Koran Jakarta | July 19 2019
No Comments

Sujatmiko

Sujatmiko

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Hubungan diplomatik Indonesia-Brunei Darussalam dimulai pada 1 Januari 1984. Sejak saat itu, kerja sama bilateral kedua negara berjalan dengan sangat baik pada berbagai bidang dan tingkatan. Eratnya kerja sama di bidang politik telah menjadi landasan kuat bagi penguatan kerja sama di bidang lain, seperti ekonomi, perdagangan, serta ketenagakerjaan.

Dalam rangka memberi­kan wadah bagi komu­nikasi bilateral secara rutin, Indonesia dan Brunei sepakat membentuk forum Joint Commission for Bilateral Cooperation (JCBC) pada tahun 2003. Melalui forum ini, kedua negara dapat membahas berbagai isu bilateral serta aneka upaya guna meningkatkan hubungan bilateral di masa mendatang.

Untuk mengetahui apa saja yang telah dan akan dilakukan jajaran Kedutaan Besar Republik Indone­sia (KBRI) di Bandar Seri Begawan dalam meningkatkan hubungan bilateral kedua negara, wartawan Koran Jakarta, Marcellus Wid­iarto, berkesempatan mewawan­carai Duta Besar (Dubes) RI untuk Brunei Darussalam, Sujatmiko, dari Jakarta, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Hubungan RI dan Brunei cu­kup erat, apalagi pada 2015, Pre­siden Joko Widodo berkunjung ke Brunei. Apa yang bisa dipetik dari kunjungan ini?

Kunjungan kenegaraan Presi­den Joko Widodo ke Brunei tanggal 7–8 Februari 2015, menunjukkan kedekatan dan persahabatan yang terjalin erat antara kedua pemim­pin negara dan masyarakat yang memiliki kesamaan sejarah dan budaya. Sejumlah hal telah dicapai saat kunjungan kenegaraan ter­sebut.

Pada saat kunjungan itu ditan­datangani MoU bidang kesehatan dan kerja sama Kadin kedua ne­gara. Seberapa jauh itu ditindak­lanjuti?

Pada 28–30 November 2017, tim dari Kementerian Kesehatan RI telah melakukan kunjungan kerja ke Brunei sebagai tindak lanjut memorandum saling pengertian di bidang kerja sama kesehatan antara Indonesia dan Brunei. Ada bebera­pa hasil dari kunjungan ini.

Pertama, pihak Kemenkes Brunei membuka diri untuk mene­rima tenaga kesehatan Indonesia, khususnya dokter dan dokter gigi, serta pembelian obat dan vaksin. Kedua, UBD PAPRSB Institute of Health Sciences berencana meng­adakan pertukaran mahasiswa D3 Keperawatan dengan Poltekkes Bandung.

Dalam kondisi sekarang ini, apa yang bisa dipacu untuk eks­por ke Brunei?

Melalui penyelenggaraan Joint Commission for Bilateral Coopera­tion (JCBC), kedua negara pada tataran pemerintahan membahas berbagai isu hubungan dan kerja sama bilateral, di antaranya hu­bungan ekonomi dan perdagangan. Pada tataran praktikal, KBRI BSB secara rutin menyelenggarakan/ mengikuti pameran di Brunei dengan mengundang para peng­usaha, termasuk UMKM.

Pada penyelenggaraan Pertemu­an Bisnis di sela-sela JCBC ke-4 di Jakarta, para pengusaha Indonesia dan Brunei telah saling bertukar in­formasi mengenai potensi bisnis di kedua negara. Kadin Indonesia Ko­mite Brunei berencana melakukan kunjungan ke Bandar Seri Begawan guna menindaklanjuti hasil pembi­caraan pertemuan bisnis di Jakarta.

Bagaimana dengan neraca per­dagangan RI dan Brunei selama ini?

Berdasarkan data Jabatan Per­ancangan dan Kemajuan Ekonomi Brunei, Indonesia selalu meng­alami defisit perdagangan kecuali tahun 2017, di mana Indonesia surplus sebesar BND 49,9 juta. Pada tahun 2018, hingga Oktober 2018, Indonesia masih mencatat surplus sebesar BND 21,88 juta.

Bila berdasarkan angka statistik resmi, nilai pangsa impor produk Indonesia di Brunei jauh lebih kecil dibanding impor produk dari Malaysia dan Singapura, hanya se­kitar 3 persen dibanding impor dari Singapura sebesar 18 persen dan dari Malaysia sebesar 15 persen. Pada kenyataannya, produk Indo­nesia, khususnya produk konsumtif telah membanjiri pasar Brunei. Tercatat lebih dari 6.500 jenis pro­duk Indonesia sudah berada di pasar Brunei.

Jarak yang berdekatan me­mungkinkan pengusaha UMKM kita memacu produk mereka ke Brunei. Bagaimana upaya mem­bantu UMKM?

Mengundang UMKM mengikuti pameran dan temu bisnis yang di­selenggarakan KBRI di Brunei.

Apa kendala meningkatkan ekspor kita ke Brunei?

Belum tersedianya angkutan laut langsung dari Indonesia ke Brunei. Selama ini pengiriman produk-produk Indonesia dilaku­kan menggunakan transportasi laut melalui Singapura atau Port Klang, Malaysia. Adanya jalur koneksi udara (antara Bandar Seri Begawan dan Jakarta, Surabaya, Denpasar) dapat membantu pengangkutan produk Indonesia, namun volume dan nilainya tentu tidak signifikan dibanding dengan jalur laut.

Seberapa besar pengusaha Brunei menginvestasikan dana­nya ke RI?

Berdasarkan data BKPM, in­vestasi Brunei di Indonesia (2013 – September 2018) senilai 9,11 juta dollar Amerika Serikat (AS) de­ngan 76 proyek. Namun jika dilihat dari data sebelumnya, investasi Brunei jauh lebih besar dari yang tercatat. Mereka lebih berminat pada investasi portofolio yang lebih aman, misalnya di bidang properti. Brunei telah menanamkan modal di bidang perhotelan sejak lama di Indonesia, khususnya di Bali dan sekarang sedang dalam proses akuisisi beberapa aset.

Upaya apa saja yang dilakukan untuk menarik wisatawan Brunei ke RI?

Secara berkala Indonesia meng­ikuti Brunei Travel Fair dan table top guna menjaring para wisatawan Brunei dan para operator wisa­tanya. Saat ini sedang diupayakan peningkatan konektivitas udara antara Balikapan/ Pontianak–Ban­dar Seri Begawan menggunakan Sriwijaya Air.

Seberapa banyak wisatawan Brunei yang berlibur ke Indone­sia?

Pada tahun 2015, sebanyak 18.262 orang. Tahun 2016, sebanyak 23.693 orang. Tahun 2017 sebanyak 23.455 orang. Tahun 2018 tercatat 17.249 orang. Ini memang sangat sedikit karena jumlah penduduk Brunei yang juga sedikit, kurang dari 500.000 orang. Itupun jumlah orang asingnya hampir sepertig­anya. Indonesia bukan destinasi utama orang Brunei. Mereka lebih menyukai berwisata ke kawasan Eropa, Amerika, dan Australia.

Bagaimana perlindungan TKI di Brunei?

KBRI selalu berupaya memberi­kan pelayanan dan perlindungan yang maksimal. Berdasarkan data, KBRI Bandar Seri Begawan telah menyelesaikan 517 dari 547 kasus TKI pada tahun 2018. Mayori­tas merupakan kasus tidak tahan bekerja (sekitar 80 persen) per­masalahan gaji (sekitar 10 persen), pekerjaan tidak sesuai kontrak (sekitar 7 persen), kasus kekerasan, sakit, meninggal, dan sebagainya (sekitar 3 persen).

Sambil menunggu kasus mere­ka ditangani, KBRI memberikan pelatihan-pelatihan keterampilan yang diharapkan akan berguna ke depannya saat mereka kembali ke Indonesia. Pelatihan yang diberikan mulai dari pembuatan tempe, tahu, pengolahan berbagai jenis makan­an hingga pelatihan hidroponik.

KBRI tengah berupaya meram­pungkan MoU between Indonesia and Brunei Darussalam on the Placement and Protection of Indo­nesian Migrant Workers. Jika MoU ini disetujui, perlindungan WNI akan lebih mudah dipantau karena seluruh kontrak kerja bagi pekerja domestik Indonesia harus lewat KBRI.

Bagaimana dengan persiapan pemilu mendatang?

Terkait Pemilu April 2019, saat ini di Brunei terdapat 18.215 DPT (Daftar Pemilih Tetap) yang telah terdaftar. Pelaksanaan Pemilu di Brunei akan diadakan pada 14 April 2019 pukul 08.00–18.00. Akan ada 25 TPSLN yang semuanya berada di halaman kantor KBRI Bandar Seri Begawan. Bagi pemilih yang berdomisili di luar kota, yang ja­raknya cukup jauh, KBRI dan PPLN akan menyediakan transportasi bus gratis.

Bagaimana dengan kerja sama RI-Brunei di bidang sosial dan budaya?

Dari tahun ke tahun, kerja sama kedua negara di bidang sosial budaya semakin berkembang. Itu ditandai dengan berbagai kegiatan bersama untuk mengembangkan seni budaya dan nilai-nilai sosial kedua bangsa melalui pentas seni budaya, kerja sama pendidikan dan kerja sama kemasyarakatan.

Kami mengadakan pentas budaya Bengkel Irama, yang meng­gabungkan alat musik gamelan dan angklung dengan gulintangan, alat musik tradisional Brunei pada September 2018. Sewaktu resepsi diplomatik ditampilkan pergelaran tari Indonesia dengan tema Suma­tera Barat. Dalam rangkaian selan­jutnya dipentaskan beberapa seni budaya di sebuah mal besar (Times Square) pada akhir Agustus 2018, pada acara pesta rakyat, pada acara promosi kuliner di Hotel Parkview dan pada acara pesta musik dan kuliner Indonesia bulan Desember.

Tercatat dalam kurun waktu 2011–2018, sebanyak 93 perjanjian telah ditandatangani antara uni­versitas keagamaan kedua negara, di mana pada tahun 2018 terdapat 31 pelajar Indonesia yang belajar di universitas keagamaan di Brunei, 13 dosen dan tenaga pendidik yang mengajar di universitas dan pergu­ruan tinggi keagamaan di Brunei.

Apa saja yang akan dikem­bangkan untuk meningkatkan kerja sama pendidikan?

Pembentukan MoU bidang Pendidikan. Dalam kaitan bidang pendidikan, KBRI tengah menjajaki agar Pemerintah RI dan Brunei dapat memiliki perjanjian kerja sama pendidikan sebagai payung kerja sama teknis antar universi­tas/perguruan tinggi RI–NBD yang sudah terjalin baik dengan berbagai aktivitas konkret selama ini.

Selama kurun waktu 2015–2018, KBRI Bandar Seri Begawan telah menggalakkan promosi seni bu­daya dan bahasa Indonesia kepada kalangan muda Brunei melalui beasiswa dari Pemerintah Indone­sia, yaitu Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) dari Kemlu RI dan Program Darmasiswa dari Kemendikbud RI. Kedua beasiswa ini mendapat dukungan dari Peme­rintah Brunei yang secara rutin me­ngirimkan para pelajarnya untuk mengikuti kedua program ini.

Harapan Anda selama menjadi Dubes RI untuk Brunei?

Keberadaan WNI yang jumlah­nya sangat banyak, sekitar 82.000 dan yang separuhnya adalah pekerja profesional bahkan peng­usaha sukses, diharapkan men­jadi lokomotif dalam peningkatan kerja sama ekonomi kedua bangsa. Mereka diharapkan dapat mem­berikan kontribusi dalam upaya meningkatkan ekspor produk RI.

Jumlah WNI yang masih ma­suk dalam kategori non-skill atau semi skill, diharapkan dari waktu ke waktu dapat dikurangi dan da­pat diganti dengan mereka yang memliki keterampilan tinggi guna dapat menyerap lapangan kerja secara lebih kompetitif dan mampu mendatangkan devisa negara yang lebih tinggi.

Adakah target khusus yang ingin diraih selama menjabat Dubes di Brunei?

Menangani berbagai hambatan perdagangan bilateral guna me­ningkatkan ekspor RI ke Brunei. Masalah konektivitas, udara, darat, dan laut akan menjadi prioritas utama, mengingat saat ini banyak produk Indonesia berada di pasar Brunei, tetapi karena masuknya melalui Singapura dan Malaysia, tidak dihitung dalam statistik nilai ekspor RI.

Nilai investasi Brunei di In­donesia juga masih dinilai kecil. Meningkatnya FDI dari Brunei ke RI akan diupayakan secara optimal, khususnya di bidang-bidang yang diminati Brunei, misalnya properti. Membantu beberapa perusahaan pemerintah dan swasta RI yang sudah siap berbisnis di Brunei juga akan menjadi target utama.

Adakah pesan khusus dari Presiden Joko Widodo dan Menlu Retno LP Marsudi untuk Anda dalam menjalankan tugas di Brunei?

Pesan khususnya, terus mem­pertahankan dan meningkatkan hubungan kedua bangsa yang su­dah sangat baik ini. Secara khusus, meningkatkan pemberian pela­yanan dan perlindungan WNI/TKI yang bekerja di Brunei, mening­katkan nilai ekspor, meningkatkan nilai FDI dari Brunei, dan jumlah wisatawan ke Indonesia. N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment