Koran Jakarta | April 26 2019
No Comments

Singapura Tangani Krisis Pangan Melalui Pertanian di Atap Mal

Singapura Tangani Krisis Pangan Melalui Pertanian di Atap Mal

Foto : ROBIN CHOO
PERTANIAN KOTA l Pendiri Comcrop, Allan Lim (kanan), berfoto bersama para petani Comcrop di lahan pertanian kota yang berada di sebuah atap mal di Orchard Road, Singapura. Sistem lahan pertanian kota ini dibuat dengan tujuan yaitu untuk membantu meningkatkan keamanan pangan di perkotaan.
A   A   A   Pengaturan Font

Pengunjung di Jalan Orchard, Singapura, jalan yang menjadi pusat belanja utama di kota tersebut, saat ini bisa menyaksikan mal-mal cantik, pertokoan bergaya, tempat jajanan yang melimpah-ruah, dan sepetak kecil lahan pertanian.

Comcrop, yang menempati lahan seluas 600 meter persegi di atas atap salah satu mal, menggunakan rak-rak vertikal untuk menumbuhkan tanaman hidroponik, sejumlah dedaunan dan herbal seperti basil, daun mint yang dijual di sejumlah bar, rumah makan dan toko-toko di sekitarnya.

Bidang kecil pertanian itu memiliki ambisi besar yaitu untuk membantu meningkatkan keamanan pangan bagi kota tersebut. Salah satu pendiri Comcrop, Allan Lim, yang mengubah atap menjadi ladang sejak lima tahun yang lalu, belum lama ini membuka sebuah rumah kaca seluas 4.000 meter persegi di pinggiran kota. Dia yakin bahwa pertanian urban dengan teknologi tinggi adalah cara bertani bagi kota tersebut, yang kebanyakan lahannya tidak dapat ditanami, untuk masa mendatang.

“Pertanian tidak dipandang sebagai sektor penting di Singapura. Kami mengimpor sebagian besar pangan, sehingga kami sangat rentan apabila mendadak ada gangguan pasokan,” kata Lim. “Tanah, sumber daya alam, dan buruh dengan upah rendah adalah cara penting bagi negara-negara yang mengutamakan keamanan pangan, tetapi kita dapat memanfaatkan teknologi untuk mengatasi kekurangannya,” imbuh dia.

Singapura tahun lalu menduduki posisi atas pada indeks keamanan pangan global Economist Intelligent Units (EIU) dari 113 negara untuk pertama kalinya, dengan mencapai nilai tinggi pada langkah-langkah terhadap daya jangkau, ketersediaan dan keamanan pangan.

Saat ini sebagai negara yang mengimpor 90 persen pangannya, keamanan pangan di Singapura rentan terhadap perubahan iklim, dan resiko alam dan dengan perkiraan jumlah penduduk yang akan tumbuh menjadi 6,9 juta hingga 2030, tanah sangat berharga di Singapura.

Negara tersebut sudah lama melakukan reklamasi pantai dan berencana memindahkan lebih lanjut jalur perhubungan, peralatan dan gudang ke bawah tanah untuk memberi lahan yang lebih terbuka bagi perumahan, perkantoran dan ruang hijau. Singapura juga sudah membebaskan lahan kuburan untuk membangun perumahan dan jalan raya.

“Pertanian hanya menempati satu persen dari seluruh lahan, sehingga pemanfaatan ruang yang lebih baik menjadi penting,” kata Samina Raja, guru besar perencanaan urban dan regional di Universitas Buffalo di New York, Amerika Serikat (AS). “Pertanian perkotaan meningkat karena dipandang sebagai pemanfaatan lahan yang sah di kota,” tambahnya.

Dikatakan Samina terjadinya peningkatan pertanian di perkotaan memberi banyak keuntungan, mulai dari meningkatkan keamanan pangan dan meningkatkan nutrisi pada ruang hijau, tetapi masalah pangan jarang menjadi bagian dari rencana pertanian kota.

Sistem Pertanian Kota

Banyak negara menghadapi perang melawan dampak buruk perubahan iklim, kelangkaan air dan pertumbuhan penduduk untuk menemukan cara yang lebih baik dalam menyediakan pangan bagi rakyatnya.

Para ilmuwan bekerja melakukan sejumlah temuan baru untuk perbaikan sifat panen dan menumbuhkan daging di laboratorium, hingga penggunaan robot dan pesawat nirawak (drone) untuk secara mendasar mengubah cara menumbuhkan tanaman, mendistribusi, dan menyantapnya.

“Dengan lebih dari dua per tiga penduduk dunia yang terpaksa bermukim di kota-kota pada 2050, maka pertanian kota akan menjadi amat penting,” demikian laporan kajian yang dipublikasikan tahun lalu. “Pertanian perkotaan dewasa ini memproduksi paling banyak 180 juta metriks ton pangan dalam setahun, hampir 10 persen dari produksi biji-bijian dan sayuran dunia,” imbuh laporan itu.

Keuntungan lainnya adalah mengurangi dampak pemanasan kota, mengurangi hilangnya air, memberikan nitrogen dan penyimpanan energi yang dilaporkan bernilai 160 miliar dollar per tahun. Negara-negara seperti Tiongkok, India, Brasil, dan Indonesia, akan mendapat keuntungan penting dari sistem pertanian kota.

“Pertanian perkotaan tidak seharusnya diharapkan untuk menghapuskan ketidakamanan pangan, tetapi bukan menjadi satu-satunya ukuran,” kata Matei Georgescu, guru besar pada Universitas Negeri Arizona, AS. “Cara tersebut dapat membangun keakraban sosial di antara penduduk, meningkatkan prospek ekonomi bagi pelaku dan keuntungan nutrisi, dan sebagai tambahan, kota yang hijau akan membantu perpindahan dari hutan beton,” tambah dia.

Singapura pernah menjadi penghasil ekonomi agraria dengan menghasilkan hampir seluruh pangannya, pernah ada peternakan babi dan kebun durian di Orchard, kebun sayur dan ternak ayam di kampung-kampungnya. “Namun pertumbuhan ekonomi yang dipaksa pesat setelah merdeka pada 1965, industrialisasi mengambil keuntungan lebih tinggi dan kebanyakan pertanian lenyap,” kata Kenny Eng, ketua Asosiasi Perdesaan Kranji, yang mewakili para petani setempat.

“Krisis pangan dunia pada 2007-2008, saat harga-harga yang melambung dan menyebabkan gangguan ekonomi dan ketidakpastian sosial, mungkin membuat pemerintah memikirkan ulang strategi keamanan pangan dan perlindungan dari kejutan seperti itu,” pungkas Eng. Ant/I-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment