Koran Jakarta | July 19 2018
No Comments
Nilai Tukar Rupiah

Sentimen Negatif di dalam Negeri Terus Bertambah

Sentimen Negatif di dalam Negeri Terus Bertambah

Foto : ANTARA/Dhemas Reviyanto
Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo
A   A   A   Pengaturan Font

Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo mengungkapkan rentetan aksi teror bom di Jawa Timur, Minggu (13/5), hanya sedikit mempengaruhi kurs rupiah terhadap mata uang asing di mata investor. Agus mengatakan secara umum memang ada sedikit dampak ekonomi jika dunia internasional melihat adanya gangguan keamanan di Indonesia.

Tapi berkaca dari kejadian-kejadian sebelumnya, pengaruh dari insiden teror seperti pada Minggu (13/5) hanya minimum. “Serangan bom hanya memberikan sedikit pengaruh kepada nilai tukar rupiah,” ujar Agus di Jakarta, Selasa (15/5). Agus mengatakan, sejauh ini, fundamental ekonomi Indonesia dalam keadaan baik.

Dia meminta masyarakat agar tak panik dan tetap tenang menghadapi volatilitas rupiah dalam beberapa hari terakhir. “BI dipastikan akan selalu berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Kalau pun sudah menyentuh nilai tukar 14.000 rupiah per dollar AS,” kata Agus.

 

Defisit Perdagangan

 

Selain rangkaian serangan bom, defisit neraca perdagangan menambah sentimen negatif internal terhadap rupiah. Bahkan, sentimen negatif tersebut bukan hanya memperlemah nilai tukar terhadap dollar AS, tetapi juga poundsterling. Dikutip dari CNBC Indonesia, Selasa (15/5), nilai tukar rupiah terhadap poundsterling pada perdagangan siang hari bergerak melemah.

Pada Selasa (15/5/2018) pukul 14:15 WIB, GBP 1 poundsterling dibanderol 18.987,52 rupiah atau melemah 0,31 persen dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya. Pelemahan rupiah ikut menaikkan harga jual poundsterling di salah satu bank BUMN menjadi di atas 19.200 rupiah. Pelemahan rupiah didorong oleh sentimen negatif dari dalam negeri.

Belum reda kekhawatiran terkait kondisi keamanan di Indonesia pasca serangan bom Surabaya akhir pekan lalu, rupiah kembali dihantam sentimen negatif neraca perdagangan periode April 2018. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia defisit 1,63 miliar dollar AS, kontradiktif dengan ekpektasi pasar yang memperkirakan surplus 672 juta dollar AS. 

 

Ant/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment