Koran Jakarta | November 22 2017
No Comments
Suara Daerah

Sidoarjo Bertekad Menjadi Kabupaten Terbaik

Sidoarjo Bertekad Menjadi Kabupaten Terbaik

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Kabupaten Sidoarjo bertekad menjadi ka­bupaten terbaik, tidak hanya di Jawa Timur (Jatim), tapi juga tingkat nasional. Ber­bagai inovasi diciptakan untuk mempermudah layanan kepada masyarakat. Masyarakat bisa ce­pat mengakses sehingga layan­an lebih efesien dan efektif.

Apresiasi berupa sederet penghargaan diraih Kabupaten Sidoarjo dari berbagai lembaga, baik swasta maupun pemerin­tah. Sidoarjo bertekad menjadi role model bagi daerah lain. Untuk mewujudkan semua ini membutuhkan kerja keras dari para aparatur di Sidoarjo.

Untuk mengetahui apa saja langkah, program, dan inovasi yang telah dilakukan di daerah ini, wartawan Koran Jakarta, Agus Supriyatna, berkesempat­an mewawancarai Bupati Sidoarjo, Saiful Ilah, di Sidoarjo, beberapa waktu lalu. Berikut petikan selengkapnya.

Sidoarjo melesat jadi ka­bupaten yang penuh inovasi. Pendapatan pun meningkat. Berapa sekarang Penghasilan Asli Daerah (PAD) Sidoarjo?

Sebelum saya menjabat sebagai bupati, PAD hanya di kisaran 250 miliar rupiah. Seka­rang alhamdulillah, sudah naik sampai 1,3 triliun rupiah.

Teknologi informasi jadi andalan Sidoarjo. Boleh di­sebutkan salah satu inovasi yang berbasis teknologi infor­masi tersebut?

Kami punya yang namanya BMW. Itu singkatan dari berkas mlaku dewe. Kalau bahasa Indonesianya, dokumen jalan sendiri. Ini aplikasi yang me­manfaatkan teknologi informasi. Dengan aplikasi BMW memu­dahkan pelayanan yang terin­tegrasi dengan desa-desa, misal mengintegrasikan layanan di 19 desa di Kecamatan Sukodono.

Manfaatnya bagi warga se­perti apa?

Dengan layanan ini, warga yang membutuhkan layanan tak perlu datang ke kantor keca­matan. Layanannya 100 persen bersifat online.

Inovasi lainnya apa?

Kami punya inovasi M-Bonk. Ini aplikasi yang dapat diman­faatkan oleh warga, misalnya, untuk melaporkan adanya jalan rusak. Sehing­ga laporan bisa cepat ditindaklan­juti. Di bidang kesehatan, di RSUD Sido­ar­jo, kami mengembangkan inovasi bernama Si Manies. Kami punya zero trash atau nol sampah. Kami membentuk polisi sampah. Mereka bekerja bersama masyarakat.

Sidoarjo banyak menerima penghargaan, apa saja itu?

Ya, kami banyak diapre­siasi. Salah satu penghargaan yang membanggakan adalah penghargaan Samkarya Paras­amya Purnakarya Nugraha. Ini penghargaan bagi daerah yang dianggap berhasil dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah pada pelaksanaan pem­bangunan lima tahun terakhir.

Kami memang banyak menciptakan inovasi sebagai bagian dari terobosan kami dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Misalnya, inovasi pada Dinas Penanam­an Modal dan pelayanan satu pintu. Inovasinya meliputi smart card, sistem pela­yanan terpadu (Sippadu), tanda tangan dan stempel elektronik (Sittek). Yang ini jadi role model KPK untuk kantor perizinan kabupaten atau kota se-Indonesia.

Adakah inovasi di bidang kesehatan?

Kalau bidang kesehatan kami pu­nya layanan atau inovasi, seperti posbindu penya­kit tidak menular di kantor peme­rintahan, sekolah-sekolah, dan lain-lain. Kami punya program desa bebas rokok, jari emas, re­kam medis (Remiks), pelayanan konseling orang dengan HIV/AIDS di puskesmas. Pelayanan home care dan Si Manies juga aplikasi Santri (SMS Antrian) di RSUD.

Inovasi di bidang ekonomi apa?

Untuk sektor pajak, kami punya inovasi pelayanan pajak, yaitu surat pemberitahuan pajak daerah secara elektronik (e-SPTD). Kami punya ino­vasi peningkatan kompetensi pegawai yang meliputi sistem penilaian prestasi kerja PNS (e-SKP) dan inovasi kenaikan pangkat online. Inovasi lain, paperless Sipekat atau sistem pengelolaan kenaikan pangkat yang kami terapkan di Badan Kepegawaian Daerah.

Intinya, kami ingin memper­mudah pelayanannya. Misalnya untuk mempermudah pela­yanan pengujian kendaraan bermotor, kami punya inovasi pelayanan uji kir drive thru dan uji kir jemput bola di Dinas Per­hubungan. Untuk bidang pen­didikan, kami punya pelayanan dasar bidang pendidikan yang meliputi Siedex atau Sidoarjo education expo. Di Dinas Ke­pendudukan dan Catatan Sipil dan Dinas Kesehatan, kami pu­nya inovasi bernama Alamak.

Alamak, inovasi apa itu?

Ini inovasi untuk mem­permudah masyarakat dalam mengurus akte kelahiran dan kartu keluarga. Ibu yang baru melahirkan langsung mendapat akte kelahiran bayinya. Di saat itu juga, orang tua bayi langsung mendapatkan kartu keluarga baru yang mencantumkan nama bayi.

Pelayanan ini, semuanya gratis. Ini bentuk komitmen kami, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk memberikan pelayanan terbaik kepada ma­syarakat, terutama di bidang kependudukan dan catatan sipil. Biasanya kan mengurus akte itu butuh waktu 14 hari, ini langsung dapat.

Dalam bidang investasi ba­gaimana?

Iklim investasi yang kondusif kan terkait erat dengan proses perizinan usaha. Yang jadi an­dalan kami dalam menggaet investor adalah kemudahan perizinan. Itu senjata utama kami dalam memenangkan persaingan dengan daerah lain. Aneka perizinan bisa diselesai­kan dengan waktu yang singkat. Tidak bertele-tele. Ini berkat adanya sistem pelayanan per­izinan terpadu (Sippadu). Ka­rena itu, tiap tahun, kami selalu dapat investment award.

Banyak investor yang memuji kemudahan layanan perizinan yang kami terapkan. Dengan banyaknya investor yang masuk, mendorong per­tumbuhan perekonomian di Sidoarjo. n N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment