Koran Jakarta | April 19 2019
No Comments

Sehat Berkat Pola Makan yang Baik

Sehat Berkat Pola Makan yang Baik
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Resep Panjang Umur Sehat & Sembuh

Penulis : Tan Shot Yen dan Hindah Muaris

Penerbit : Gramedia

Cetakan : Pertama, November 2018

Tebal : 172 halaman

ISBN : 978-602-06-1949-1

Kementerian Kesehatan menyatakan 80 persen penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes, serangan jantung, dan stroke disebabkan gaya hidup tidak sehat, termasuk pola makan yang “berantakan”. Obesitas sentral (perlemakan di lingkar perut) dialamai 26,6 persen penduduk atau sebesar 44,3 juta orang. Angka ini diikuti hipertensi sebesar 25,8 persen atau 42,1 juta orang. Kemudian, diabetes melitus sebesar 6,9 persen atau 10 juta orang, dan stroke 1,21 persen atau 1,2 juta (hal 27).

Pada akhir 2017, Kementerian Kesehatan membuat kebijakan “isi piringku”, panduan porsi gizi seimbang. Pemerintah menganjurkan masyarakat mengisi 50 persen sayur segar dan buah. Hanya, banyak masyarakat belum terlalu memahami cara mengolah, memasak, atau memadukan sayur segar secara tepat, misalnya sayur yang cocok dimasak atau bisa dinikmati mentah.

Buku tulisan Tan Shot Yen, ahli nutrisi, serta Hindah Muaris, mahir memadukan sisi kuliner dan teknologi pangan, berisi tips dan resep mudah mengolah makanan sehat serta memadukan sayur dan buah secara tepat. Disadari atau tidak, kini banyak penyakit berawal dari pola makan tidak sehat. Ini bisa karena kesalahan memadukan porsi gizi atau proses memasak makanan.

Misalnya, ketika muncul tren makanan mentah (raw food diet), para pelaku menilai proses memasak akan menghilangkan banyak zat gizi dan mematikan enzim makanan yang bisa memperbaiki pencernaan. Maka, para pelaku raw food diet mencoba mengolah makanan yang terlihat aneh dan rumit. Contoh, membuat “sup” dingin hingga camilan tanpa dipanggang.

Mereka juga menjadi vegetarian yang tidak mengasup protein hewani. Akhirnya, mereka berisiko kekurangan asam amino esensial, vitamin B12, dan zat besi. Agar pola makan sehat dan tidak salah kaprah, ada baiknya memahami makanan yang bisa dikonsumsi mentah dan perlu dimasak.

Kentang, bayam, dan biji-bijian mentah, banyak mengandung senyawa oksalat, sebagai pembentuk batu ginjal. Dengan merebus, mengolah, bahkan menerapkan fermentasi (seperti pada kedelai) makanan tersebut akan membuat kadar oksalat turun banyak bahkan hilang.

Telur sebagai bagian dari protein lengkap yang lebih mudah dicerna dalam keadaan matang, bukan setengah matang, apalagi mentah (hal 17). Sedangkan contoh makanan atau sayuran yang boleh dikonsumsi mentah, antara lain daun kemangi, terong bulat, tomat, timun, daun kedondong, leunca, selada, dan kacang panjang.

Selain memahami cara mengolah makan, pembaca juga dianjurkan untuk meningkatkan asupan sayuran dan buah. Keduanya mempunyai ikatan gula dengan serat yang membuatnya menjadi karbohidrat “ternama di dunia”. Serat yang secara natural mengikat gula menjadikan gula terkendali, sehingga gula darah tidak melonjak pascapencernaan. Sayur yang dimakan secara teratur dengan olah yang benar akan memberi banyak nilai positif yang tidak tergantikan makanan jenis lain. Berbagai studi telah membuktikan manfaat sayur sebagai pemelihata kesigapan otak dan kebugaran tubuh serta daya tahan kekebalan (hal 29).

Dilengkapi dengan resep panduan mengolah makanan sehat tanpa mengurangi rasa enak di lidah—32 resep lalap segar dan 40 lauk tanpa minyak dan bahan rafinasinya—buku ini menuntun pembaca memulai pola makan sehat agar tubuh sehat bugar, sehingga tidak mudah terserang penyakit. Kesehatan itu memang mahal, maka pembaca bisa memulai untuk menjaganya sejak dini. 

Diresensi Ratnani Latifah, Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment