Koran Jakarta | October 20 2019
No Comments

Solusi Digital “Smart Agriculture”

Solusi Digital “Smart Agriculture”

Foto : Istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Masalah tingginya biaya pemeliharaan kebun sawit dapat diatasi dengan integrasi teknologi berbasis industri 4.0.

Dengan luas lahan mencapai 14, 03 juta hektar menurut Kementerian Pertanian. Nilai ekspor sawit pada 2018 mencapai 17,89 miliar dolar AS dan berkontribusi hingga 3,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Devisa yang diperoleh dari ekspor kelapa sawit dan turunannyapun mencapai 20 miliar dolar AS.

Direktur Pelaksana PT AMS Teknologi, Taufik Darwis, menuturkan, tantangan yang dihadapi produsen kelapa sawit saat ini adalah kurangnya produktivitas perkebunan akibat tingginya biaya pemeliharaan kebun, keamanan, pembibitan dan pupuk, serta tenaga kerja yang kurang efisien.

Untuk mendukung produktivitas lahan, pengelolaan perkebunan sawit perlu didukung dengan teknologi industri 4.0. “Misalnya, untuk melihat jumlah klorofil yang menunjukkan kesuburan tanah di bawahnya kita butuh teknologi sensor yang dipasang pada kamera drone,” kata Taufik Darwis, di Jakarta.

Guna memecahkan masalah kurangnya produktivitas pada perkebunan, khususnyasawit, terbentuklah aliansi terdiri dari Datacomm Cloud Business, AMS Teknologi, Integrasia Utama, dan eKomoditi. Mereka ini berkolaborasi dalam menghasilkan solusi terintegrasi end to end berbasis teknologi industri 4.0.

Aliansi bekerja dengan mengintegrasikan infrastrukur IT, platform aplikasi, sampai ke pengelolaan data dan pemeliharaan sistem. Solusi ini tidak saja memberikan solusi lengkap pengelolaan kebun dan aset, tetapi juga mengurangi biaya tidak perlu.

Datacomm menyediakan solusi solution as a service (SaaS) yang bisa tarinya sangat fleksibel. “Pada aliansi ini, Datacomm menyediakan pusat data yang telah memperoleh sertifikat Rated-3 dan DCOS-4 TIA-942 dan bersertifikat ISO 27001, ISO 9001, dan ISO 20000,” ujar Direktur Pelaksana Cloud Business Sutedjo Tjahjadi.

Aliansi menyediakan komunikasi antara machine to machine (M2M) melalui frekuensi bebas tanpa linsensi 2,4 Mhz dengan solusi random phase multiple access (RPMA). Pasalnya di wilayah perkebunan biasanya tidak tersedia sinyal GSM dari operator, sehingga pemanfaatan frekuensi unlicenced merupakan jalan keluarnya.

“Komunikasi ini untuk dapat memberikan data real time dari sensor yang ada di lapangan ke dalam sistem seperti sensor ketinggian muka air, sensor curah hujan dan arah angin dan sensor lainnya,” ujar Managing Director PT. Integrasia Utama, Bayu Wedha.

Untuk melakukan pemantauan aset bergerak dan stasioner digunakan solusi bernama SIOPAS atau SIOPASPLUS. Teknologi ini berguna dalam pemantauan asset dan juha pemanfaatanya secara maksimal (optimalisasi aset).

Taufik mengatakan, salah satu masalah tenaga kerja di perkebunan mereka sering tidak menjalankan pekerjaan dengan benar. Modul pemantauan dan pelacakan pekerja bernama GEOHR yang meningkatkan efektivitas dan efisiensi karyawan yang bekerja di lapangan.

Modul pemantauan dan pelacakan juga mampu mengintegrasikan sistem absensi di kantor dengan sistem Portal Web yang terintegrasikan dengan absensi dan tracking karyawan menggunakan ponsel. Untuk keselamatan karyawan tersedia fungsi panic button untuk situasi genting. Modul management data geospatial berikut engine development memungkinkan pihak perkebunan mempercepat pembangunan sistem informasi geospatial berbasis web yang juga mengintegrasikan data transaksi dari ERP system ke dalam data Geospatial (peta) bernama Osmap.

Modul Analisa tergabung dengan WebGIS dan MAP-GIS yang menyediakan analisa data berdasarkan citra satelit dalam 1-2 minggu, dengan resolusi tinggi 3-5 meter yang dikombinasikan dengan sensor di lapangan dan platform Artificial Intelligence (AI) untuk menyediakan data, perkiraan panek, pengelolaan hama, peringatan kebakaran, kesehatan tanaman, pengelolaan air, risiko kebakaran, dan lain-lain bernama Agrisource.

Untuk keselamatan kerja, efisiensi logistic, dan transportasi terdapat modul bernamaOslog. Modul ini akan membantu operasional yang mencakup proses penjualan menerima pesanan, memantau pesanan, dan menyelesaikan pesanan.

Data yang diberikan adalah performa penjualan, pengiriman tepat waktu, jarak waktu, key performance indicator (KPI) Pengemudi, dan lainlain. Aliansi juga menyediakan modul ERP untuk Perkebunan bernama EPCS-IPLAS.

Modul ini memberi perusahaan akses mudah ke informasi operasional utama untuk pengambilan keputusan dan membuat keputusan lebih jelas, lebih cepat, dan lebih mudah dengan ERP khusus perkebunan berupa kegiatan operasional lapangan bernama EPCS.

EPCS (electronic plantation control system) dikembangkan dalam perangkat android, membantu administrasi manual pekerjaan umum, panen, transportasi, dan sortasi pabrik untuk proses input dan pelaporan secara cepat.

“Aplikasi ini mengurangi kesalahan serta ketidaksesuaian karena telah dilengkapi dengan global positioning system (GPS) data dapat berupa gambar real di lapangan. EPCS akan mengurangi data ganda dan penggunaan laporan fisik,” ujar Bayu. hay/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment