Koran Jakarta | September 24 2019
No Comments
“SDM Unggul”

Siap Melibas Revolusi Industri 4.0

Siap Melibas Revolusi Industri 4.0

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Revolusi industri 4.0 tercipta berkat jaringan internet kecepatan tinggi, perangkat internet untuk segala (ioT). SDM di Indonesia harus bersiap menghadapi era ini.

Perusahaan konsultan manajemen multinasional, McKinsey, melakukan studi terhadap dampak terhadap perkembangan industri di masa mendatang. Hasilnya cukup membuat takjub publik global.

Menurut McKinsey, 800 juta pekerja di seluruh dunia akan kehilangan pekerjaannya karena diambil alih oleh robot dan mesin digital dalam 10-12 tahun ke depan. Bagaimana masyarakat Indonesia merespons kondisi itu?

Tentu saja harus disikapi positif. Siapkan Sumber Daya Manusia yang hebat. Apalagi, kajian lain dari McKinsey menyebutkan bahwa dampak Revolusi Industri 4.0 akan 3.000 kali lipat lebih besar dibandingkan revolusi industri yang terjadi pertama kali di abad ke 19 silam.

Ya, kini dunia sedang menyambut era baru yang fantastis. Sumber Daya Manusia (SDM) harus disiapkan secara tangguh. Eranya sudah “smart system” dan serba digital. Era Revolusi Industri 4.0.

Sejatinya, Revolusi Industri 4.0 adalah memacu manusia agar tetap produktif menghadapi tren digitalisasi. Bagaimana tanpa pengaruh manusia, robotik dapat bekerja lebih cepat dan tepat. Itulah yang sebenarnya yang menjadi tujuan industri 4.0.

Publik global sama-sama menghadapi tantangan ini, temasuk Indonesia. Kabar menggembirakanya, Indonesia termasuk yang paling siap menghadapi era ini.

Presiden Joko Widodo bahkan sangat optimistis, Revolusi Industri 4.0 akan memberiharapan baru secara ekonomi. Menurut Presiden Jokowi, peluang kerja justru akan lebih luas ketika Revolusi Industri 4.0 terjadi.

“Kita tentu harus optimistis dan siap menuju Revolusi Industri 4.0. Justru berdampak positif bagi peningkatan angkatan kerja. SDM kita siapkan dengan baik,” tutur Presiden, dalam suatu kesempatan.

Optimisme Presiden Jokowi direspons cepat pembantunya. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto meluncurkan program Making Indonesia 4. 0. Penerapan awal Industri 4.0, Indonesia akan berfokus pada lima sektor manufaktur, yaitu makanan dan minuman, industri tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, serta industri elektonik.

Menurut Menperin, Making Indonesia 4.0 memberikan arah yang jelas bagi pergerakan industri nasional di masa depan. Termasuk di dalamanya adalah fokus pada pengembangan lima sektor manufaktur yang akan menjadi percontohan serta menjalankan 10 inisiatif nasional dalam upaya memperkuat struktur perindustrian Indonesia.

Pendidikan Vokasi

Menurut pemerhati pendidikan dari Unindra, Mulyadi, Ke depan, menghadapi era digitalisasi dalam kerangka berkompetisi menghadapi revolusi industri 4.0, akan ada pekerjaan yang tidak ringan bagi pemangku kepentingan. Mulai pemerintah pusat, Pemda, swasta, dan terutama dunia pendidikan.

“Kita harus melakukan re-skilled demi menyiapkan angkatan kerja baru dengan kompetensi relevan dengan kebutuhan. SDM harus kuat. Dan itu dimulai dari dunia pendidikan yang didukung kebijakan pemerintah,” kata Mulyadi.

Menurut dia, di era internet of things ini, Miliaran manusia akan terhubung mobile device. Pergerakan dan pole pekerjaan manusia akan dipengaruhi oleh gadget yang punya kemampuan, kekuatan, dan kapasitas mengolah pengetahuan melalui internet. Skalanya juga akan bisa sangat tidak terbatas.

Artinya, saat ini manusia berada pada awal sebuah revolusi yang secara fundamental mengubah cara hidup, bekerja dan berhubungan satu sama lain. Perubahan itu sangat dramatis dan terjadi pada kecepatan eksponensial. Prof. Klaus Martin Schwab, teknisi dan ekonom Jerman, yang juga pendiri dan Executive Chairman World Economic Forum, menyebutnya sebagai revolusi industri 4.0.

Pemerhati pendidikan dari Unindra, Mulyadi, mengatakan bahwa revolusi industri 4.0 bisa menjadi tantangan sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Jika tak siap, lulusannya bisa “tak dipakai” lagi oleh perusahaan modern. “Perlu kesiapan dari kalangan industri dan dunia pendidikan menghadapi revolusi 4.0,” katanya.

Fenomena itu sudah terlihat di perusahaan global. Contoh saja, Google yang merilis kebijakan tidak lagi memerlukan ijazah pendidikan tinggi untuk proses perekrutan pegawainya. Hal ini diikuti Ernst & Young dan beberapa perusahaan lainnya. Bahkan, McDonald’s negeri Paman Sam pernah mengganti kasir pada ribuan gerainya dengan kios robot.

Ya, revolusi Industri 4.0 akan menggeser atau mentransformasikan sistem produksi, manajemen, administratif perusahaan, hingga tata kelola kelembagaan.

Ijazah akan digeser oleh hadirnya teknologi baru dalam data sains, kecerdasan buatan, robotik, cloud, cetak tiga dimensi, dan teknologi nano. “Sangat kompleks bagi dunia lapangan kerja dan pendidikan,” ucap Mulyadi.

“Perubahannya dramatis bahkan drastis,” kata Mulyadi. Hadirnya sistem transportasi online, e-toll card, dan layanan digital bank, menjadi penunjuk awal hadirnya revolusi digital 4.0. “Akan masif sumber saya manusia (SDM) yang rentan tersaingi oleh kemampuan otomasi robotik yang serba digital,” terangnya.

Lantas, apakah SDM tidak dibutuhkan lagi? “Mungkin saja tidak ekstrem,” tegas Mulyadi. SDM yang rawan tergeser robotik dan digital adalah yang pekerjaannya melibatkan kekuatan fisik seperti operator mesin. Lalu, pekerjaan berhubungan dengan mengumpulkan dan memproses data.

Nah, di sinilah dituntut kesiapan pemerintah merealisasikan peta jalan menghadapi revolusi industri 4.0 ini. Perlu diperbaiki lagi kurikulum di sekolah kujuruan dan pendidikan vokasi untuk menghadapi tantangan era revolusi industri 4.0.

Kehadiran revolusi industri 4.0 memang menghadirkan lini usaha baru, lapangan kerja baru, profesi baru yang tak terpikirkan sebelumnya. Namun pada saat yang sama ada pula lini usaha yang terancam, profesi dan lapangan kerja yang tergantikan oleh mesin kecerdasan buatan dan robot.

“Ada ancaman orang akan kehilangan pekerjaan. Tapi di sisi lain akan meningkatkan efisiensi. Sekolah dan pendidikan vokasi harus bersiap menghadapi era baru ini. Indonesia jangan jadi penonton saja,” katanya.

Intinya, SDM harus disiapkan, yang dimulai sejak dunia pendidikan tingkat sekolah kejuruan. Lalu. Pendidikan vokasi seperti apa yang tepat untuk menangkap perubahan mesti dirumuskan dengan tepat. Begitupun akses kapital terhadap usaha rintisan yang melakukan inovasi, mesti mendapat perhatian.

“Tapi, saya yakin pemerintah telah mencermati revolusi industri 4.0 ini secara saksama. Berjuta peluang ada di situ. Tapi harus juga bersiap menghadapi berjuta tantangannya,” kata Mulyadi.

Dia optimistis bahwa kualitas SDM milenial di Indonesia akan melibas dengan baik era Revolusi Industri 4.0 ini. Artinya, dari segi sumber daya manusia, SDM dan angkatan kerja yang tersedia akan mampu beradaptasi dengan teknologi di industri 4.0, sehingga tidak perlu dirisaukan. yun/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment