Koran Jakarta | April 29 2017
No Comments

Sentimen Pasar setelah Pilkada

Sentimen Pasar setelah Pilkada

Foto : koran Jakarta /ones
A   A   A   Pengaturan Font

Oleh Dr Edy Purwo Saputro, SE, MSi

Pilkada DKI Jakarta putaran kedua pada 19 April memberikan pengaruh signifikan bagi perekonomian. Transaksi bursa juga terpengaruh. Maka, beralasan jika kali ini investor

menunggu. Sinergi antara pasar modal dan pilkada pada dasarnya tidak bisa

terlepas dari antisipasi berbagai kemungkinan. Wait and see bisa berubah menjadi wait and worry jika proses pilkada menyisakan ancaman pascapelaksanaan seperti kisruh. 

Bursa dan pesta demokrasi secara tidak langsung menjadi acuan iklim sospol karena realisasi investasi membutuhkannya dan kepastian hukum karena kepentingan jangka panjang. Esensi ini mungkin yang menjadi pertimbangan investasi Arab sehingga lebih besar ke Tiongkok yang mengecewakan Presiden Jokowi. Hukum pada koruptor di Tiongkok sangat tegas, sementara di sini cenderung lemah. Operasi tangkap tangan KPK pun tidak menjerakan koruptor. Bahkan, di era otda cenderung terjadi peningkatan korupsi para kepala daerah.

Ancaman terhadap dampak putaran kedua Pilkada DKI Jakarta tidak hanya terjadi pada lantai bursa, tapi juga implikasinya terhadap rantai ekonomi bisnis. Ini menjadi perhatian serius. Oleh karena itu, sukses putaran kedua pilkada DKI Jakarta menjadi test case jaminan rasa aman karena Jakarta adalah ibu kota negara. 

Sinergi pilkada dan lantai bursa pada dasarnya juga menjadi acuan review ekonomi kuartal pertama 2017 yang secara umum menggambarkan masih sesuai dengan harapan. Paling tidak, ini mengacu penegasan BI tentang kondisi makroekonomi pascapilkada serentak dan sukses putaran pertama Pilkada DKI Jakarta. Tapi, BI juga menyarankan agar pemerintah mengerem fakta ancaman lonjakan harga pangan, terutama menjelang puasa karena kekhawatiran bisa merembet ke sektor lain.

Terkait ini, lantai bursa juga menunjukkan trend semakin membaik. Ini dibuktikan melesetnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 13 April 2017 pada level 5.616,55. Ini naik dibanding 30 Maret (5.592,95) dengan net buy investor asing mencapai 153 miliar rupiah.

Euforia melesatnya IHSG yang menembus rekor meski ada pilkada serentak dan putaran kedua Pilkada DKI Jakarta menarik dikaji. Ini terutama apresiasi investor dan menjaga sentimen positif. Konsekuensi rekor indeks yaitu naiknya price earning ratio (PER) melampaui sejumlah bursa Asia. Bahkan, sebagian pengamat memprediksi IHSG bisa menembus level 5.900 karena optimisme jika pertumbuhan ekonomi 5,2 persen sampai akhir tahun 2017.

Rekor IHSG tidak bisa terlepas dari aksi investor yang beli saham, tidak hanya investor lokal, tapi juga asing. Maka, beralasan jika kondisi ini memacu investor asing berburu sehingga pembelian bersih pada 17 Maret 2017 mencapai 2,49 triliun. Fakta ini juga didukung sentimen bagi-bagi deviden, termasuk komitmen emiten BUMN yang menawarkan pay out ratio deviden lebih besar sehingga menarik investor. Realitas ini menegaskan sukses putaran kedua Pilkada DKI Jakarta menjadi acuan investasi.

Identifikasi rekor IHSG dipengaruhi sejumlah faktor, seperti kondisi makroekonomi. Sinyal positif ekonomi kuartal pertama tahun 2017 menunjukkan trend membaik. Hal ini memberi sentimen positif investor asing. Meski ada pilkada serentak yang sempat memicu wait and see, sukses pilkada secara tidak langsung berpengaruh positif terhadap kepercayaan investor.

Maka sukses putaran kedua Pilkada DKI Jakarta diharapkan berpengaruh positif terhadap kepercayaan investor dan sekaligus membangun jaminan rasa aman serta iklim sospol. Hal ini akan mereduksi perilaku wait and see tidak menjadi wait and worry. 

The Fed

Kenaikan suku bunga Bank Sentral AS The Fed memberi respons positif karena mengindikasikan membaiknya ekonomi AS. Tidak bisa dipungkiri bahwa suku bunga acuan masih menjadi perhatian terhadap potensi ekonomi domestik sehingga indikasi ini menjadi sinyal untuk investasi dan kegiatan ekonomi.

Jadi, kenaikan suku bunga The Fed menjadi indikator positif investor asing. Ini juga momentum diteruskan agar daya tarik pasar modal meningkat sehingga indeks dan kapitalisasinya naik. Selain itu, rencana kedatangan Wakil Presiden AS, Mike Pence, pada 20–22 April juga diharapkan membawa sentimen positif terhadap kepercayaan investor asing.

Optimisme pasar bahwa Standard & Poor’s akan meningkatkan peringkat utang Indonesia pada tahun ini akan berpengaruh pada kepercayaan investor. Bukan tidak mungkin, peringkat Indonesia akan menjadi level investment grade sehingga daya tarik investasi semakin besar. Beralasan jika sejumlah ekonom memprediksi kenaikan indeks masih berlanjut.

Prediksi bulan Mei 2017 nanti, S&P akan memperbaiki rating utang Indonesia dan andai ke level investment grade menunjukan risiko investasi menurun. Ini akan menjadi daya tarik investasi baik saham ataupun obligasi.

Kondisi makroekonomi menguat dapat dilihat dari inflasi yang masih di bawah 4 persen sampai triwulan pertama 2017. Ini menunjukkan sentimen positif. Maka, meski laju inflasi disokong kenaikan tarif listrik, namun secara umum ada kemampuan daya beli sehingga geliat ekonomi bisa bergerak karena dukungan konsumsi masih tinggi.

Realitas ini secara tidak langsung menunjukkan adanya penguatan ekonomi di sektor domestik dan tentu ini menjadi acuan penting untuk melihat prospek ekonomi di semester kedua 2017 sampai akhir tahun dan angka deflasi pada maret 2017 juga menjadi indikasi positif terkait target inflasi 2017.

Tidak bisa disangkal bahwa data historis menunjukkan selalu ada trend euforia deviden sebagai akibat kebijakan bagi-bagi. Artinya, kecenderungan akan lonjakan indeks. Ini sering kali diidentifikasi sebagai sentimen musiman deviden sehingga ketika meredup, pergerakan indeks akan kembali normal. 

Oleh karena itu, aksi profit taking sampai bulan ini mungkin akan terkoreksi meski di sisi lain tetap ada perilaku profit taking karena tidak semua investor berperilaku sama. Artinya, sentimen ini menjadi peluang penting untuk memacu kepercayaan investor sehingga kenaikan indeks akan terus berlanjut dan berpengaruh pada kapitalisasi pasar meningkat. 

Penulis Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo

Tags
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment