Skema Baru Perbaiki Penyerapan Beras oleh Bulog | Koran Jakarta
Koran Jakarta | August 15 2020
No Comments
Tata Niaga Pangan

Skema Baru Perbaiki Penyerapan Beras oleh Bulog

Skema Baru Perbaiki Penyerapan Beras oleh Bulog

Foto : ANTARA/Asep Fatathulrahman
Penerapan Skema baru I Pekerja mengangkut karung berisi stok Rasta/ Raskin (beras untuk warga prajahtera) di Gudang Bulog Serang, Banten, beberapa waktu lalu. Rencana penerapan skema baru pengadaan beras dinilai dapat mempermudah Bulog dalam melakukan penyerapan beras di tingkat petani karena dapat mematok harga yang sekiranya dapat memuaskan baik pihak petani maupun Bulog.
A   A   A   Pengaturan Font

Jakarta – Rencana penerapan skema baru pengadaan beras dengan tidak mempertimbangkan harga acuan dinilai sebagai langkah positif untuk memperbaiki kinerja industri beras. Skema baru tersebut diyakini bakal menguntungkan Bulog dan Petani.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengatakan penerapan skema pengadaan beras yang baru dapat mempermudah Bulog dalam melakukan penyerapan beras di tingkat petani karena dapat mematok harga yang sekiranya dapat memuaskan baik pihak petani maupun Bulog.

Selain itu, ujar dia, penerapan HPP (Harga Pokok Penjualan), yang selama ini dinilai melindungi petani dari anjloknya harga, tidak serta merta meningkatkan kualitas dari gabah yang dihasilkan.

“Riset CIPS juga menemukan bahwa selama 2007-2015, rata-rata harga GKP (Gabah Kering Panen) di pasaran mencapai 20,87 persen lebih tinggi dari harga yang dipatok oleh HPP,” katanya di Jakarta, Kamis.

Karena itu, dia menyatakan bahwa hal tersebut dapat diambil penggambaran bahwa sebenarnya HPP tidak terlalu berpengaruh dalam tata niaga perberasan nasional.

Dia juga menyoroti kebijakan lain seperti Harga Eceran Tertinggi (HET) yang dinilai menekan pedagang pasar dalam mematok penjualan harga beras untuk melindungi konsumen.

“Kalau pelaku usaha dipaksa untuk mengikuti harga HET dengan menekan margin, maka yang akan terjadi adalah tidak ada pelaku pasar yang akan menjual beras domestik. Hal ini akan berdampak pada berhenti berproduksinya petani gabah,” paparnya.

Tingkatkan Produktivitas

Sedangkan dampak selanjutnya, ujar Ilman, adalah bukan tidak mungkin penggilingan menengah juga akan berhenti berproduksi. Permasalahan seperti itu, lanjutnya, yang dinilai ke depannya berpotensi akan merusak perdagangan beras yang ada di Tanah Air.

“Langkah yang perlu dipastikan saat ini bukan fokus pada penyerapan dan penetapan HET lagi, tetapi bagaimana membantu petani meningkatkan produktivitas ditengah kondisi cuaca yang tidak mendukung sehingga memastikan bahwa jumlah produksi domestik dapat meningkat dengan kualitas yang dapat bersaing di pasar,” ucapnya.

Menurut dia, kebijakan ini justru memicu adanya pasar gelap dan meningkatkan risiko kelangkaan beras. Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa pemerintah justru menyebut panjangnya rantai distribusi adalah penyebab tingginya harga beras di Indonesia.

“Kalau begitu pemerintah harus bisa menyederhanakan rantai distribusi yang panjang dulu sebelum menerapkan HET,” ujarnya.  Ant/E-10

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment