Koran Jakarta | April 19 2019
No Comments

Setelah Soeharto “Bertakhta” di Astana Giribangun

Setelah Soeharto “Bertakhta” di Astana Giribangun
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Soeharto

Penulis : Tim Tempo

Penerbit : Gramedia

Cetakan : Agustus 2018

Tebal : 269 + xiii halaman

ISBN : 978-602-424-994-6

Ibarat buku, Soeharto merupakan sosok pemimpin yang tak pernah selesai dibaca. Dia dipuja dan dicaci selama 32 tahun menguasai istana.

Kekuasaan yang digenggamnya sejak 1966 berakhir ketika reformasi bergulir pada 1998. Kejatuhannya diiringi perasaan lega sekaligus duka. Sekitar 20 ribu pelayat mengantar ke pemakaman Astana Giribangun, Jawa Tengah, 28 Januari 2008. Setelah lebih dari satu dekade “bertakhta” di Astana, para pemuji dan pencacinya masih terus beraksi.

The Smiling General naik ke puncak kekuasaan berbekal Supersemar. Banyak pihak berpendapat, dia mengembangkan gaya kepemimpinan sentralistis dan represif. Pembatasan partai peserta pemilu (hal 5), program Keluarga Berencana (hal 8), penembak misterius (hal 126), peristiwa Talangsari (hal 130), dan tragedi Tanjung Priok (hal134), sedikit contoh program dan kejadian yang membuatnya dicemooh.

Di sisi lain, Presiden kedua Indonesia itu juga memiliki konsep pembangunan jangka panjang. Dia mengendalikan inflasi dan menumbuhkan perekonomian. Soeharto berhasil membuat rakyat lebih sejahtera, walau ujung-ujungnya menampilkan citranya yang populis (hal 7). Kesuksesan inilah yang diingat masyarakat, sehingga timbul keinginan untuk bernostalgia dengan zaman swasembada beras.

Soeharto, menurut budayawan Kuntowijoyo, tipe manusia yang bertindak berdasarkan keyakinan (an act of faith), bukan akal (an act of reason). Karena itu, meski tindakan dan ucapannya mengejutkan banyak pihak, dia tak pernah ragu memutuskan sesuatu. “Saya bertindak atas keyakinan saya sendiri,” tegasnya.

Sikap seperti itu bisa jadi merupakan buah pengalaman karena sejak muda sudah menyepi ke kawasan Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Di situlah, dia mendapat keyakinan, jangan ragu untuk pasrah kepada Sang Kuwasa agar selalu dilindungi atau disembuhkan dari berbagai penyakit (hal 183).

Setelah itu, Soeharto menghadapi kondisi yang menyerempet bahaya mulai dari perang, operasi militer, pemberontakan, sampai pembajakan.

Kancah yang keras itu memberinya banyak kesempatan untuk menaikkan citra. Misalnya, pada Maret 1981, dia mengirim pasukan untuk membebaskan pesawat DC-9 Woyla. Pesawat Garuda itu dibajak di Bandara Don Muang, Thailand. Operasi pembebasan sukses. Pemerintah Indonesia mendapat pujian internasional.

Bapak Pembangunan itu juga mampu memperhatikan sesuatu secara detail seperti angka-angka berkaitan pertanian. Dia sering menunjukkan kebanggaan terhadap hasil pertanian dan kekayaan laut. Saat mancing bersama tujuh kawannya selama dua jam mendapat 224 ikan. Hampir separuhnya hasil pancingan Soeharto. “Entuk maneh. Entuk maneh,” begitu dia mendendangkan kalimat yang berarti dapat lagi, dapat lagi.

Sayangnya, kemegahan yang dibangunnya selama bertahun-tahun ternyata tidak cukup kuat menahan terjangan badai krisis tahun 1997–1998. Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terjun bebas, harga sembako meroket, dan pengangguran meningkat.

Akhirnya, Soeharto memang mundur pada 1998. Sepuluh tahun kemudian, dia pergi untuk selamanya. Namun, sejuta kenangan tentangnya tetap tersimpan seperti ketika bertelekan tongkat kayu berbincang dengan para petani (hal 223), memegang padi saat panen raya, dan ketika meresmikan peluncuran pesawat terbang N250. Dia pergi dengan meninggalkan banyak pelajaran baik untuk diteladani maupun dihindari. 

Diressensi Dedi Setiawan, Mahasiswa Magister Teknik Industri Telkom University, Bandung

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment