Koran Jakarta | December 16 2018
No Comments

Setelah Mars, Mana Lagi?

Setelah Mars, Mana Lagi?

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font
CATATAN ARSWENDO

 

Planet Mars, planet terdekat dengan Bumi, telah dijamah robot Insight, yang melakukan pendaratan dramatis. Insight, nama robot, yang dinamai retrorobot telah melayang di angkasa selama 6,5 bulan sebelum mendarat di Mars. Jarak yang ditempuh ratusan juta kilometer.

Ini perkiraan, karena sesungguhnya ja­rak antara Mars–Bumi bisa 57,6 juta ki­lometer, bisa juga 56,6 juta kilometer—sebagai jarak terdekat. Jarak terdekat ini hanya terjadi setelah sekian puluh tahun terakhir yang lalu, dan Juli lalu. Jasrak bendara di alam raya, serbarelatif jika dibandingkan jarak teta-, misalnya Jakarta–Solo.

Ini saja sudah membingungkan atau membanggakan dari segi kemajuan. Ba­gaimana mengatur perjalanan selama 6,5 bulan dengan kecepatan belasan ribu mil per jam, lalu ketika mendekati planet yang dituju bisa menurun men­jadi hanya 5 mil.

Semua itu sudah diper­hitungkan dengan munculnya parasut, mengubah kecepatan di detik ke sekian, sehingga tak terhempas di planet merah. Bagaimana mengakali atmosfer yang hanya 1 persen dari Bumi tipisnya, semuanya sedemikian kompleks, dan menit-menit kapan Insight mengirim laporan, berupa foto-foto, serta apa yang akan dikerjakan selama berada di sana selama 24 bulan. Itu sudah direncanakan jauuuuuh sebelumnya.

Setelah itu apa? Setelah itu planet mana lagi? Tata surya mana lagi yang akan dijelajahi?

Sebetulnya ini alasan saya menulis­kan robot Insight yang menakjubkan. Bagaimana bisa—dan nyatanya bisa dan mampu, mengembangkan proyek pekerjaan yang melibatkan ribuan orang, ratusan cendekiawan, dengan biaya 12 triliun.

Keberlanjutan ini saja sudah mengagumkan. Proyek angkasa luar, tidak hanya lahir dari spontani­tas, tidak bisa suka-suka begitu saja. Nyatanya setelah sekian lama diarahkan ke planet Mars, kini ada wahana yang bisa didaratkan, dan diharapkan bisa melakukan eksploitasi habis-habisan.

Kalau tidak berhasil dalam tu­juh menit terakhir yang dinilai paling kritis? Dan robot terhempas berke­ping? Akan diulang lagi, dan kemudian akan diteliti, dan dilanjut. Begitu seterusnya. Dan kita menyaksikan ke­mewahan berpikir, ke­unggulan bekerja sama, luruhnya egoisme pribadi, atau perusa­haan atau negara, untuk bisa bersama-sama.

Apakah tujuan misi nantinya agar kita pin­dah ke Mars? Mungkin banyak kemiripan dengan Bumi. Namun bukan itu doron­gan utamanya, melainkan ingin terus menuntaskan hal-hal yang selama ini masih menjadi tantangan, baik karena tantangan alam atau akal pikiran send­iri.

Yang kesemuanya dibongkar habis untuk diterjemahkan menjadi pengeta­huan bersama. Misalnya apakah benar di Mars dulunya pernah ada kehidu­pan? Bentuk kehidupan seperti apa? Atau kenapa dijuluki planet merah—rasnaya tak perlu satu pendekatan saja.

Saua sudah tepersona sampai menganga-nganga. Kadang dalam arti sebenarnya. Ketika bisa ke New York dan menaiki gedung tertinggi untuk melihat hujan di bawaqh pandangan mata, rasanya tak pernah habis pikir.

Bagaimana dulunya perancang gedung ini menyatukan semua kebutuhan listrik, air, sampah, orang-orang dalam, segala cuaca. Atau terheran-heran tan­pa tahu kapan berakhir ketika melihat, menyentuh dan berjalan di halaman candi megah Borobudur. Dan itu saya alami beberapa kali, setiap kali ke sana. Untuk keper­luan apapun, termasuk sekadar pengagum.

Juga kini diingatkan lagi akan kecanggihan, kesungguhan, kejli­metan yang tiada tara atas planet Mars. Betapa sesungguhnya manusia itu ketika mampu bekerja sama ddemi tujuan ber­sama, bisa luar biasa. Bisa melakukan hal-hal yang luar biasa. Bisa menghi­tung tepat jarak Bumi dengan semesta, misal­nya, dan melakoninya.

Demikian juga se­baliknya. Bahkan untuk membuat satu kesebelasan sepak bola saja tak bisa berprestasi kalau ingin menang sendiri, rakus di atas yang lain. Juga kalau misalnya dengan organisasi sepak bola.

Ah, sudahlah. Saya tak ingin mereduksi dengan membandingkan hal-hal seperti. Saya masih ingin mengagumi Insight, mengagumi orang-orangnya, mengagumi kebersamaan mereka dengan alam yang luas ini, dengan semesta raya dengan persaingan, tapi juga kedamaian.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment