Koran Jakarta | October 21 2019
No Comments
Sidang Penyuapan - Saksi Serahkan Uang Rp50 Juta ke Gugus Joko Waskito

Staf Khusus Menag Disebut Bermain “Dua Kaki”

Staf Khusus Menag Disebut Bermain “Dua Kaki”

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Dalam sidang terungkap bahwa Gugus Joko Waskito, yang menjadi Staf khusus Menag Lukman Hakim Saifuddin, menerima uang 50 juta rupiah.

 

JAKARTA – Staf khusus Men­teri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifuddin, Gugus Joko Waskito, disebut bermain “dua kaki”. Gugus menjadi peng­hubung untuk Menag sekaligus mantan Ketua Umum PPP, Ro­mahurmuziy alias Rommy.

“Haris mengatakan yang bantu saya menjadi kepala kantor itu Rommy dan Gugus. Gugus membantu ‘dua kaki’, sa­tunya ke Pak Menteri, satunya ke Rommy,” kata Muh Muafaq Wirahadi, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakar­ta, Rabu (10/7).

Muafaq menjadi saksi untuk Kepala Kantor Wilayah Kemen­terian Agama (Kemenag) Jawa Timur, Haris Hasanudin, yang didakwa menyuap Rommy dan Lukman senilai 325 juta rupiah. Muafaq selaku Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik da­lam perkara ini juga adalah ter­dakwa yang menyuap Rommy senilai 91,4 juta rupiah.

Muafaq awalnya mengenal Gugus pada September 2017 di Jakarta. Lalu pada sekitar akhir Januari 2018, Muafaq mengaku Gugus mengirimkan pesan me­lalui WhatsApp untuk mena­nyakan posisinya dan akhirnya bertemu di sekitar Mojokerto. Di tempat itu sudah ada be­berapa pegawai Kemenag yang juga sedang ikut seleksi untuk menduduki jabatan eselon 2 dan eselon 3 Kemenag.

“Pada saat itu, kami bincang-bincang karena banyak orang, lalu karena sudah malam, saya dan Pak Gugus menuju ke ka­mar hotel. Saya ikut masuk ke dalam kamar hotel itu. Saya mengucapkan terima kasih atas bantuannya dan menyerahkan uang 50 juta rupiah. Saya ambil dari dalam tas saya, terus saya bungkus uang dalam kresek hitam, saya berikan. Pak Gugus menyatakan sama-sama, lalu saya pulang,” ungkap Muafaq.

Uang sebesar 50 juta rupiah itu, menurut Muafaq, adalah sebagai rasa terima kasih kare­na ia menilai Gugus sudah ikut membantu dirinya mendapat­kan jabatan sebagai kepala kan­tor di Gresik. “Saya berdiskusi dengan Aim, pantesnya berapa, akhirnya sepakat 50 juta ru­piah,” ungkap Muafaq. Aim yang dimaksud adalah Abdul Rohim, sepupu Rommy.

Dimintai Saran

Selaku staf khusus menteri yang mengurusi bidang ekster­nal, Gugus pernah dimintai sa­ran oleh Menag Lukman Hakim mengenai siapa orang yang layak menjadi pelaksana tugas (plt) Kakanwil Kemenag Jawa Timur.

“Seingat saya, saya diminta oleh Pak Menteri sebelum Pak Haris jadi Plt, kurang lebih ya kalimatnya, ‘Seandainya Ka­kanwil Jatim dirotasi, siapa kira-kira Plt yng bisa ditunjuk se­mentara? Tolong cari informasi pejabat yang senior, yang seka­rang menjabat di Kanwil Jatim’,” kata Gugus yang juga menjadi saksi dalam perkara tersebut.

Lalu, Gugus pun mengum­pulkan tiga nama yang dia ang­gap layak untuk menjadi Plt Kakanwil Jatim, termasuk Ha­ris. “Saya belum bicara ke Haris akan jadi Plt, tapi saya sampai­kan silent karena saat itu belum tentu ada pergantian Kakanwil. Pak Menteri hanya mengatakan seandainya Kakanwil Jatim diro­tasi, khawatirnya kalau terbuka ke mana-mana informasinya seakan-akan bocor, Kakanwil Ja­tim akan diganti,” ungkap Gugus.

Namun meski meminta agar Haris tidak membocorkannya ke mana-mana, Gugus yang juga menjabat sebagai wakil sekretaris DPP PPP malah me­minta pertimbangan siapa yang layak menduduki jabatan terse­but ke Ketua Dewan Pengurus Wilayah PPP Jatim, Musyafak Noer dan DPW PPP, Didik.

“Saya itu setelah dapat infor­masi dari kalangan Kemenag, kira-kira yang senior yang la­yak segala macam. Saat itu, saya menghubungi Pak Musya­fak dan Didik karena yang saya anggap kenal di anggota DPRD Jatim itu mereka,” ungkap Gu­gus. ola/Ant/N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment