Sistem Pendidikan Harus Terus Tanamkan Norma Sosial dalam Bertingkah Laku | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 19 2020
No Comments
Guru Besar Kriminologi, Universitas Indonesia, Muhammad Mustofa, tentang Kejahatan Siber di Tengah Pandemi

Sistem Pendidikan Harus Terus Tanamkan Norma Sosial dalam Bertingkah Laku

Sistem Pendidikan Harus Terus Tanamkan Norma Sosial dalam Bertingkah Laku

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Pandemi Covid-19 telah mengubah gaya hidup warga dunia, termasuk Indonesia. Peringatan WHO yang mengatakan ahwa virus itu bisa menyebar lewat udara, mengharuskan kita beraktivitas dengan kebiasaan baru.

 

Pertemuan tatap muka di­kurangi, diganti pertemuan virtual dengan bantuan teknologi. Tapi belum se­lesai menghadapi pandemi ini, kita juga dihadapkan dengan masalah baru yakni kejahatan siber.

Untuk mengupas masalah ini, Koran Jakarta telah merangkum jawaban dari Guru Besar Krimi­nologi ,FISIP, Universitas Indonesia, Mustofa. Pernyataan Mustofa itu dis­ampaikan dalam webinar bertema Kejahatan Siber di Masa Covid-19 dan Penanganannya yang digelar Masyarakat Hukum Pidana dan Kriminologi Indonesia, Senin (10/8).

Bagaimana Anda melihat keja­hatan siber yang terjadi pada saat pandemi Covid-19?

Saya akan menjelaskan ini secara makro sosiologis. Pertama kali, yang perlu kita pahami adalah ini men­gacu kepada banyak sosiologi posi­tivisme, yang mengatakan bahwa perubahan sosial yang cepat akan berdampak pada banyaknya ang­gota masyarakat yang kebingungan dalam memilih di dalam mencari acuan norma bertingkah laku. Dan dia (Durkheim-Sosiologis) menye­butnya sebagai keadaan anomie.

Tema ini (Kejahatan Siber dan Covid-19) adalah dua hal yang berhubungan dengan perubahan sosial. Pertama, perkembangan teknologi siber telah berdampak dalam perubahan sosial yang besar, khususnya dalam cara orang ber­interaksi sosial.

Dan pandemi Covid-19, juga ber­dampak berdampak pada peruba­han sosial yang besar dan dalam cara orang berinteraksi sosial. Dua keadaan yang sedang kita hadapi sekarang ini, saya sebut sebagai anomie berganda. Jadi tingkat keseriusannya berlipat ganda.

Bantuan teknologi juga dapat menjadi permasalah di dalam masa pandemik Covid-19?

Perkembangan teknologi siber, kalau kita lihat terlebih dahulu, telah menyebabkan manusia bisa bekerja secara efisien, tanpa dihalan­gi oleh waktu dan tempat.

Namun, seiring dengan penerapan teknologi siber dalam setiap dimensi kehidupan manu­sia, ternyata diikuti juga dengan penyalahgunaan teknologi siber untuk tujuan kejahatan, dan ini adalah musibah. Pandemi Covid-19 lebih besar musibahnya, ada juga berkahnya, tapi sedikit. Dan bila cyber crime terjadi bersa­maan dengan pan­demi Covid-19, ini adalah musibah ber­ganda.

Bagaima­na jalan keluarnya?

Cara mengatasi masalah cyber crime dalam era pandemi Covid-19 harus disesuai­kan dengan akar masalahnya. Pertama, tidak kalah pentingnya dan harus diingat, menjadi kegiatan yang rutin bukan proyek, melaku­kan literasi nilai norma sosial secara komperhensif, baik yang bersifat luring maupun daring.

Karena perubahan sosial yang tidak berhubungan dengan cyber crime, itu menyebabkan anomie ketika orang kemudian membuat orang kehilangan norma bertingkah laku. Ini harus disadari, masyarakat akan selalu berubah, sistem pendidikan harus secara sadar menanamkan nilai norma sosial dalam bertingkah laku.

Agen-agen pengendalian sosial yang penting, yang pertama adalah orang tua. Tapi banyak orang yang tidak punya kapasitas untuk men­jadi agen pengendalian sosial. Ke­mudian sekolah, guru juga banyak yang tidak mempunyai kapasitas dan kompetensi.

Sehingga, negara harus secara aktif proaktif memberdayakan, me­nyosialisasikan literasi norma sosial baik dilakukan secara di luar jar­ingan maupun di dalam jaringan, melalui berbagai macam. Program di tv daripada menonton sinetron rebutan waris, pembunuhan, pertempuran, lebih baik membuat sinetron bagaimana berinteraksi sosial seusai dengan norma sosial ketika secara luring maupun daring. Dan ini harus dilakukan.

Kedua, literasi manfaat dan bahaya teknologi siber secara komperhensif dan terus menerus. Ketiga, melakukan fasilitasi kepada warga masyarakat untuk dapat mengakses teknologinya siber dalam masa pandemi Covid-19. Keempat, perlu mengintensifkan cyber patrol. Kelima, hanya kalau terpaksa saja, baru dilakukan penegakan hukum dalam rangka penghukuman. n yolanda permata putri syahtanjung/P-4

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment