Koran Jakarta | November 17 2018
No Comments

Sejarah sebagai Objek Foto di Kuburan

Sejarah sebagai Objek Foto di Kuburan

Foto : FOTO-FOTO: DOK Indonesia Graveyard
A   A   A   Pengaturan Font

Dari kuburan dapat diketahui asal muasal orang yang dimakamkan di tempat tersebut.

Hampir tidak ada orang yang memilih kuburan sebagai tujuan perjalanan. Tapi, Indonesia Graveyard malah sengaja datang ke kuburan. Mereka mengabadikan segala hal yang terjadi di kuburan sebagai obyek foto.

Dalam pengamatan komunitas ini, identitas di batu nisan memberi makna yang dalam. Nama panjang, tempat tanggal lahir, hari kelahiran, hari kematian bahkan nama suami, istri, anak, menantu sampai cucu menjadi namanama yang tertera dalam nisan. Identitas tersebut tidak sekedar embel-embel namun ada makna lainnya.

“Kalau tulisannya merah, berarti istri atau suaminya masih hidup,” ujar Deni Priya Prasetia, 31, anggota Indonesia Graveyard tentang salah satu tulisan yang tertera di nisan kuburan China di Kuburan Taman Cepe, Tangerang, Sabtu (24/8).

Dari informasi tulisan di nisan dapat diketahui tentang latar belakang orang yang dikubur. Latar belakang tersebut yang memiliki daya tarik sebagai obyek foto. Belum lagi bentuk nisan, di kuburan China, bentuk nisan dapat menunjukkan strata ekonomi orang yang dikebumikan.

Makin tinggi tingkat ekonominya, bentuk kuburannya tampil lebih mewah dibandingkan lainnya. Kuburan yang memiliki atap berikut dengan ukiran menjadi salah satu kemakmuran orang yang dikemunikan selama hidup. Nilai sejarah yang terkandung dari sebuah kuburan menarik minat Indonesia Graveyard.

Dari kuburan dapat diketahui asal muasal orang yang dimakamkan di tempat tersebut. Yang menandakan bahwa, orang tersebut pernah tinggal atau menetap di bumi pertiwi. Seperti Kuburan Taman Cepe yang banyak dihuni oleh orang-orang bahkan keturunan Tiongkok Selatan. Indonesia Graveyard sengaja memilih kuburan yang tergolong tua. Karena, kuburan tersebut menyimpan beragam sejarah. “Yang tua (kuburan), semakin aneh,” ujar Ruri Hargiyono, salah satu anggota yang kadang mencari tempathunting melalui mesin pencari.

Dari pengalaman hunting, ia dan teman-temannya menemukan makam Yahudi di Slipi, Petamburan, Jakarta, di nisannya tertulis tahun 1955. Informasi yang tertulis dalam bahasa asing makin menggugah rasa ingin tahu. Seringkali, mereka menelusuri arti tulisan melalui mesin pencari.

Sedikit beruntung karena Deni, yang merupakan salah satu anggota dapat berbahasa China. Sehingga disela-sela hunting foto, ia selalu bercerita tentang asal muasal salah satu nisan, sebelum jeprat jepret Tidak semua kuburan tua terawat dengan baik. Selain karena tidak adakeluarga yang merawatnya, kuburan tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Ada kuburan yang terletak persisi dibelakang rumah penduduk.

“Jadi kalau buka pintu belakang langsung berhadapan dengan nisan,” ujar Ruri. Malah di daerah Jakarta Barat, kuburan menjadi ruang bermain anak-anak penduduk setempat. Belum lagi, ceceran kondom yang sempat bertebaran dibalik salah satu nisan.

Kuburan bagaikan ruang publik yang keberadaannya makin minim di kota besar semacam Jakarta. Para anggota Indonesia Graveyard berawal dari penggemar sejarah. Mereka sering melakukan perjalanan bersama untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Ruri sering mengabadikan berbagai kuburan tua mendapatkan respons dari temannya. Akhirnya, mereka secara khusushunting di kuburankuburan tua.

Indonesia Graveyard masih tergolong muda, usianya baru sekitar setahun, berdiri pada 28 Januari 2017. Anggotanya masih tergolong sedikit, hanya empat orang.

Kadang-kadang, tidak semua anggota berkesempatan untuk hunting bersama setiap bulannya. Hanya, Ruri dan Deni yang tergolong rajin hunting dari satu kuburan ke kuburan yang lain. Meskipun dengan jumlah anggota minim, tidak menyurutkan semangat untuk hunting. din/E-6

Ada Sejarah Tersembunyi dari Sepinya Kuburan

Dari kuburan pengetahuan tentang sejarah bertambah. Rasa ingin tahu semakin menggelora. Alhasil menyelami kuburan ibarat berada di ladang pengetahuan yang tak memiliki ujung.

“Kekepoan kami terlalu tinggi,” ujar Ruri tergelak tentang alasan menyukai kuburan sebagai tempatnya menambah pengetahuan sejarah.

Dari kuburan, ia bisa mengulak-ulik kehidupan orang yang telah dimakamkan semasa di dunia. Runutan sejarah yang ditemukan secara bertahap memberikan kepuasan batin tersendiri. Seperti ketika dia bermain amazing race bersama teman-temannya di Kuburan Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Tantangannya adalah mereka diminta untuk menemukan kuburan istri mendiang Presiden Soekarno yang paling cantik.

Dengan petunjuk yang diberikan, mereka adu cepat menemukan kuburan yang dimaksud. Bukannya segera menemukan kuburan yang dilombakan, mereka malah menemukan kuburan tokoh-tokoh lainnya, seperti Benyamin Sueb, Pramoedya Ananta Toer, Iswadi Idris (tokoh sepak bola) dan lain sebagainya. Penemuan kuburan para tokoh malah lebih menarik ketimbang memenangkan kompetisi.

Suasana kuburan yang sunyi dengan hembusan angin semilir memberikan kenangan lain untuk wanita yang berprofesi sebagai fotografer lepas.

Kuburan mengingatkan pada almarhum ayahnya. Di tempat tersebutlah, ayahnya beristirahat sejak ia berusia 12 tahun. Bagi, Ruri ada nostalgia ketika dia berada di kuburan. Deni mengaku lebih menyukai nilai sejarah yang terkandung di dalam kuburan. Seperti, orang-orang yang meninggal sambil membawa harta bendanya ke liang lahat. Kisah yang diperolehnya melalui film-film menggugah rasa ingin tahunya.

“Bahkan , ada anggota kerajaan yang meninggal sambil menelan mutiara,” ujar dia. Sejarahlah yang mendorong keduanya menyukai berbagai hal tentang kuburan. Mereka sepakat tidak mengkaitkan dengan mistik. Karena, kuburan memiliki banyak makna ketimbang urusan mistik belaka. din/E-6

Mendandani Model Menyerupai Hantu

Cerita mistik tentang kuburan hampir tidak pernah dirasakan para anggota Indonesia Graveyard. Mereka berkeyakinan niat yang postif dapat menjauhkan dari marabahaya.

“Mudah-mudahan jangan, tapi selama ini belum pernah,” ujar Ruri yang tidak pernah motret kuburan selepas magrib ini. Ia mengatakan setiap hunting ke kuburun selalu permisi dengan penjaga kunci atau makam yang akan menjadi obyek.

Kata-kata permisi atau assalamuilaikum menjadi ucapan sebelum mengambil gambar. Ia dan teman-temannya menyadari bahwa saat memotret mereka tengah bertandang ke “rumah” orang lain. Termasuk menjaga diri untuk tidak menginjak makam selama mengambil gambar.

Adakalanya, ia menggunakan model untuk pemotretannya. Jangan bayangkan, modelnya berwajah cantik maupun tampan. Ia mendadani modelnya sepertihalnya hantu yang tengah berada di kuburan. Model sekadar untuk memperkaya hasil foto. Namun, kadangkala ia harus berhadapan dengan petugas keamanan yang menginginkan upeti namun berdalih melarang pemotretan. Jika tidak diijinkan, ia pun memilih mengurungkan niatnya.

Walaupun tidak pernah menemui hal mistik, Ruri mengatakan kuburan yang sedikit membuatnya merinding terdapat di daerah Pejaten.

Kuburan tersebut merupakan tempat bersemayamnya Pangeran Wiraguna. “Rasanya dingin,” ujar dia tentang makam yang berkelambu tersebut. Terlebih, ia harus mengambil dan membuka sendiri kunci makam. Dari hasil jelajahnya, ia baru menyadari bahwa kegermelapan Jakarta ternyata menyimpan cerita-cerita masa lalu.

Melalui, kuburan yang masih tersisa dan hampir tidak diperhitung kebanyakan, sejarah dapat dilusuri. Sebagai contoh, kuburan Sultan Aceh maupun kuburan Eropa. Semua menandakan keanekaragaman penduduk Jakarta yang telah terjadi sejak masa lalu. din/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment