Sepakbola dan Krisis Diplomatik Qatar | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 20 2017
No Comments

Sepakbola dan Krisis Diplomatik Qatar

Sepakbola dan Krisis Diplomatik Qatar

Foto : ISTIMEWA
Persiapan I Salah satu venue untuk Piala Dunia 2022 yang dipersiapkan Qatar dengan teknologi ramah lingkungan. Qatar akan menjadi negara muslim pertama di kawasan Timur Tengah yang menggelar turnamen sepakbola paling bergengsi tersebut.
A   A   A   Pengaturan Font

Semenjak pemutusan diplo­matik dilakukan pada 5 Juni lalu, sengketa antara Qatar dan negara-negara Arab pimpinan Arab Saudi terus bergulir. Berba­gai kemajuan yang telah dicetak Doha, diyakini telah membuat negara-negara Arab, khususnya Arab Saudi, cemburu.

Menurut pengamat politik Timur Tengah dan penulis buku ‘Gaza Simbol Perlawanan dan Kehormatan’, Faisal Assegaf, para pe­mimpin Qatar berpandangan lebih maju, berbeda dengan Riyadh yang masih tradisional. Sebagai contoh, Doha berani merebut peluang un­tuk menjadi tuan rumah penye­lenggaraan Piala Dunia 2022.

“Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), mereka memiliki ke­mampuan untuk menggelar piala dunia, tetapi tidak pernah berfikir untuk menjadi tuan rumah penye­lenggaraan piala dunia. Padahal ini peluang emas, dimana manusia satu planet ini akan menyaksikan pertandingan tersebut. Ajang ini mendorong ekonomi dan sektor lainnya di negara penyelenggara secara positif,” kata Faisal, Senin (17/7).

Pada 2015, Bank Dunia men­tasbihkan Qatar sebagai negara terkaya nomor satu di dunia dengan pendapatan perkapita sebesar 146.178 dollar AS. Artinya, setiap satu penduduknya memiliki pendapatan tahunan hampir 2 miliar rupiah.

Kekayaan ini, membuat Pe­merintah Qatar memiliki uang untuk “mendekati” FIFA demi bisa menjadi tuan rumah piala dunia. Langkah yang diambil Doha ini untungnya berbuah manis. Qatar mencatatkan diri dalam sejarah dunia sepakbola sebagai negara muslim pertama yang menjadi tuan rumah penyelenggaraan piala dunia.

“Sengketa diplomatik ini adalah perebutan pengaruh. Para pemim­pin Qatar berfikiran maju dan me­reka punya uang sehingga bebas melakukan apapun,” kata Faisal.

Terkait penyelenggaraan Piala Dunia 2022, Pemerintah Qatar te­lah membangun sembilan stadion dengan konsep ramah lingkungan. Sebagian besar dari stadion terse­but mampu menampung lebih dari 80 ribu penonton.

Pemerintah Qatar membuat negara-negara Arab semakin cemburu karena di Qatar telah dibangun pula Pusat akademi olahraga Qatar, Aspire Zone Sports Academy, dengan fasilitas mewah di atas lahan seluas 240 hektar. Tak hanya itu, setiap tahunnya event MotoGP digelar di Qatar, tepatnya di Losail International Circuit.

Olahraga sekarang ini bukan sekadar hobby atau instrumen untuk dipertandingkan. Olahraga memiliki dimensi yang sangat luas, diantaranya sisi hiburan, gengsi, kebanggaan individu-masyarakat-negara, dan yang terpenting ajang untuk menghidupkan sektor ekonomi. Maka tak heran, event olahraga bertaraf internasional, seperti sepakbola Piala Dunia, Piala Eropa hingga lomba balap Formula One, bukan hanya menjadi pusat perhatian para penggemar, namun juga pemerintah yang menjadi tempat penyelenggaraan. uci/S-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment