Strategi Mengamankan Keuangan Keluarga Setelah di-PHK Saat Pandemi | Koran Jakarta
Koran Jakarta | August 13 2020
No Comments
SURAT BU ROSSA

Strategi Mengamankan Keuangan Keluarga Setelah di-PHK Saat Pandemi

Strategi Mengamankan Keuangan Keluarga Setelah di-PHK Saat Pandemi

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Pertanyaan:

Bu Rossa, pandemi ini berdampak sangat berat bagi keluarga besar kami. Saya sendiri mengalami pemotongan gaji hingga 70 persen selama dua bulan dan akhirnya di- PHK. Saya baru setahun menikah dan ini sangat berat. Kakak dan adik ada yang bisnisnya menurun tajam. Mohon advisnya Bu Rossa.

Jawaban:

Ratusan ribu orang terkena PHK selama pandemi. Kaget, stres dan sedih, mungkin itulah ya dirasakan. Jika kamu juga mengalaminya, kami turut bersimpati. Tetaplah optimistis. Ini bukan akhir segalanya. Tuhan memberikan banyak pintu rezeki untuk setiap orang. Dalam hal keuangan, ada beberapa strategi yang bisa dicoba untuk mengamankan anggaran keluarga, setelah penghasilan berkurang, bisnis merosot, gaji dipotong, atau bahkan terkena PHK seperti yang disadur dari love life daily.

1. Restrukturisasi cicilan

Untuk berhemat, kamu dapat menempuh strategi restrukturisasi cicilan untuk bertahan dalam kondisi saat ini. Restrukturisasi kredit merupakan suatu upaya perbaikan yang dilakukan bank dalam kegiatan perkreditan terhadap debitur yang sedang mengalami kesulitan untuk memenuhi kewajiban pembayaran angsuran kreditnya. Restrukturisasi cicilan ini bisa dilakukan, di antaranya, dengan memperpanjang tenor agar cicilan setiap bulan berkurang. Kamu juga bisa mengajukan penyusutan kredit, misalnya mengajukan penurunan atau penghapusan bunga.

Jika bank atau lembaga pembiayaan tempat kamu mengajukan kredit tidak mengabulkan keringanan bunga atau restrukturisasi, kamu bisa melakukan cara mengakali anggaran keluarga selanjutnya, yakni refinancing atau balance transfer. Ini adalah strategi mengganti utang berbunga besar dengan utang berbunga kecil. Kamu bisa mencari pinjaman baru dari bank atau lembaga pembiayaan lain yang bersedia memberikan bunga lebih rendah dari yang kamu miliki saat ini.

2. Buat daftar pengeluaran tetap dan pengeluaran variabel

Setelah restrukturisasi kredit, cara mengakali anggaran keluarga yang bisa kamu lakukan ialah dengan membuat daftar pengeluaran tetap dan pengeluaran tidak tetap atau variabel setiap bulan. Yang termasuk pengeluaran tetap bulanan misalnya uang sekolah anak dan cicilan kredit baik kredit pemilikan rumah (KPR), kredit pemilikan mobil (KKB), ataupun kartu kredit. Sementara itu, pengeluaran tidak tetap, misalnya biaya makan, transportasi, tagihan listrik, air, internet, pembayaran pajak mulai dari pajak penghasilan, pajak bumi dan bangunan, atau biaya masuk sekolah.

3. Cek sumber pemasukan

Setelah menyusun pengeluaran, kini saatnya membuat daftar sumber pemasukan keluarga. Boleh jadi, selama ini kamu merupakan keluarga dengan dua sumber pemasukan, alias double income. Sehingga, jika salah satu pasangan mengalami pemotongan gaji atau PHK, maka masih ada sumber pemasukan dari pasangan.

Selain dari pasangan, yang juga menjadi sumber pemasukan ialah penghasilan dari bisnis atau pekerjaan sampingan. Atau, sumber pemasukan lain ini bisa juga berasal dari jasa sewa seperti kos-kosan, kontrakan, atau rental mobil.

4. Kalkulasi antara pemasukan dengan pengeluaran

Sekarang, saatnya menghitung total pemasukan bulanan dan pengeluaran bulanan. Apakah pemasukan saat ini masih bisa menutup pengeluaran bulanan? Apakah masih ada surplus yang masih bisa ditabung? Atau bahkan defisit, alias pemasukan tidak cukup untuk menutupi pengeluaran? Agar pemasukan kamu dapat menutup pengeluaran dan bahkan bisa menciptakan surplus untuk ditabung, mari simak beberapa cara mengakali anggaran keluarga berikutnya.

5. Kendalikan pengeluaran

Cobalah kendalikan pengeluaran, khususnya pengeluaran variabel, di mana jumlah yang kamu keluarkan bisa berkurang jika melakukan penghematan, seperti biaya makan, belanja bulanan, air, dan listrik. Masak sendiri ketimbang beli makanan jadi akan menghemat banyak pengeluaran. Kamu juga bisa memotong beberapa pengeluaran berdasarkan skala prioritas.

Berhubung gaji berkurang, maka sudah selayaknya kamu “puasa” dulu dari kegiatan tersier, misalnya biaya berlangganan streaming, transportasi dan traveling. Lalu, karena ada kebijakan physical distancing, kamu juga bisa meniadakan beberapa biaya terkait dengan kebijakan tersebut, misalnya berlangganan gym atau kolam renang. Sebagai gantinya, kamu masih tetap menjaga kebugaran tubuh dengan berolahraga di rumah dengan panduan Youtube.

6. Ubah anggaran bulanan

Kamu juga bisa melakukan beberapa perubahan pengeluaran di sejumlah pos. Contoh, kamu bisa memperkecil biaya kuota di HP dan fokuskan anggaran untuk berlangganan WiFi selama masa karantina. Kamu juga bisa mengganti beberapa biaya tersier untuk kebutuhan lain, seperti nonton bioskop, dipakai untuk menambah porsi dana darurat. Dengan begitu, kamu dan keluarga bisa “bernapas” lebih lama.

7. Cek dana darurat

Di tengah situasi sulit seperti ini, kamu sebaiknya tidak berutang atau menambah utang baru. Ketimbang mengambil utang baru, lebih baik gunakan dana darurat untuk menyambung hidup sampai kondisi normal kembali. Karena itu, pastikan dana darurat cukup untuk memenuhi pengeluaran selama 6-9 kali jika kamu sudah berkeluarga, atau 3-6 kali jika kamu masih lajang. Di mana dana darurat ini ditempatkan? Pastikan menempatkannya di produk keuangan yang mudah dicairkan, seperti rekening tabungan atau emas.

8. Coba menambah penghasilan Untuk menambah arus kas masuk, tak ada salahnya mencoba menambah penghasilan dengan mencari pekerjaan baru atau melakukan bisnis atau pekerjaan sampingan. Saat orang berkegiatan di rumah saja seperti sekarang ini, ada beberapa peluang usaha yang bisa kamu jajaki. Misalnya bisnis katering, kurir, pembuatan atau penjualan masker, jasa edit foto dan video.

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment