Koran Jakarta | May 21 2019
No Comments

Suatu Pagi di Jalan, saat Ada Tilang

Suatu Pagi di Jalan, saat Ada Tilang

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font
CATATAN ARSWENDO

Video itu berdurasi satu menit—atau kurang. Menggambarkan kejadian di jalan Letnan Soetopo, Serpong, dari arah Santa Ursula ke Intermark. Sepasang rema berbo­cengan naik Scoopy, jenis sepeda motor. Hari masih pagi, dan kenda­raan belum terlalu ramai. Suasana jalan yang sama setiap pagi.

Hanya Kamis lalu itu berbeda. Di jalan itu ada razia polisi lalu lintas. Dan sepasang remaja itu dihentikan karena melawan arus, karena ketika ditanya tak “mau” menunjukkan SIM dan STNK, malah marah-marah.

Dalam durasi yang kurang dari semenit, si cowok pengendara yang memakai kaos putih, terlihat murka. Motor B 63956 GW yang ba­rusan dikedarai, dirusak. Dipreteli, dibanting, kemudian juga dipu­kuli dengan batu. Sebelum sempat dijungkirbalikkan dengan cara berbahaya, nyaris mengenai cewek yang berteriak mencegahnya.

Semua tadi tak sampai semenit kalau dilihat. Namun hanya jangka empat jam, unggahan di media sosial telah ditonton 1,3 kali. Dan makin siang, makin menyebar. Be­lakangan, dituliskan inisial remaja 20 tahun itu sebagai AS.

Nahasnya motor itu bukan milik lelaki dari Lampung, melainkan milik anak gadis yang diboncengkan. Ada juga tayangan lain, AS membakar STNK. Tak jelas kenapa seorang remaja yang melanggar lalin, bisa berubah menjadi monster mengerikan. Merusak motor bukan miliknya, merusak harga diri, membiarkan bagian yang merusak dari sifatnya dibiarkan bergerak leluasa.

Tak sulit membayangkan video unggahan itu bakal viral. Adegan­nya cukup dramatis, dan sebagian dari kita mengalami. Bukan hanya lupa helm atau melawan arus, tetapi kena jaring tilang. Panik, pas­tilah. Stres pun menyertai. Gugup, dan ingin marah—entah kepada siapa ditujukan, kepada diri sendiri atau situasi.

AS memalukan dirinya dengan tindakannya. Kadang ingin tahu kenapa dalam situasi kritis, terjadi penghancuran diri. Maksud saya, biarlah peristiwa ini menjadi pela­jaran. Untuk situasi yang sama, kita tak perlu melakukan itu.

Yang menarik dari kasus viral semacam ini, netizen selalu memiliki komentar yang lucu, haru, sekaligus ngeledek, dengan gaya menasihati. Misalnya saja, ada yang memberi nasihat agar cewek pemiliki sepeda motor tak meneruskan hubungan lagi.

Dugaan ada ikatan tertentu karena jari AS mengenakan cincin. “Anak Mbak berhak dapat ayah yang akalnya sehat”. Artinya, sang pena­sihat mengambil posisi berjarak. Bukan tak suka kelakuan AS—siapa pun yang menonton akan anti­pati, melainkan ke pertimbangan bahwa anaknya akan menuruti sifat meledak-ledak sendiri, merugikan diri sendiri. Ada yang marah dan ingin membakar motor.

AS mungkin tak mengira bahwa apa yang dipertontonkan itu mem­pengaruhi perjalanan hidupnya. Kalau ia tak memperbaiki, atau menemukan alasan yang tepat, entah bagaimana melanjutkan sisa hubungannya—termasuk dengan masyarakat.

Video durasi kurang dari seme­nit seperti ini bukan lagi ditonton puluhan juta netizen pada akhirnya, melainkan juga menjadi ingatan koleftif masyarakat. Setelah sekian puluh tahun masih akan yang mengingat, bagaimana seorang yang kena tilang bereaksi sedrama itu.

Meskipun itu tidak lurus den­gan keinginan tahu: bagaimana hubungan AS dengan pemilik mo­tor, atau keganjilan apa yang berada dalam diri AS, atau justru biasa-bi­asa. Yang bagian itu ada yang ingin mengetahui lanjutannya, sebagian melupakan. Cukup dengan yang viral ini saja.

Sebelum akhirnya ditutup berita viral yang berdesakan, menggantikan.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment