Koran Jakarta | December 19 2018
No Comments

Strategi Membangun Reputasi Positif terhadap Diri

Strategi Membangun Reputasi Positif terhadap Diri

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Personal Branding Code

Penulis : Silih Agung Wasesa

Penerbit : Penerbit Noura

Tebal : ix + 267 halaman

Terbit : I, Oktober 2018

ISBN : 978-602-385-486-8

Buku ini hadir berdasarkan pengalaman-pengalaman penulis saat membantu tokoh-tokoh di Indonesia dari berbagai profesi selama 17 tahun terakhir. Karya seseorang konsultan branding Presiden RI dan Ibu Negara ini sangat menarik. Di dalamnya dikupas cara membangun reputasi positif terhadap diri seseorang.

Personal Branding (PB) ternyata bukan hanya persoalan menjadi terkenal, tapi membangun reputasi sesuai dengan kompetensi dan passion setiap orang. Bacaan tersebut bisa menjadi panduan pembaca yang ingin melakukan PB langkah demi langkah.

Secara keseluruhan, buku ini mengulas cara untuk membangun reputasi positif melalui metode CIRCLE-P. P sendiri merupakan singkatan personal yang terdiri dari lima elemen yang melingkari satu sama lain, bahu-membahu dalam menciptakan reputasi pribadi. Elemen tersebut adalah competency, connectivity, creativity, contribution, dan compliance.

Formula ini muncul ketika ada beberapa kejadian tragis, di mana banyak tokoh muncul secara bombastis, namun berakhir tragis. Tokoh-tokoh yang memiliki karakter kuat, justru terbunuh karena karakter sendiri. Maka dari itu, buku sangat memperhatikan aspek-aspek pendukung untuk membangun PB.

PB bukan untuk terkenal, melainkan cukup dikenal saja. PB bukan berarti menjadi terkenal seperti artis, tokoh, ataupun figur publik yang banyak muncul di media. Kuncinya bukan pada kata terkenal, tapi kompetensi (hlm 10).

PB tak hanya untuk orang atau tokoh-tokoh tertentu, tapi semua orang. Setiap penjelasan diberi contoh. Seperti cara memaknai dan melihat tentang branding dari merek-merek komersial. Contoh, tentang Hillary Clinton sebagai ibu negara pada masa Bill Clinton menjadi Presiden Amerika Serikat dan foto saat menjadi menteri luar negeri.

Jelas sekali perbedaan yang tampak dalam diri Hillary. Di saat usianya yang lebih tua dari saat menjadi ibu negara, Hillary terlihat semakin “lincah” di hadapan publik saat menjadi menteri luar negeri. Ketika menjadi ibu negara Hillary bersikap lebih anggun. Intinya, membangun personality juga harus dapat menyesuaikan dengan lingkungan. Ini mulai dari cara berpakaian, bersuara, dan gerakan langsung saat berkomunikasi (hlm 63).

Kekurangan buku, tidak tepat menempatkan satu halaman seperti untuk kata-kata quotes atau intisari karena memotong pembahasan di halaman tertentu. Buku ini penting bukan hanya bagi mereka yang sudah memiliki cap sebagai figur publik, tapi juga untuk setiap orang dalam profesi apa pun yang ingin membangun PB agar memperoleh personality yang lebih baik. Dengan begitu, orang bisa lebih percaya diri untuk berkompetensi dan membangun citra yang lebih baik. 

Diresensi Deira Triyanti Putri, Mahasiswi Jurnalistik Fikom Unpad

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment