Koran Jakarta | October 20 2018
No Comments
Perebutan Kekuasaan l Malcolm Turnbull seperti Terkena Karma

Scott Morrison, PM Baru Australia

Scott Morrison, PM Baru Australia

Foto : istimewa
Scott Morrison
A   A   A   Pengaturan Font

Sosok Morrison sempat popular di Indonesia karena dia dua kali mengembalikan pencari suaka ke Cikepuh, Jawa Barat, pada 2014.

CANBERRA- Menteri Keuangan Australia, Scott Morrison, terpilih sebagai perdana menteri (PM) baru Australia, pada Jumat (24/8), setelah Partai Liberal memaksa perdana menteri sebelumnya, Malcolm Turnbull, untuk mundur. Morrison, yang merupakan sekutu Turnbull, memenangkan pemungutan suara partai dengan hasil 45–40.

Hasil tersebut mengejutkan sekaligus mengecewakan penantang utama mereka, mantan Menteri Dalam Negeri, Peter Dutton. Sementara itu, Menteri Luar Negeri, Julie Bishop, yang ikut dalam pemilihan, harus tersingkir di putaran pertama pemungutan suara. Menteri Lingkungan dan Energi, Josh Frydenberg, terpilih menjadi wakil pemimpin Partai Liberal.

“Kandidat yang berhasil memenangkan suara adalah Scott Morrison. Dia menang dalam pemilihan ini dengan suara 45–40 melawan Peter Dutton,” kata Nola Marino dari Partai Liberal.

Langkah untuk menggulingkan Turnbull dipicu oleh rencananya pada Senin lalu untuk menerapkan target emisi karbon dalam peraturan perundang-undangan. Penantang Turnbull, Peter Dutton, secara pribadi telah mengirimkan petisi dengan 43 tanda tangan kepadanya untuk memaksa pertemuan partai. Turnbull mengaku telah menerima petisi yang menunjukkan dirinya kehilangan dukungan mayoritas. “Saya baru saja menerima permintaan untuk rapat Parlemen Partai Liberal. Ada 43 tanda tangan (yang mendukung rapat partai),” dalam kicauannya di Twitter.

Pergantian perdana menteri adalah hal lumrah di Australia. Selama satu dasawarsa terakhir, mereka mempunyai enam kepala pemerintahan. Itu hal yang lazim karena Australia menganut sistem parlementer, yang tidak umum. Di sana, yang berhak memilih perdana menteri adalah partai atau koalisi partai dengan kursi mayoritas di dewan perwakilan. Siapa yang menjadi ketua partai, berkuasa otomatis menjadi perdana menteri.

Hanya anggota dewan dari partai itulah yang mempunyai hak memilih perdana menteri. Dengan demikian, perpecahan di kalangan elite partai penguasa akan dengan mudah berdampak pada pergantian pemimpin. Morrison dan Turnbull sama-sama berasal dari Partai Liberal, yang kini berkoalisi dengan Partai Nasional untuk berkuasa di Australia.

 

Usir Imigran

Sosok Morrison sempat popular di Indonesia saat dia menjabat Menteri Imigrasi dan Perlindungan Daerah Perbatasan. Dia dua kali mengembalikan pencari suaka ke Cikepuh, Jawa Barat, pada 2014. Pada saat itu, nelayan di pesisir selatan Indonesia dituding melakukan penyelundupan manusia karena “mengantar” pencari suaka ke Australia.

Morrison juga mengusulkan program pembelian perahu rusak, karena khawatir itu digunakan pelaku perdagangan manusia untuk menyelundupkan pengungsi ke Australia. Program itu tidak bisa berjalan karena tidak mendapat dukungan pemerintah Indonesia.

Dalam menghadapi keadaan itu, sikap Morrison mengeras. Morrison membeli 11 perahu dari Singapura untuk mengangkut pengungsi, yang dicegat di tengah laut di dekat perairan Indonesia.

Dua di antara perahu itu sampai ke Indonesia --di Cikepuh dan Pangandaran-- pada 2014 dengan mengangkut 94 pencari suaka. Kejadian itu langsung mendapat protes keras dari pemerintah dan sejumlah politikus Indonesia.

Apalagi, Australia sempat melanggar kedaulatan wilayah Indonesia saat melakukan operasi usir balik tersebut. Petinggi militer negara benua itu terpaksa meminta maaf kepada pemerintah Indonesia. Penyelidikan oleh angkatan bersenjata kedua negara itu memang menunjukkan bahwa Australia dua kali melanggar kedaulatan wilayah Indonesia. Kebijakan Morrison saat itu juga mendapat banyak kecaman dari lembaga pembela hak asasi manusia. Dia dianggap tidak terbuka dalam mengabarkan seberapa banyak kapal pengungsi diusir balik oleh Australia.

Sementara itu, Malcolm Turnbull sepertinya terkena karma, karena pada tiga tahun lalu, Turnbull mendapatkan jabatan perdana menteri melalui intrik, yang disebut media Australia “kudeta” terhadap Tony Abbott. Sekarang, dia menerima nasib sama.

“Tidak, saya setia,” adalah kalimat pertama Morrison yang diucapkan saat ditanya wartawan kenapa dia menggulingkan petahana. Kata “setia” sepertinya sengaja dipilih karena Turnbull sebelumnya mengatakan bahwa beberapa orang dalam partainya telah berkhianat. 

 

ils/AFP/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment