Sinergi dan Kolaborasi “Triple Helix” Kunci Kesuksesan Inovasi | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 19 2020
No Comments
Menteri Riset dan Teknologi, Bambang Brodjonegoro, tentang Peran Perguruan Tinggi dalam Berinovasi

Sinergi dan Kolaborasi “Triple Helix” Kunci Kesuksesan Inovasi

Sinergi dan Kolaborasi “Triple Helix” Kunci Kesuksesan Inovasi

Foto : ANTARA/IKHWAN WAHYUDI
A   A   A   Pengaturan Font
Kita tidak boleh bergantung pada sumber daya alam sebagai basis ekonomi. Dengan target empat besar negara dengan ekonomi tertinggi pada 2045, Indonesia mesti berbenah.

 

Pola ekonomi yang semula berbasis sumber daya alam atau sebagian efisiensi melalui manufaktur, harus bertransformasi menjadi ekonomi berbasis inovasi dengan dukungan teknologi.

Untuk itu, ketersediaan sumber daya manusia (SDM), salah satunya melalui lulusan perguruan tinggi, harus diperhatikan sehingga pe­manfaatan teknologi bisa memberi­kan hasil lebih produktif.

Untuk mengupas hal tersebut, Koran Jakarta mewawancarai Men­teri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi, Bambang Brodjonegoro. Berikut petikan wawancaranya.

Bisa digambarkan secara singkat kenapa Indonesia harus melakukan transformasi ekonomi?

Kalau dilihat, di Indonesia sendiri orang terkaya di Indonesia ma­sih menguasai sumber daya alam. Sedangkan di luar negeri bahkan di dunia, orang-orang terkaya adalah mereka yang menguasai teknologi. Dari situ sudah terlihat betapa pentingnya Indonesia harus menerapkan ekonomi berbasis inovasi.

Jadi, Indonesia harus mengikuti, meski tidak sepenuhnya meniru. Seperti Korea Selatan dengan elektronik dan Jepang dengan otomotif. Kalau memang tidak bisa meniru, harus dengan teknologi baru. Salah satunya me­manfaatkan teknologi digital.

Syarat apa yang dibutuhkan agar Indonesia menerapkan ekonomi berbasis inovasi?

Yang harus dikedepankan adalah mengimple­mentasikan triple helix atau kolaborasi tiga pihak, yakni pemerintah, peneliti atau perguruan tinggi, dan industri secara mulus. Itu jadi kunci dan resep negara-negara maju. Sebenarnya, Indonesia sudah punya elemen-elemennya. Hanya hubungan atau kolaborasi antara ketiganya belum optimal.

Bagaimana bentuk ideal dari triple helix ini?

Kehadiran industri sangat penting untuk mem­beri gambaran kepada para mahasiswa agar mereka memiliki bekal yang cukup. Industri juga tidak perlu repot melakukan rekrut­men sebab sudah ada SDM yang siap. Hubungan ini juga berlaku untuk pem­buatan produk-produk inovasi.

Sedangkan pemerintah sebagai regulator harus mempertemukan keduanya. Selain itu juga menerap­kan standar dan memberi insen­tif. Salah satunya melalui super tax deduction atau pengurangan pajak bagi industri yang investasi di pendidikan maupun riset dan pengembangan.

Bagaimana Anda melihat kesiapan perguruan tinggi dalam pengembangan Ilmu Pengeta­huan dan Teknologi?

Perguruan tinggi sangat diharap­kan perannya oleh masyarakat, terutama masyarakat di sekitar perguruan tinggi tersebut. Masyara­kat juga berkeinginan menikmati inovasinya.

Kesiapan fasilitasnya seperti apa?

Kita harapkan juga perguruan tinggi menyediakan infrastruktur ipteknya. Infrastruktur memang kunci kemajuan iptek. Pemerintah bisa mendukung infrastrukturnya sehingga hasilnya semakin banyak dan canggih.

Terkait kerja sama perguruan tinggi dengan industri, apa sebenarnya tantangan dan solusi yang bisa dilakukan?

Kerja sama penelitian Perguruan Tinggi dan Industri harus semakin kuat. Tapi kondisinya industri yang biasa terlibat biasanya sebagai CSR. Idealnya kalau ingin negara berbasis inovasi kerja sama peneli­tian be to be.

Sebab kita ingin industri mendapat manfaat dari Pergu­ruan Tinggi dan Perguruan Tinggi memberi kontribusi dalam bentuk riset dan produk inovasi. Kalau su­dah berjalan dan produksi massal sudah terjadi, itulah ciri-ciri negara yang sudah mengedepankan inovasi. n m aden ma’ruf/P-4

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment