Koran Jakarta | April 29 2017
No Comments
Konflik Suriah I Israel Sebut Suriah Masih Miliki 3 Ton Senjata Kimia

Senjata Kimia Digunakan di Idlib

Senjata Kimia Digunakan di Idlib

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Senjata kimia dipastikan telah digunakan dalam serangan di Khan Sheikhoun, Provinsi Idlib, Suriah, pada awal April lalu. Hal itu dikonfirmasi lembaga pemantau senjata kimia, Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons.

AMSTERDAM – Lembaga pemantau senjata kimia, Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW) mengkonfirmasi bahwa senjata kimia sarin atau zat beracun turunan yang dilarang penggunaannya secara internasional, telah dipergunakan dalam serangan di Provinsi Idlib, Suriah, pada 4 April lalu sehingga menewaskan hampir 90 orang. Hal itu disampaikan dalam laporan OPCW pada Rabu (19/4) setelah mereka menerima hasil uji dari laboratorium di Turki dan Inggris. 

“Hasil analisis menunjukkan bahwa sarin atau zat menyerupai sarin telah dipergunakan,” kata Direktur Jenderal OPCW, Ahmet Uzumcu. 

Temuan itu, menurut OPCW, dilakukan setelah ada uji sampel biomedis yang diambil dari tiga korban tewas dari hasil otopsi yang kemudioan diuji di dua laboratorium yang ditunjuk OPCW. “Sampel biomedis dari tujuh individu yang saat ini dirawat di rumah sakit juga menunjukkan adanya paparan sarin atau zat menyerupai sarin,” imbuh pernyataan OPCW. 

M a s i h terkait serangan senjata kimia di Idlib, pihak militer Israel mengatakan bahwa mereka meyakini pasukan Suriah pimpinan Presiden Bashar al-Assad masih memiliki beberapa ton stok senjata kimia. Israel bersama dengan banyak negara lainnya, menyalahkan pasukan militer Suriah atas aksi serangan yang amat biadab itu. 

“Beberapa ton senjata kimia masih berada di tangan pasukan Bashar”, kata seorang perwira militer senior Israel dalam sebuah konferensi pers. 

Kini beberapa laporan media Israel yang mengutip dari seseorang pembicara yang enggan disebut jati dirinya dalam pertemuan itu mengatakan bahwa jumlah senjata kimia yang masih dimiliki Suriah jumlahnya mencapai sekitar tiga ton. 

Dalam kesepakatan yang terjadi pada 2013 lalu, yang ditengahi oleh Russia dan Amerika Serikat (AS), pemerintah Suriah sepakat untuk menghancurkan seluruh senjata kimia miliknya. 

Suriah telah berulang kali membantah berada di balik serangan senjata kimia di Khan Sheikhoun. Presiden al- Assad mengatakan pada pekan lalu bahwa militer Suriah telah memusnahkan semua senjata kimia pada 2013, setelah kesepakatan dibuat pada saat itu, dan tidak akan menggunakannya lagi. 

Atas dugaan serangan senjata kimia di Provinsi Idlib pada awal bulan ini, lembaga intelijen Prancis, kata Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Marc Ayrault, akan memberikan bukti-bukti terkait kejadian itu dalam beberapa hari mendatang. 

“Kami punya elemen yang bisa menunjukkan pada kami bahwa rejim (al-Assad) tahu atas serangan senjata kimia itu,” kata Menlu Ayrault pada televisi LCP

Penolakan AS 

Sementara itu dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (20/4) mengabarkan mediator untuk Suriah di PBB, Staffan de Mistura, akan melakukan pertemuan dengan wakil Menlu Russia, Gennady Gatilov, di Jenewa, Swiss, pada Senin (24/4) pekan depan dalam perundingan untuk membahas konflik serta perundingan damai bagi Suriah. 

Tadinya de Mistura berharap akan terlaksananya pertemuan trilateral yang menyertakan AS. Namun sayangnya pihak AS menolak untuk berpartisipasi dalam pertemuan apapun menyangkut Suriah untuk saat ini. “Hanya akan ada pertemuan bilateral pada Senin mendatang. Pertemuan trilateral harus ditunda,” kata de Mistura. 

Pertemuan yang membahas konflik di Suriah itu, kata de Mistura, merupakan sebuah evaluasi yang akan diajukan pada pertemuan internasional di Astana, Kazakhstan, yang memcoba untuk membangkitkan gencatan senjata dan peluang melakukan lagi perundingan damai di Jenewa antara pihak Suriah dengan lawan-lawannya pada Mei mendatang. 

Konflik di Suriah memanas setelah AS melakukan serangan udara dengan menembakkan misil-misil ke sebuah pangkalan udara milik pemerintah Suriah, sebagai balasan serangan senjata kimia di Idlib. Aksi AS terhadap Suriah ini kemudian membuat ketegangan hubungan antara Washington DC dengan Moskwa. Rtr/I-1 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment