Koran Jakarta | June 27 2019
No Comments
Kinerja Ekonomi - Defisit Transaksi Berjalan 2019 Diproyeksikan Makin Lebar

Segera Perkuat Strategi Ekspor untuk Perbaiki CAD

Segera Perkuat Strategi Ekspor untuk Perbaiki CAD

Foto : Sumber: BI – Litbang KJ/and - kj/ones
A   A   A   Pengaturan Font

>> Melemahnya kinerja ekspor dikhawatirkan juga akan mengganggu pertumbuhan.

>> Pengembangan sektor pariwisata Indonesia dinilai berpeluang menyehatkan CAD.

JAKARTA – Pemerintah diharapkan segera menerapkan berbagai kebijak­an untuk mengantisipasi kemungkinan pelebaran defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) pada ta­hun ini. Bank Indonesia (BI), pekan lalu, mengubah proyeksi CAD 2019 menjadi 2,5–3,0 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), atau lebih lebar diban­dingkan proyeksi sebelumnya, sebesar 2,5 dari PDB.

Pelebaran defisit transaksi berjalan perlu diantisipasi secepatnya karena ba­kal berimbas pada masalah struktural ekonomi lainnya, seperti depresiasi ni­lai tukar rupiah dan mengganjal per­tumbuhan ekonomi tinggi, yang sangat diperlukan Indonesia untuk beranjak menjadi negara maju.

Ekonom senior Indef, Didik J Rach­bini, mengemukakan pemerintah harus membuat kebijakan dan strategi eks­por yang kuat dan berdaya saing global tinggi. Dia menambahkan pilar dari strategi itu adalah industri nasional yang kuat. Sayangnya, saat ini sektor industri Indonesia cenderung melemah, bahkan dinilai mengalami gejala deindustriali­sasi prematur.

“Berikutnya, pemerintah mau tidak mau harus menggenjot kinerja sektor pariwisata, paling tidak hingga dua kali lipat,” papar Didik, ketika dihubungi, Minggu (19/5).

Selain itu, lanjut dia, pemerintah juga mesti lebih gigih menarik investasi asing terutama untuk industri berori­entasi ekspor, bukan penanaman mo­dal mancanegara yang tujuannya untuk mengeruk pasar dalam negeri.

Sebelumnya dikabarkan, Gubernur BI, Perry Warjiyo, menjelaskan proyek­si defisit transaksi berjalan perlu diubah karena kinerja ekspor sulit diandalkan tahun ini. Menurut dia, proyeksi baru tersebut juga sudah mempertimbang­kan upaya maksimal pemerintah dalam menekan defisit transaksi berjalan.

Perry menganggap pertumbuhan ekspor bakal sulit tercapai karena se­jumlah tantangan, seperti perlambatan pertumbuhan ekonomi mitra dagang utama Indonesia, yakni Tiongkok dan Amerika Serikat (AS).

Meski demikian, dia memperkira­kan ekspor ke mitra dagang lain, seperti India dan Spanyol masih terjaga, khu­susnya dengan India yang merupakan salah satu destinasi ekspor minyak ke­lapa sawit (crude palm oil/CPO). “Eks­por ke mitra dagang lain, akan mampu menopang ekonomi di luar Jawa yang ditopang ekspor komoditas,” kata Perry.

Terkait hambatan ekspor, sebelum­nya, ekonom Bahana Sekuritas, Satria Sambijantoro, juga mengatakan per­baikan CAD dapat terhambat oleh ting­ginya kembali tensi perang dagang be­lakangan ini. “Proyeksi neraca transaksi berjalan ke depan dipengaruhi oleh pe­rang dagang AS dan Tiongkok yang da­pat memengaruhi kinerja ekspor Indo­nesia,” kata Satria.

Dia menjelaskan, saat ini AS dan Tiongkok merupakan negara tujuan utama ekspor Indonesia dan menyum­bang sekitar 25,87 persen total ekspor nasional. Dengan tingginya tensi pe­rang dagang antara kedua negara, maka permintaan dari mitra dagang tersebut akan berkurang, dan dalam jangka pen­dek mengurangi ekspor Indonesia.

“Saat ini, potensi peningkatan gejala proteksionisme di seluruh dunia bah­kan telah menurunkan volume pengi­riman barang secara global ke tingkat terendah,” ungkap Satria.

Peringatan Keras

Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Andry Asmoro, mengata­kan perlambatan ekonomi global akan mempengaruhi ekspor Indonesia di ta­hun ini, sehingga hal ini akan berdam­pak ke pertumbuhan ekonomi sepan­jang tahun ini.

Akan tetapi, dia lebih khawatir bahwa melemahnya kinerja ekspor akan ber­dampak lebih parah ke defisit transaksi berjalan. Terlebih, angka CAD kuartal I-2019 sebesar 2,6 persen dari PDB ada­lah peringatan keras yang harus diwas­padai. Andry pun memperkirakan de­fisit transaksi berjalan bisa di angka 2,9 persen di akhir tahun ini.

Dia mengungkapkan guna meng­antisipasi hal itu, pemerintah mesti jeli memanfaatkan komponen lain dalam transaksi berjalan agar defisit tidak be­gitu melebar. Komponen transaksi ber­jalan terdiri atas neraca dagang, neraca jasa, dan neraca pendapatan primer dan sekunder. Apabila neraca dagang lemah, pemerintah bisa memanfaatkan neraca jasa, misalnya memacu kinerja sektor pariwisata. YK/Ant/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment