Koran Jakarta | February 24 2018
No Comments
Instrumen Investasi

SMF Terus Perkenalkan EBA-SP

SMF Terus Perkenalkan EBA-SP

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – PT Sarana Multigiriya Finansial (Persero) atau SMF terus memperkenalkan instrumen Efek Beragun Aset berbentuk Surat Partisipasi (EBASP) pada pelaku jasa keuangan seperti perbankan, perusahaan asuransi, dana pensiun, dan investor lainnya melalui sosialisasi dan edukasi. Tujuan dari sosialisasi untuk meningkatkan pemahaman stakeholder, khususnya para pelaku jasa keuangan terkait EBA-SP, yang merujuk kepada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.20/POJK.04/2017 juncto POJK No.23/POJK.04/2014.

Sedangkan ketentuan mengenai investasi EBA-SP bagi asuransi diatur dalam POJK No. 71/POJK.04/2016 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi & Perusahaan Reasuransi dan bagi Dana Pensiun diatur dalam POJK No.3/ POJK.05/2015 tentang Investasi Dana Pensiun. Direktur SMF, Heliantopo, mengatakan keuntungan berinvestasi di EBA-SP dibanding instrumen investasi lainnya karena dipersamakan dengan surat berharga negara (SBN), sesuai kriteria ketentuan POJK Nomor 36/2016. EBA-SP yang diterbitkan SMF memiliki rating AAA dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). “Rating tersebut mencerminkan kemampuan dan kemauan untuk membayar kewajiban tepat waktu sangat kuat,” ungkap dia di Jakarta, pekan lalu (9/2).

Dalam hal ini, portofolio Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang menjadi underlying EBA memiliki kriteria yang sangat ketat agar dapat mencapai rating AAA. Heliantopo menjelaskan, tersedianya dana rekening cadangan yang dapat dipergunakan untuk menutupi kewajiban pembayaran bunga pada pemegang EBA-SP kelas A, apabila terjadi kekurangan arus kas dari portofolio KPR yang menjadi underlying. EBA kelas A dilindungi dari gagal bayar dengan adanya EBA kelas B. Regulasi mewajibkan EBA-SP menggunakan pendukung kredit yang berarti tambahan perlindungan risiko bagi investor pemegang EBA kelas A. “Sementara itu beberapa risiko yang tetap perlu dipertimbangkan dalam berinvestasi di EBA-SP antara lain Risiko Kredit, Risiko Likuiditas dan Risiko Pelunasan Dipercepat (PrePayment Risk),” jelas dia.

Apalagi program Satu Juta Rumah yang dicanangkan pemerintah membutuhkan dana yang tidak sedikit. “Masyarakat kelas menengah ke bawah memerlukan angsuran yang terjangkau dengan jumlah yang tetap, hal tersebut dapat dicapai dengan dua hal, yaitu tenor pinjaman yang panjang sehingga angsuran lebih rendah, dengan demikian diperlukan sumber dana jangka panjang. Kedua, tingkat suku bunganya tetap sehingga besarnya angsuran juga tetap,” ungkap Heliantopo. yni/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment