Koran Jakarta | July 18 2019
No Comments

Siska Berpetualang Menyebarkan “Racun” Antisampah

Siska Berpetualang Menyebarkan “Racun” Antisampah

Foto : istimewa
tanpa sisakan sampa - Siska Nirmala mendaki gunung tanpa menyisakan sampah, baru-baru ini. Siska melakukan pendakian zero waste adventure ke lima gunung, yaitu Gede, Papandayan, Tambora, Lawu, dan Argopuro dimulai pada 2013 hingga 2015.
A   A   A   Pengaturan Font

Gunung Rinjani itu pemandangannya sangat indah, tetapi sayangnya di sana banyak sampah. Sampah juga mengganggu kenyamanan para pendaki yang menapaki menuju Gunung Semeru. Sampah bertebaran di mana-mana di banyak tempat saat mendaki Gunung Semeru.

Itulah kesan dirasakan Siska Nirmala ketika mendaki Gunung Rinjani dan Semeru. Pengalaman pendakian atas banyaknya sampah saat mendaki Gunung Rinjani pada tahun 2011 dan setahun kemudian mendaki Gunung Semeru sungguh membekas di hati Siska. Pengalaman tersebut memotivasi Siska untuk melakukan pendakian tanpa menghasilkan sampah.

Menurut perempuan kelahiran 1987 itu, meski pendaki membawa turun sampahnya, tetap saja sampah seperti botol plastik akan sulit terurai. Untuk itu, dia berusaha memulai pendakian nol sampah. Siska bertekad untuk mengubah gaya hidupnya untuk tidak memproduksi sampah sama sekali.

Berbekal pengetahuan yang didapat saat pelatihan Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) di Bandung pada 2010, Siska memulai hidup tanpa sampah. “Kalau aku mau pendakian tanpa sampah, aku harus mulai dari diri sendiri. Sejak 2013, aku mulai mengurangi sampah di rumah. Hal yang pertama aku lakukan adalah tidak meminum air dalam kemasan,” kata dia.

Tak mudah memang untuk sama sekali tidak mengonsumsi air dalam kemasan, kadang-kadang dia juga sering tergoda untuk membeli minuman kesukaannya. Namun setelah berusaha selama setahun, Siska berhasil. Agar tidak minum air mineral dalam kemasan, dia membawa botol minum ke mana saja. Jika sedang ingin menikmati minuman segar, dia memilih minum jus di tempat. Dia meminta kepada penjual agar menyajikan jus di gelas tanpa sedotan.

Hal yang kedua dilakukannya adalah tidak menerima plastik kresek saat berbelanja. Menurut dia, mengurangi kantong kresek tidak sesulit tidak mengonsumsi air dalam kemasan. “Setelah setengah tahun mencoba mengurangi minum air dalam kemasan, aku baru mengurangi kresek,” kata Siska.

Jauh Lebih Sehat

Dia juga menahan diri untuk tidak ke mini market agar tidak tergoda membeli makanan ringan yang kebanyakan dibungkus dengan plastik.

Motivasinya untuk tidak “nyampah” ternyata telah mengubah pola hidupnya lebih sehat. Dia tidak lagi mengonsumsi makanan ringan dan mulai banyak makan sayur-mayur yang dibelinya di pasar tradisional. Efeknya, makanan yang dikonsumsi jauh lebih sehat dan irit karena dia selalu masak sendiri, sampah makanannya pun dia kompos menggunakan keranjang takakura.

Menolak kantung plastik saat berbelanja di pasar tak semudah menolak kantung plastik saat berlanja di swalayan karena budaya penjual di pasar sangat “murah” memberi kantung plastik.

“Di pasar itu nolak kreseknya susah, mereka gampang banget ngasi kresek. Terus kalau aku mau masukin belanjaan kantung kain, mereka bilang ‘jangan nanti kotor’, atau mereka bilang ‘plastik murah atuh neng’. Akhirnya ya udah, daripada ribet menjelaskan tentang sampah, akhirnya aku bawa kantong plastik yang udah dipakai,” kata dia.

Sambil berupaya mengurangi sampah di rumah, di sela-sela kesibukannya bekerja sebagai wartawan, Siska juga melakukan pendakian nol sampah yang diberi nama zero waste adventure. Petualangan tanpa sampah itu dilakukan di lima gunung, yaitu Gede (Jawa Barat), Papandayan (Jawa Barat), Tambora (NTB), Lawu (perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur), dan Argopuro (Jawa Timur) yang dimulai pada 2013 hingga 2015.

Gunung Gede dipilih untuk didaki pertama kali karena hanya dibutuhkan dua hari untuk mendaki gunung tersebut sehingga dia tak perlu membawa banyak perbekalan. Ternyata, menerapkan pendakian tanpa sampah tidak sulit. Jika orang terbiasa untuk membawa mi instan sebagai perbekalan, Siska membawa beras serta sayur-sayuran untuk disop.

Siska membawa teh bubuk yang disimpan di dalam wadah. Dia pun mengompos sisa makanan dengan cara dikubur. “Kami membawa sayur, beras, bahkan bawa melon. Memang membawa perbekalan itu berat sih, tapi itulah risiko mendaki,” kata dia.

Setelah percobaan di Gunung Gede berhasil, dia melanjutkan petualangannya ke gunung yang lain. “Yang paling seru di Argopuro karena jalurnya terpanjang di Indonesia, memakan waktu lima hari untuk pendakian. Aku sengaja pilih ke sana mau nyobain bisa enggak ya mendaki tanpa sampah, ternyata sama aja sih,” kata Siska.

Menurut dia, yang terpenting dalam melakukan pendakian tanpa sampah adalah manajemen perbekalan. Pendaki harus menghitung hari dan perkiraan bekal yang dibutuhkan selama dalam perjalanan dan mengetahui tempat mata air. tgh/Ant/N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment