Koran Jakarta | April 20 2019
No Comments

Serunya Wisata Mandiri ala Para Istri

Serunya Wisata Mandiri ala Para Istri

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Melalui komunitas, setiap anggota mudah mendapatkan informasi paket perjalanan wisata yang lebih detil ketimbang harus mencari melalui mesin google.

Traveling Bunda Ngebolang menjadi komunitas perjalanan wisata yang mengkhususkan diri untuk para perempuan. Dalam komunitas jalan-jalan ini, para peserta merasa lebih nyaman karena tidak bercampur baur dengan laki-laki, sehingga keluarga yang ditinggalkan tidak merasa was-was.

Perjalanan wisata yang memakan waktu beberapa hari, memang bisa membuat para pesertanya makin intim satu sama lain. Interaksi yang dinamis dengan diantara para peserta bahkan bisa membuat mereka lebih akrab. Dari yang sekadar menanyakan tempat duduk di kendaraan, bincang soal penginepan yang akan ditempati hingga tentang menu makanan. Obrolan-obrolan ini membuat mereka saling mengenal. Di antara perbincangan dalam perjalanan wisata itu, tentu ada yang bertema soal suami-suami yang kadang merasa was-was.

Namun, hal itu justru yang ingin dihindarkan komunitas yang berdiri pada 2016 ini. Komunitas yang anggotanya kebanyakan ibu-ibu ini ingin melakukan perjalanan wisata tanpa rasa khawatir suami.

Sebab, mayoritas para suami kerap merasa khawatir melepas istrinya melakukan perjalanan seorang diri tanpa pengawasannya. “Nggak boleh pergi (perjalanan wisata) sama suami dikhawatirkan selingkuh, mulai bercanda lalu ada interaksi, di khwatirkan ada rasa itu,” ujar Tiah, pendiri komunitas Traveling Bunda Ngebolang tentang alasan berdirinyakomunitas, yang ditemui di salah satu pusat perbelanjaan Jakarta Selatan, Selasa (15/1).

Bahkan untuk foto bersama, ada kelompok perjalanan yang sangat hati-hati dalam pengambilan gambar, yaitu tidak ada laki-laki yang turut foto bersama. Mereka khawatir foto tersebut akan dilihat oleh para suami. Sehingga ke depannya, mereka akan kesulitan mendapatkan ijin suami untuk melakukan perjalanan wisata kembali.

Maka dalam setiap perjalanan, statement tidak ada laki-laki yang turut serta dalam rombongan menjadi bagian penting. Karena acapkali, perjalanan mengajak suami maupun anak laki-laki untuk menutupi kuota peserta. Terutama jika pembukaan trip baru terkumpul sebanyak lima orang. Namun jika saat trip dibuka, jumlah peserta telah mencapai 20 orang maka perjalanan tersebut tertutup untuk peserta laki-laki, baik suami atau anak laki-laki.

“Kadang-kadang, jika ada laki-laki yang ikut, peserta (anggota komunitas) tidak jadi ikut,” ujar wanita yang menyisihkan dua kali akhir pekan dalam sebulan untuk waktu bersama keluarga ini. Dalam kegiatannya, komunitas kerap melakukan perjalanan wisata ke dalam negeri maupun luar negeri. Perjalanan wisata tersebut dalam bentuk one day trip (tujuan wisata dekat), share cost (biaya ditanggung bersama) maupun open trip (ada fee untuk team leader).

Peserta yang tergolong membludak, 250 perserta yang tergabung dalam grup WhatsApp, menuntut untuk selalu ada trip setiap bulannya. Tiah yang mengaku kewalahan menuruti permintaan peserta mulai mendidik sejumlah anggota untuk menjadi koordinator ataupun leader pada beberapa waktu yang lalu. Ia menantang sejumlah anggota untuk menjadi koordinator sebagai pemimpin rombongan ke sejumlah tempat wisata.

Komunitas menjadi sarana anggota untuk mendapatkan informasi mengenai tempat wisata maupun grup yang akan melakukan perjalanan. Pasalnya, tidak semua orang percaya diri melakukan solo traveling. Selain itu melalui komunitas, mereka mudah mendapatkan informasi paket perjalanan ketimbang harus mencari melalui mesin google.

Traveling Bunda Ngebolang merupakan komunitas yang terdiri dari lintas latar belakang, baik pecinta wisata maupun pemilik travel. Mereka dibebaskan untuk menjual produk wisatanya bahkan berbagai barang lainnya, khususnya setiap Senin. Untuk menjaga keamanan, peserta dapat menggali informasi sebuah paket perjalanan bersama anggota komunitas lain supaya terhindar dari tindak penipuan. Dengan banyak informasi, kegiatan wisata lebih menyenangkan bahkan murah. din/E-6

Kepercayaan Bekal Menjadi “Team Leader”

Kepercayaan menjadi modal utama sebagai koordinator maupun team leader dalam perjalanan wisata. Hal ini karena peserta akan merasa nyaman melakukan perjalanan bersama team leader yang mampu mengatur kebutuhan selama perjalanan. Menjadi team leader dalam perjalanan wisata membutuhkan kesabaran bahkan tidak meluapkan emosi di depan peserta.

Pasalnya, mereka akan berhadapan dengan emosi manusia yang memiliki banyak keinginan selama melakukan perjalanan wisata, mulai penginapan, transportasi, biaya yang dipandang terlalu mahal dan sebagainya. Untuk itu, Tiah selalu menyarankan teman-temannya untuk menganggap peran team leader sebagai sarana pembelajaran.

Seorang team leader secara tidak langsung akan belajar manajerial sebuah kegiatan, mulai pengelolaan keuangan sampai menghadapi peserta. “Kamu salah hitung, tapi anggaplah sebagai proses pembelajaran,” ujar dia tentang salah satu team leader yang pernah salah hitung terkait dana yang dibutuhkan. Kalau sudah begitu, tidak ada jalan lain kecuali team leader harus nombok atau menutupi kekurangan biaya.

Sebelum terjun menjadi team leader profesional, Tiah menganjurkan anggota komunitas untuk mengawali memimpin perjalanan share cost. Dalam perjalanan jenis ini, biaya perjalanan tergolong murah dan tanggung jawab dibebankan bersama, baik team leaderataupun peserta samasama “bekerja” mengurusi kebutuhan selama perjalanan.

Sealin itu pada tahap ini, team leader tengah memperkenalkan diri sebagai pemimpin kelompok. “Mau jadi pemimpin, ambil kepercayaan orang dulu,” ujar wanita yang mengantongi sertifikat sebagai guide tersebut. Supaya pada trip atau perjalan wisata yang akan datang, peserta lebih dekat dan tidak mudah ngambek jika terjadi kondisi yang tidak sesuai harapan. “Karena peserta trip biasanya itu-itu saja,” ujar dia.

Orang yang telah memiliki pengalaman team leader tidak menjamin sesuai menjadi pemimpin rombongan wisata ibu-ibu, seperti yang terjadi pada komunitas ini. Setiap peserta mempunyai keunikannya masing-masing sehingga membutuhkan keterampilan penangan yang berbeda. “Kerena di sini orangnya banyak, keinginannya juga banyak,” ujar dia. Ika Agustina Merdekawati, 42, team leader di komunitas Traveling Bunda Ngebolang merasakan tantang menjadi team leader sebuah perjalanan wisata.

“Menghadapi komplain peserta terkait transportasi dan akomodasi yang terkadang bermasalah,” ujar dia. Meski begitu, pengalaman tersebut tidak membuatnya kapok menjadi team leader, bahkan memacunya untuk lebih profesional. din/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment