Koran Jakarta | December 17 2017
No Comments

Sujud Sumarah untuk Berserah Sepenuhnya pada Tuhan

Sujud Sumarah untuk Berserah Sepenuhnya pada Tuhan

Foto : Koran Jakarta / eko sugiarto putro
Sujud Bersama - Beberapa pengikut Sumarah dalam sujud bersama, di Pendopo Sumarah, Gang Setyaki, Kecamatan Wirobrajan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (30/11).
A   A   A   Pengaturan Font

Hujan melanda Yogya­karta selama empat hari hingga Kamis (30/11) tengah malam, meng­akibatkan banjir dan tanah longsor di sejumlah titik. Akibatnya, beberapa kor­ban meninggal dan ribuan orang mengungsi. Dalam rintik hujan dan banyak kabar duka itu, pada Kamis (30/11) malam, Koran Jakarta menuju Pendopo Sumarah di Jalan Setyaki, Kecamatan Wirobra­jan, Kota Yogyakarta.

Tiba pada pukul 21.00. Di pendopo besar yang berada di pekarangan luas di antara perkampungan padat pendu­duk itu hanya ada sembilan orang yang duduk di kursi dengan formasi melingkar dengan hidangan di atas meja berupa teh manis, kacang rebus, dan bika ambon.

Sumarah adalah salah satu penghayat kepercayaan yang berdasar keputusan Mahkamah Konstitusi (MK), keberadaannya diakui negara dan dapat disertakan di kolom agama dalam kartu tanda pen­duduk (KTP). Pada forum me­lingkar, seperti rapat RT ketim­bang sebuah kegiatan spiritual itu juga tampak membahas putusan MK tersebut.

Namun, tak ada nada genting dalam percakapan mengenai status baru identitas mereka di hadapan negara ini. Semua tampak ditang­gapi biasa-biasa saja. Koran Jakarta berada di forum itu se­bagai orang asing, yang bukan anggota paguyuban mereka. Tiba-tiba datang begitu saja, namun tak tampak peng­ambilan jarak dari semua yang ada di sana.

Percakapan terus mengalir seperti tanpa ada perbedaan, ada orang asing di sana atau tidak. Ada usulan mengenai perlunya men-training ang­gota agar bisa menyampaikan apa itu Sumarah, sehing­ga minimal bisa menjawab pertanyaan dari orang-orang sekitarnya, dari anaknya atau keluarga yang lain.

“Saya kira tidak perlu, bi­arkan saja disampaikan me­nurut pengertian masing-ma­sing. Karena Sumarah tidak ada dogma, tidak ada ritual atau mantra. Sumarah adalah pengalaman masing-masing maka biarkan saja kita semua bercerita menurut pengalam­an kita sendiri,” timpal yang lain.

Diskusi mengenai hal tersebut juga tidak diakhiri dengan kata putus, apakah perlu men-training anggota atau tidak. Forum terus ber­langsung cair, lebih banyak bertanya kabar dan bercerita pengalaman-pengalaman mereka terkait Sumarah. Ba­gaimana siswa SMA penganut Sumarah mengerjakan soal ujian penghayat kepercayaan di sekolah atau bagaimana masing-masing bersentuhan dengan para pamong Su­marah di masa lalu.

Sujud Bersama

Di Pendopo Sumarah itu, setiap Kamis diadakan sujud bersama. Sujud inilah satu-satunya “ritual ibadah” bagi para pengikut Sumarah. Sete­lah hampir satu jam per­cakapan berlangsung, sujud bersama dimulai. Jangan bayangkan sujud sebagaimana umat muslim melakukan sujud dalam salatnya.

Sujud Sumarah dilaku­kan sambil duduk biasa saja. Dipimpin Untung (90 tahun), semua peserta diminta untuk rileks, mendekatkan diri pada Tuhan, menyerahkan diri se­penuhnya kepada-Nya. Sujud dalam diam seperti halnya orang bermeditasi berlangsung sekitar 30 menit. Setelahnya, forum kembali mengalir de­ngan hangatnya percakapan.

Nugroho (43 tahun), cucu dari pendiri Sumarah, Ra­den Ngabei Soekinohartono atau akrab dipanggil Kino, yang menerima wahyu pada 8 September 1935 di tempat ini, bercerita bahwa sujud bersama di sini bisa dihadiri 10 orang, 15 orang, tiga orang atau tidak ada yang datang sama sekali.

“Kalau tidak ada yang datang, tidak apa-apa. Intinya, Sumarah ini kan tidak meng­ajak. Jadi, ya terserah sama yang mau melakukan saja. Sujud bisa dilakukan di mana saja sambil apa saja. Intinya kan menyebut nama Allah di hati kita,” katanya.

Tidak melakukan syiar memang menjadi salah satu pembeda penting Sumarah dengan agama-agama mod­ern. Beberapa anak Pak Kino tidak semua menjadi pengikut Sumarah. Dari 25 cucunya, hanya 2 orang termasuk Nu­groho yang menjadi pengikut Sumarah. Anak Nugroho yang masih sekolah juga ikut me­milih salah satu agama yang diajarkan di sekolahnya.

Kita bisa meng-google apa sebenarnya ajaran-ajaran Sumarah. Tulisan ini hanya ingin bersaksi bagaimana merasakan empat jam di sujud bersama Sumarah. “Kita ter­buka kalau ingin diskusi lebih lanjut. Pada intinya, Sumarah adalah berserah seutuhnya kepada Tuhan, tidak ada yang lain,” kata Nugroho.

Pukul 24.00 hujan ma­sih rintik, tapi sudah terlalu malam bagi forum untuk terus bertahan. Satu per satu pe­serta sujud pulang ke rumah dalam malam yang dingin dan sunyi itu. “Kalau biasanya, sujud bersama dimulai jam 19.00 dan selesai pukul 21.00,” pungkas Nugroho.

n eko sugiarto putro/N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment