhan buku ini mengingatkan bahwa kunci sukses, memiliki kinerja, komitmen tinggi dan berdedikasi bagi sesama.  Diresensi Ratnani Latifah, Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment