Koran Jakarta | July 17 2019
No Comments

Sel-sel Teroris Masih Hidup

Sel-sel Teroris Masih Hidup
A   A   A   Pengaturan Font

Di tengah suasana makin panas karena persaingan dalam pemilihan umum legislatif dan juga pemilu presiden, muncul lagi kasus yang membuat kita main terperanjat yakni aksi terorisme yang menyeruak ke permukaan. Kali ini nun jauh di Sibolga, Sumatera Utara.

Betapa tidak terkejut, dalam aksi terakhir, istri terduga teroris malah meledakkan diri dengan bom buatannya sendiri, di rumah yang sudah dikepung aparat Densus 88 Antiteror, Rabu (13/3). Sang istri terduga teroris menolak negosiasi yang dilakukan aparat.

Sebelumnya, pada Selasa (12/3) pukul 14.23 WIB dilakukan penangkapan terhadap terduga teroris Husain alias Abu Hamzah di rumahnya. Saat akan dilakukan pengecekan awal di rumah pelaku, sekitar pukul 14.50 WIB terjadi ledakan.

Melihat persitiwa ini, kita diingatkan lagi untuk tetap hati-hati dan waspada terhadap gerak-gerik kelompok teroris yang masih saja menyiapkan bom rakitan untuk diledakkan di sasaran yang telah mereka targetkan, terutama ke aparat keamanan. Kewaspadaan terutama harus ditingkatkan di sekitar rumah. Kita harus mengenal lingkungan sekeliling dan harus peduli, jika tidak, apalagi di perkampungan yang relatif sepi, aksi kelompok teroris bisa lebih bebas.

Menurut Kapolda Sumut, Irjen Pol Agus Adrianto, para terduga teroris yang diamankan tim Densus 88 Antiteror adalah merupakan hasil pengembangan dari penangkapan di Provinsi Lampung. Jenis bom yang ditemukan di Sibolga merupakan bom yang sama dengan bom yang diamankan dari terduga teroris RIN alias Putra Syuhada pada Sabtu (9/3/2019), di Lampung.

Melihat benang merah peristiwa paling akhir yakni Lampung–Sibolga, benar juga analisis dari pakar terorisme Sidney Jones. Tahun lalu, Direktur Institute for Analysis of Conflict itu mengatakan, meski beberapa petinggi JAD sudah ditangkap, bukan berarti ancaman serangan akan hilang begitu saja.

Menurut Jones, selalu ada regenerasi dalam jaringan terorisme, dan menurutnya JAD adalah kelompok pendukung ISIS terbesar, tapi ia tidak sendirian. Ada banyak kelompok kecil pendukung ISIS. Begitu juga kapasitas regenerasi mereka sudah jelas.

Banyak analis terorisme juga sepakat bahwa meski kebanyakan tokoh kunci JAD sudah ditangkap oleh Densus 88. Tapi masih banyak pula yang hingga saat ini belum ditemukan. Terlalu dini jika mengatakan ini adalah akhir dari JAD.

Dalam konteks itulah, kita juga perlu menggarisbawahi catatan sekaligus perintah Presiden Joko Widodo menanggapi penangkapan terduga teroris di Sibolga, aparat harus terus mengejar sel-sel teroris yang masih hidup dan akan terus bertransformasi dalam berbagai gerakan. Jika tidak, kekuatan mereka akan makin bertambah.

Penyebaran paham dan gerakan teroris kini makin dipermudah melalui media sosial (medsos). Di banyak tempat, medsos dimanfaatkan untuk ajang menyebar, mempengaruhi dan merekrut anggota baru. Transformasi perekrutan lewat medsos ini juga harus diantisipasi.

Mengingat pemilu serentak semakin dekat, maka antisipasi keamanan juga harus lebih dimatangkan. Jangan sampai kelompok radikal ini memanfaatkan situasi panas untuk mencari celah dan menggerakkan selnya untuk melakukan serangan teror.

Jadi dalam ruang ini sekaligus kita ingin mengingatkan agar kepedulian terhadap lingkungan sekitar sangat penting guna mencegah aksi lebih luas dan bebas dari para teroris.

Pengalaman selama ini membuktikan kelompok teroris leluasa membangun jaringan dan merencanakan serangan bom karena lingkungan di sekitarnya abai atas gerak gerik mereka. 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment