Koran Jakarta | October 21 2018
No Comments
JENAK

Selingkuhan, Motor dan Istri

Selingkuhan, Motor dan Istri

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

Biasanya kita senyum-senyum karena meme. Tentang merayu air agar naik mentalnya sehingga tidak menjadi banjir. Atau pekerja kebersihan yang mendadak menjadi rajin karena dibisiki: perlu dipanggilkan Ahok? Atau jenis kisah fiktif lainnya. Kisah yang bukan sebenarnya, kejadian itu direkayasa sedemikian rupa, sehingga menonjolkan kekontrasan. Di situlah daya tariknya.

Yang saya tulisan sebagai bacaan menjelang akhir tahun ini, bukan cerita karangan. Melainkan kisah nyata, diberitakan secara resmi, lengkap dengan nama, alamat, dan saksi-saksi dari aparat kepolisian. Kalau disinetronkan, bisa dijuduli: Kisah Nyata: Selingkuhan, Motor, dan Istri. Tokoh pertama bernama Fauziah Hidayati, 25 tahun, dijuluki selingkuhan, karena selama ini pacaran dengan pria bernama Sus, 35 tahun. Tokoh kedua adalah benda berupa motor Honda Beat, dengan nopol AB….XY. Ini untuk mempertegas bahwa motor di daerah Yogya ini memang benar-benar ada. Sus meminjam motor tersebut, selain untuk keperluan juga untuk digandakan kuncinya. Sehingga pada kesempatan lain di bulan Desember “kelabu” ini, motor itu dicuri oleh Sus. Sampai di sini persoalannya masih biasa. Banyak pasangan, atau selingkuhan, atau yang pacaran main curi-curian, terutama uang atau telepon genggam.

Yang membedakan dengan kisah selingkuhan lainnya adalah Sus menjual motor itu ke… istrinya. Istri Sus sudah pisang ranjang dengan suaminya, namun agaknya belum pisah kenangan. Mereka memiliki dua anak, dan memiliki hal-hal yang belum selesai. Termasuk berbuat baik: saling tolong-menolong. Sus menawarkan motor dengan harga dua juta rupiah. Sang Istri curiga karena harganya terlalu murah. Sus memberikan alasan yang mudah diterima: motor itu hasil tarikan dari penagih utang. Sampai di sini semuanya aman. Tidak dijelaskan apakah dengan duit dua juta rupiah itu juga digunakan oleh Sus untuk mentraktir Fauziah—sang pemilik motor.

Jalan cerita berubah ketika Fauziah bertemu Istri Sus yang sudah pisah ranjang. Mereka berdua kenal, karena sama-sama kenal sama Sus. Mereka berdua mengobrol soal persoalan hidup dan peristiwa keseharian. (Kadang saya berpikir apakah kedua perempuan itu juga saling bercerita di mana hebatnya, atau tidak hebatnya lelaki bernama Sus ini). Dari obrolan semi curhat inilah, Fauziah bercerita motornya hilang. Dan Istri Sus bercerita baru beli motor. Ketika ditilik, nomor yang terlihat berbeda. Namun ternyata plat nomor yang lama masih ada. Dan itulah motor Fauziah.

Dan kemudian sekali, laporan kehilangan, dan penipuan berlanjut ke kepolisian, dan Sus ditangkap. Istri Sus juga membela diri karena tak ingin ditersangkakan sebagai penadah.

Kisah yang berlokasi di Sleman, Yogya, ini sebenarnya bisa menjadi kisah romantik-komedis. Kalau saja tidak berbau kriminal. Betapa sempitnya dunia, dan lebih sempit lagi jalan pikiran Sus. Yang mengakali selingkuhannya, juga istrinya, padahal keduanya ada kemungkinan bertemu. Atau karena Sus merasa aman karena selama ini telah melakukan tipu-tipu.

Yang mana pun, atau alasan apa pun, justru bisa menambah haru, lucu, juga senyum. Senyum-senyum maklum, senyum tak sekadar di kulum, karena di jagat pemberitaan masih ada berita yang sepenuhnya menghibur. Bukan menghibur terpaksa karena mencoba atau memainkan kebenaran.

Kasus yang menimpa Sus lebih apa adanya, lebih jujur, juga lebih terbuka. Dan karena kandungan humornya tinggi, kita bisa tersenyum mengenangnya tanpa murka atau marah. Mungkin juga karena, terutama lelaki, merasa bisa lebih licin dari Sus. Mungkin. n

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment