Koran Jakarta | November 12 2019
No Comments
Skandal 1MDB

Siprus Tarik Pemberian Kewarganegaraan untuk Jho Low

Siprus Tarik Pemberian Kewarganegaraan untuk Jho Low

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

NICOSIA – Pemerintah Siprus pada Rabu (6/11) menyatakan akan menarik pemberian kewarganega­raan khusus bagi 26 orang termasuk pebisnis Malaysia yang tersandung kasus megaskandal korupsi di insti­tusi keuangan BUMN 1Malaysia Development Berhad (1MDB), Jho Low alias Low Taek Jho.

Langkah pencabutan kewarganegaraan khusus itu setelah ada keluhan penyalahgunaan skema pemberi­an “paspor emas” oleh Siprus bagi investor asing kaya. Pengumuman dari Nicosia itu datang setelah bebe­rapa hari lalu terungkap bahwa pada 2015, Siprus telah memberikan sebiah paspor pada Jho Low.

“Jho Low merupakan salah satu dari 26 orang yang kehilangan kewarganegaraan khusus itu,” kata Men­teri Dalam Negeri Siprus, Constantinos Petrides, da­lam sebuah taklimat pada Rabu. “Terdapat kesalahan karena tak mencantumkan kriteria dalam skema ini se­perti larangan pengajuan bagi seseorang dengan risiko bahaya tinggi,” imbuh dia.

Menurut keterangan seorang pejabat Siprus, se­lain Jho Low, 25 orang lainnya yang akan dicabut ke­warganegaraan khusus itu berasal dari Russia, Kam­boja, Tiongkok, Kenya, dan Iran.

Bagi Siprus, kasus yang menjerat Jho Low amat me­malukan apalagi saat buronan kasus 1MDB itu diberi­kan paspor selang beberapa bulan setelah ada laporan tuntutan hukum serius terhadapnya muncul di media massa.

Sementara itu pihak kepolisian Malaysia pada Rabu mengatakan bahwa Jho Low telah berupaya mem­beli sejumlah properti dengan nama samaran. Bebe­rapa hari lalu, Jho Low membuat kesepakatan dengan pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk penyitaan aset-asetnya senilai 700 juta dollar AS yang ada di AS sebagai kompensasi agar kasus penuntutannya tak lagi dilanjutkan.

Urung Mundur

Pada saat bersamaan, Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, dalam sesi wawancara dengan Financial Times menyatakan tak berencana untuk mengundurkan diri dari jabatannya pada 2020. Dalam penjelasannya, PM Mahathir, 94 tahun, mengatakan ia berpikir ulang untuk mundur karena masih adanya permasalahan di Malaysia yang salah satunya adalah belum rampungnya kasus 1MDB.

“Masalah-masalah lain yang belum terselesaikan diantaranya adalah pemulihan uang miliaran dollar AS yang hilang dalam skandal 1MDB, serta kompen­sasi senilai 7,5 miliar dollar AS yang dituntut Malaysia dari Goldman Sachs,” tulis Financial Times.

Pernyataan PM Mahathir bertentangan dengan janji yang ia sampaikan pada Anwar Ibrahim beberapa waktu lalu yang menyatakan bahwa ia akan melakukan suksesi kepemimpinan pada 2020.

“Sebelumnya saya telah membuat banyak kesala­han dalam menunjuk penerus saya, jadi saya tidak in­gin membuat kesalahan lagi kali ini,” kata PM Mahathir merujuk pada Najib Razak yang menggantikanya pada periode kepemimpinan sebelumnya.

Menyikapi pernyataan Mahathir, Anwar Ibrahim mengatakan bahwa tak ada batas waktu kapan proses suksesi itu akan terjadi. “Mahathir mungkin menjadi pemimpin terbaik saat ini,” pungkas Anwar Ibrahim. ang/AFP/FT/I-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment