Koran Jakarta | November 13 2018
No Comments
SAINSTEK

Solar Rooftop, Solusi Listrik Masa Depan

Solar Rooftop, Solusi Listrik Masa Depan

Foto : ISTIMEWA
PLTS Surya Atap atau rooftop merupakan pembangkit listrik tambahan yang ramah lingkungan dan dibangun d iatas atap rumah atau gedung untuk memanfaatkan lahan serta mensuplai energi listrik.
A   A   A   Pengaturan Font
Berbagai teknologi pembuatan sel surya terus diteliti dan dikembangkan dalam rangka upaya penurunan harga produksi sel surya agar mampu bersaing dengan sumber energi lain.

Pemanfaatan energi matahari sebagai sumber energi alternatif untuk mengatasi krisis energi, khususnya minyak bumi, yang terjadi sejak tahun 1970-an mendapat perhatian yang cukup besar dari banyak negara di dunia. Di samping jumlahnya yang tidak terbatas, pemanfaatannya juga tidak menimbulkan polusi yang dapat merusak lingkungan.

Cahaya atau sinar matahari dapat dikonversi menjadi listrik dengan menggunakan teknologi sel surya atau fotovoltaik (KESDM,2012). Potensi energi surya di Indonesia sangat besar yakni sekitar 4.8 KWh/m2 atau setara dengan 112.000 GWp (BPPT,2009).

Secara teknologi, industri photovoltaic (PV) di Indonesia baru mampu melakukan pada tahap hilir, yaitu memproduksi modul surya dan mengintegrasikannya menjadi PLTS, sementara sel suryanya masih impor. Padahal sel surya adalah komponen utama dan yang paling mahal dalam sistem PLTS (pembangkit listrik tenaga surya).

Harga yang masih tinggi menjadi isu penting dalam perkembangan industri sel surya. Berbagai teknologi pembuatan sel surya terus diteliti dan dikembangkan dalam rangka upaya penurunan harga produksi sel surya agar mampu bersaing dengan sumber energi lain.

Latar belakang dikeluarkannya Undang-Undang Energi adalah untuk lebih megurangi ketergantungan akan Sumber Daya Fosil dan mengembangakan Energi Baru Terbarukan untuk meningkatkan rasio elektridfiaksi Indonesia saat ini yang masih belum 100 Persen. Munculnya Undang-Undang No.30 Tahun 2007 berdasarkan atas belum adanya suatu peraturan yang mengatur akan energi di negara Indonesia ini.

Tahun 2001, Indonesia hanya mempunyai Undang-Undang No.22 Tahun 2001 yang mengatur tentang Minyak dan Gas Bumi. Sedangkan untuk pengelolaan energi hanya dikeluarkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral saat itu. Jelas, Kekuatan hukumnya sangatlah tidak kuat dibandingkan dengan Undang-undang.

Pemerintah juga sudah membuat Rencana Umum energi Nasional (RUEN). RUEN merupakan pedoman untuk mengarahkan pengelolaan energi nasional guna mewujudkan kemandirian energi dan ketahanan energi nasional dalam mendukung pembangunan nasional berkelanjutan. Terkait dengan kondisi energi saat ini, di tahun 2016, pemanfaatan EBT khususnya PLTS masih tergolong rendah.

Tahun 2016, pemanfaatan energy surya di angka 107,8 MW (KESDM,2017). Seperti yang kita ketahui, potensi energy surya di Indonesia sangatlah besar dimana mencapai 112 GWp (KESDM 2015). Perbaikan regulasi teruslah dilakukan oleh Pemerintah agar minta dan semangat dalam pembangunan Pembangkit EBT dapat dilaksanakan secara masih oleh Investor dan Pengembang sector EBT.

Perampingan perizinan, Perbaikan Tarif, Insentive masih terus dikaji untuk mendapatkan suatu pola yang ideal dalam mendukung program pemanfaatan EBT sebagai modal kemandirian dan ketahanan energi nasional. Cukup menggembirakan ternyata terjadi kenaikan pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT). Khususnya Energi surya, pada tahun 2025 Pemerintah mentargetkan 6500MW pemanfaatan Energi Surya dan 45000 MW di tahun 2050.

Mulai dari rumah kecil

Saat ini pengembangan PLTS di Indonesia telah mempunyai basis yang cukup kuat dari aspek kebijakan. Namun pada tahap implementasi, potensi yang ada belum dimanfaatkan secara optimal. Untuk membangun pembangkit tenaga surya atau PLTS tentunya membutuhkan dana yang sangat besar, ratusan miliar bahkan sampai hitungan triliun rupiah.

Namun hal ini sepertinya sudah dapat disiasati dan tidak perlu menggunakan anggaran yang sangat besar. Bahkan tidak perlu menggunakan anggaran dari pemerintah, tetapi swadaya dari masyarakat yang sudah mulai sadar akan pentingnya energi terbarukan. Yakni, memasang panel surya di rumah atau perkantoran sebagai pembangkit mandiri.

Upaya ini sudah banyak dilakukan oleh masyarakat perkotaan. Baik melalui perusahaan pemasangan panel surya swasta ataupun BUMN, seperti PT Len. PLTS Surya Atap atau Rooftop ini merupakan pembangkit listrik tambahan yang ramah lingkungan dan dibangun diatas atap rumah atau gedung untuk memanfaatkan lahan serta mensuplai energi listrik pada siang hari. Bahkan energi yang dihasilkan langsung di suplai ke jaringan listrik setempat hingga dapat mengurangi pemakaian listrik dari PLN.

Menteri BUMN Rini Soemarno mendengarkan penjelasan tentang pemanfaatan teknologi surya untuk hunian.

Pemasangan PLTS rumahan ini tentunya lebih baik, mengingat tidak terlalu membutuhkan dana yang besar. Cukup tidak lebih dari 10 juta, kita sudah memiliki PLTS mini di atap rumah. Tergantung dari berapa besar daya listrik yang kita inginkan, karena tergantung juga dengan jumlah panel surya yang akan dipasang di atap rumah.

Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Andika mengatakan, saat ini sudah ada energi surya yang dikonversikan pelanggan PLN dengan memasang fotovoltaik di atap bangunan masing-masing. Meski kecil, namun jika jutaan rumah memasangnya maka target penggunaan energi surya tahun 2025 bisa tercapai.

Memang yang masih menjadi kendala adalah saat ini panel surya kebanyakan masih diimpor, sehingga harganya cukup mahal. Inilah yang membuat BUMN PT Len untuk menciptakan panel surya sendiri yang akan jauh lebih murah dan mudah dalam perawatannya. Ujicoba sudah dilakukan sejak 10 tahun lalu, dan produk yang dinamakan LenSOLAR ini akan mulai bisa dipasarkan secara komersil tahun 2019 mendatang.

Direktur Utama PT Len Zakky Gamal Yasin mengatakan PLTS Rooftop ini sudah cukup banyak dipasang di perumahan dan perkantoran, namun baru secara komersil akan dipasarkan tahun 2019 mendatang. Menurutnya kesiapan produk sudah ada, namun masih menunggu regulasi dari pemerintah.

“Kami sudah siap memasang energi surya di perumahan, mulai daya 1.500 watt, 3000 watt hingga 5000 watt. Meski kecil namun jika banyak yang pasang, maka pemanfaatan EBT melalui energi surya ini akan semakin besar,” tegasnya.

Ia mengatakan dengan pemanfaatan energi surya melalui LenSOLAR, akan menghemat pemakaian listrik PLN sekitar 30 persen. Dan karena mirip dengan pembangkit listrik, daya yang dihasilkan tidak akan terbuang percuma. “Jika daya kita berlebih, maka akan masuk ke PLN, artinya kita bisa jualan listrik surya ini. Soal hitung-hitungannya masih dibahas,” ujar dia.

Panel Surya

Len saat in memiliki kemampuan untuk memproduksi panel surya, tanpa baterai, dengan kapasitas sebesar 50 Mega Watt Peak (MWp), dari beberapa tahun lalu yang hanya 20 MWp. Dengan kemampuan ini , maka potensi pemanfaatan energi surya di Indonesia akan semakin maksimal.

Untuk diketahui Len juga sudah memiliki Solar Modul berbagai tipe mulai dari tipe 50, 100, 135, 185, 200, 230, 245, 260 Wattpeak (Wp) dan seterusnya. LenSOLAR memiliki daya tertentu untuk setiap panelnya. Satu panel sruya bisa memiliki daya 50 Watt hingga 200 Watt, sesuai dengan pesanan dan luas atap untuk dipasangi.

Misalnya untuk panel dengan daya 200 Watt, maka diperlukan 10 panel untuk mendapatkan daya 2.000 Watt. Ukuran panel memang yang masih menjadi kendala karena cukup besar sekitar satu meter persegi.

“Memang perlu lahan yang luas untuk memasang panel surya. Contohnya di Kupang, perlu lahan 7 hektare untuk memasang panel surya berkapasitas 5 MWp,” ujar Dony, Humas PT Len belum lama ini. Inilah yang harus disiasati oleh LenSOLAR. Sebab perlu atap yang luas untuk bisa memasang panel surya.

Jangan sampai merusak estetika rumah hunian. “Kami menyediakan desainer untuk merancang pemasangan panel surya agar maskimal dan tidak merusak estetika rumah. Kami masih terus melakukan riset agar semakin kecil panel surya namun daya yang dihasilkan semakin besar,” tuturnya.

Proses Kerja LenSOLAR

Ada tiga tipe daya yang bisa dipasang LenSOLAR, yakni 1.500 watt, 3.000 watt dan 5.000 watt. PLTS atap rumah buatan BUMN Len ini menggunakan PV Modul dengan tipe panel Polycrystalline. Inverter mengunakan daya listrik 220/230/240 volt, karena tidak menggunakan baterai. Masih menggunakan MCB milik PLN namun yang bersifat ekspor-impor.

Ini digunakan secara otomatis saat transfer listrik surya berpindah ke listrik PLN. Saat panel surya terpasang, PV akan merubah energi dari radiasi sinar matahari menjadi energi listrik yang disimpan dan digunakan untuk keperluan rumah tangga. Jika energi listrik yang dihasilkan PV melebihi jumlah yang dibutuhkan maka energi listrik akan diekspor ke jaringan PLN dan dicatat di kWH meter.

Demikian sebaliknya, jika energi yang dihasilkan PV tidak memenuhi, maka rumah akan disuplai listrik PLN yang penggunaannya akan dicatat kembali oleh kWH meter. Jadi tidak lagi khawatir jika listrik PLN mengalami pemadaman. Tak perlu genset, tak perlu BBM. Direktur PT Len Zakky Gamal Yasin mengakui produknya masih tergolong mahal, maka garansi atau pelayanan purna jual menjadi hal utama.

Ia menggaransi produk ini selama 20 tahun dengan pemeliharaan yang ditangani teknisi bersertifikat. “Ke depan kami akan bekerja sama dengan bank, agar pembelian LenSOLAR ini bisa secara kredit. Bisa dibayangkan jika sebagian besar masyarakat sudah memanfaatkan energi matahari sebagai listrik.

Target pemerintah bisa tercapai dengan cepat,” tutupnya. Ia menambahkan meski dianggap mahal, menurutnya, biaya pemasangan akan kembali setelah lima hingga enam tahun. Dari simulasi yang sudah dilakukan, untuk LenSOLAR dengan daya 1.500 watt, penghematannya (bayar listrik PLN) dapat mencapai 3 juta rupiah per bulan. 

 

tgh/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment