Koran Jakarta | April 22 2019
No Comments
Peneliti Senior Bidang Politik LIPI, Siti Zuhro, soal Pemilih Perempuan

Suara Perempuan Signifikan dalam Pemenangan Pilpres

Suara Perempuan Signifikan dalam Pemenangan Pilpres

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Perempuan merupakan salah satu ceruk suara yang potensial bagi kedua pasangan calon presiden-wakil presiden.

 

Selain karena jumlah pemilihnya yang besar, mendekati seten­gah dari seluruh total pemilih, permasalahan seputar perem­puan merupakan salah satu isu yang seksi untuk dibuatkan program dan gagasan, karena permasalahan seperti pangan, sembako, perkembangan anak, merupakan problematika yang diha­dapi perempuan.

Maka dari itu, faktor pemilih perem­puan begitu penting dalam pertarungan demokrasi 2019. Untuk mengupas hal tersebut lebih lanjut, Koran Jakarta mewawancarai Peneliti Senior Bi­dang Politik Lembaga Ilmu Pengeta­huan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/3).

Menurut Anda prospek pemilih perempuan pada Pilpres 2019?

Ini yang membedakan dari pemilu sebelumnya, saat ini saya melihat ada kebangkitan pada perempuan. Jadi, mereka sudah mulai menyadari pentingnya pemilu dan pentingnya ikut memilih calon pemimpin, dan saya melihat ada antusiasme dari mereka untuk ikut mengawal pemilu.

Antusiasme tersebut muncul dari mana?

Antusiasme muncul pada pemilih perempuan karena ada permasala­han yang menyentuh kebutuhan dari perempuan, baik yang masih single maupun yang sudah emak-emak. Con­toh untuk perempuan single, dijanjikan lapangan pekerjaan, ekonomi kreatif yang tidak terbatas gender. Sementara untuk ibu-ibu, nanti akan dijanjikan harga-harga kebutuhan rumah yang tidak tinggi. Ini kan dapat menyenang­kan kepala dapur rumah tangga. Saya melihat antusiasme dan semangat itu muncul karena melihat sosok calon yang dekat dengan mereka.

Sosok seperti apa yang akan dipi­lih kaum perempuan?

Ya tadi itu, yang dekat dengan mereka, yang dekat dengan milenial, orang muda, orang yang masih energe­tik, orang yang rasional, orang yang ekonomic oriented, yang memberikan keman­faatan secara ekonomi dan sebagainya, tentu yang lebih konkret ya, dia seneng yang seperti itu, diajaklah ke alamnya. Jadi, seperti Sandi yang muncul pada Pilpres 2019, dan citra Jokowi yang sudah terbentuk sejak Pilpres 2014. Ter­gantung dari mereka yang bisa meman­faatkan kaum milenial secara optimal.

Memangnya, seberapa besar faktor pemilih perempuan dalam pemenangan pilpres?

Sangat signifikan. Jangan salah, jumlah perempuan itu cuma selisih kalau ga salah 1 persen, jadi sudah sangat bersaing dengan jumlah laki-laki. Tentu signifikan jumlahnya, apalagi di antara mereka sudah saling mengin­formasikan ke yang lain. Dalam artian dukungan terhadap paslon mereka masing-masing. Saya lihat perempuan sekarang sudah well-informated lah.

Jadi, itu yang membuat kedua paslon saat ini cukup serius meng­garap suara perempuan?

Itu yang membuat kubu Prabowo-Sandi bilang the power of emak-emak, di kubu Jokowi-Ma’ruf ada perempuan perkasa. Memurut saya itu hal yang menarik untuk mesyarakat, karena lalu yang ditimpali konteksnya ditingkatkan pada kualifikasi, jadi bukan saling menohok. Dalam hal ini tentu menjadi kompetisi bagi Pak Jokowi yang sangat milenial dan trendy, dengan Pak Sandi yang masih muda dan energik, jadi silakan dikontestasikan. trisno juliantoro/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment