Koran Jakarta | April 29 2017
No Comments

Sosok-sosok yang juga Berperan dalam Sejarah Nasional

Sosok-sosok yang juga Berperan dalam Sejarah Nasional

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Menyajikan peristiwa sejarah dalam penuturan yang menarik memang menjadi tantangan tersendiri. Sejarah yang identik dengan nama tokoh-tokoh atau tanggal-tanggal terkait peristiwa penting dalam perjalanan bangsa atau masyarakat umumnya tersaji secara kering dan datar. Akibatnya, membaca buku sejarah kurang diminati.

Judul               : Indonesia Poenja Tjerita: Yang Unik dan Tak Terungkap dari Sejarah Indonesia

Penulis             : @Sejarah RI

Penerbit           : Bentang Pustaka

Cetakan           : Pertama, Juli 2016

Tebal               : xviii + 226 halaman

ISBN               : 978-602-291-238-5

Menyajikan peristiwa sejarah dalam penuturan yang menarik memang menjadi tantangan tersendiri. Sejarah yang identik dengan nama tokoh-tokoh atau tanggal-tanggal terkait peristiwa penting dalam perjalanan bangsa atau masyarakat umumnya tersaji secara kering dan datar. Akibatnya, membaca buku sejarah kurang diminati.

Padahal, dalam kerangka kemasyarakatan dan kebangsaan, sejarah sangatlah penting sebagai kekuatan kultural untuk memaknai  tantangan masa depan. Buku ini dihimpun dari tulisan-tulisan di media online “Sejarah RI” yang berfokus pada edukasi sejarah Indonesia.

Melalui laman SejarahRI.com dan akun twitter @SejarahRI serta  Facebook, buku berupaya menyajikan percik alternatif di luar arus utama demi mendapat gambar utuh sejarah Indonesia untk membangun paradigma keindonesiaan (hlm 221-222). Ini juga

berpotensi kuat menjadi penyokong persatuan bangsa. Misalnya, cerita tentang perancang lambang Garuda Pancasila bernama Syarif Abdul Hamid Alkadrie atau Sultan Hamid II, putra sulung Sultan Pontianak yang berdarah Indonesia-Arab.

Pembuatan lambang negara ini mulanya disayembarakan. Yang masuk “final”  adalah karya Sultan Hamid II dan M Yamin. Karya Yamin ditolak karena pada gambarnya ada unsur sinar matahari yang dianggap menunjukkan pengaruh Jepang. Setelah melewati beberapa proses, rancangan Sultan Hamid II diperkenalkan oleh Presiden Soekarno kepada khalayak pada tanggal 15 Februari 1950 di Hotel Des Indes, Jakarta (hlm 144-149).

Orang-orang Tionghoa peranakan sejak abad ke-19 telah menerbitkan surat kabar, majalah, dan buku sastra dalam bahasa Melayu dengan berbagai versi. Kemudian pemerintah Hindia Belanda pada 14 September 1908 membentuk Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur (Komisi Bacaan Rakyat) yang nyatanya berperan sangat penting dalam merangsang minat baca masyarakat. Komisi ini tidak hanya menerbitkan karya lokal, tapi juga novel terjemahan berbahasa Belanda, Inggris, Prancis, Jerman, dan Arab. Komisi berkembang menjadi Balai Pustaka (hlm 178-180).

Salah satu tulisan juga memperlihatkan peran masyarakat luar Jawa. Surat kabar bumiputra yang pertama terbit bernama Warta Berita. Tulisan ini mematahkan pandangan umum bahwa surat kabar bumiputra pertama adalah Medan Prijaji yang terbit di Bandung tahun 1907. Warta Berita terbit di Padang pertama kali tahun 1901. Pemimpin redaksinya bernama Datuk Sunan Marajo (hlm 18-21).

Beberapa tulisan lain mengangkat tema kecil tapi menarik, seperti serba-serbi peristiwa yang menyertai Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, asal-usul lomba panjat pinang dan sejarah tahu sumedang.

Ada juga yang mengangkat keteladanan para pemimpin bangsa seperti kisah Sultan Hamengkubuwono IX yang memberi tumpangan kepada seorang ibu pedagang beras di Yogyakarta (hlm 114-115). Di tengah berbagai persoalan bangsa dan tantangan zaman yang kian berat, buku ini kiranya mampu untuk menjadi tali pengikat semangat persatuan bangsa.

 

Diresensi M Mushthafa, dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment