Sayonara Bemo | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 20 2017
No Comments

Sayonara Bemo

Sayonara Bemo

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Bemo, kependekan dari becak motor, dihabisi pengoperasian di Jakarta, mulai tanggal 6 Juni kemaren. Sebenarnya sejak tahun 1996 pun telah dilarang.

Tapi nyatanya masih berseliweran di jalan tertentu. Jumlahnya kini tinggal 213 buah, dan yang masih bisa beroperasi 163 unit.

Kendaraan ini sudah mengalami perubahan sejak model yang diperkenalkan tahun 1963, saat ada pesta oleh raga Ganefo di Jakarta. Bung Karno sendiri yang mengenalkan, dan disambut gegap gempita.

Maklum, pada waktu itu, bemo sangat modern—dibanding becak. Jarak jangkaunya lebih jauh, bisa membawa penumpang lebih banyak dan terkesan modern.

Lebih dari itu, bemo menyimpan kenangan manis. Banyak kisah romantik dari bemo. Penumpang yang duduk berdesakan, dengan lutut bersentuhan.

Dari sinilah kisah romantik yang menjadi bagian dari perjodohan. Tahun 60-an hingga 70-an, adalah tahun bemo yang bisa menghubungkan dua tujuan—yang jalurnya tidak dilalu bis umum, yang relatif murah, dan nyaman.

Sebelum akhirnya dianggap berisik, banyak asap membuat polusi, mengganggu kelancaran lalu lintas, dan kemudian sekali dinyatakan tidak layak. Tidak hanya di Jakarta bemo disisihkan, dipinggirkan, tidak dinyatakan layak, melainkan di kota-kota lain.

Sama dan serentak secara resmi mengemohi. Kota Solo resmi melarang penggunaan bemo sejak tahun 1979, meskipun sisa-sisanya masih ada.

Baik masih sebagai bemo atau bentuknya menyerupai “odong-odong”, untuk rekreasi anak-anak. Bemo adalah produk Daihatsu, yang kala itu produk truk kecil kalah bersaing dengan Toyota, dan lebih diperuntukkan mengangkut barang—itu sebabnya tempat duduknya sempit kalau dua orang berhadap-hadapan.

Bemo ternyata menjadi jawaban kebutuhan transportasi untuk jarak tertentu. Bukan hanya di Indonesia, melainkan juga Asia.

Sampai kemudian dianggap tidak layak dan dihentikan, juga di luar Indonesia. Kita bisa mengucapkan sayonara—kata perpisahan dari negeri yang memproduksinya, pada bemo.

Tapi, kenangan mungkin tak hilang bersamanya. Untuk Jakarta masih ada titik untuk melihat bemo mangkal atau beroperasi, seperti di Mangga Dua, Grogol, Bendungan Hilir—daerah yang sering saya lewati, Karet, dan Manggarai.

Saya ingin menjadi saksi, apakah dengan itu bemo benar-benar tersingkir. Atau masih hadir. Masih bisa mengalir di keramaian lalin Jakarta dengan suaranya yang berisik, dengan kenal pot penuh asap, dengan susah menikung, tapi itu semua ini bukan salah dia.

Saya ingin menjadi saksi karena saya pernah menjadi “juragan” bemo, walau hanya mempunyai satu buah. Itu untuk keperluan shooting membuat sinetron seri.

Soalnya harga sewa mahal—dan tak biasa disewa, maka dibeli untuk bisa dipergunakan. Hampir selalu macet, dan kendaraan ini tidak disertai surat-surat kepemilikan, tak ada surat izin trayek, tak perlu bayar pajak, dan sebagainya.

Juga tak perlu khawatir kena tilang. Polantas, juga Dishub memaklumi. Bahkan “Pak Ogah” tak mengharap kalau membantu belok di tikungan. Relatif aman, walau tak dikunci kalau diparkir sembarangan. Bukan karena apa, jarang bemo yang tokcer setelah ngadem.

Perlu “upacara kecil” untuk menghidupkannya. Kalau tetap ngadat, ada montir khusus yang menjadi spesialis bemo.

Yang mengetahui cara mencari orderdil yang sudah lama tidak diproduksi pabrik aslinya. Aneh, atau hebatnya, masih saja ada orderdil hasil kanibal, atau dari mobil lain merek, lain cc, lain pabrik.

Waktu dijual lagi harganya pun “damai”— karena tak ada harga di pasaran sebagai pembanding. Kini, bemo dinyatakan berhenti—sekali lagi.

Kenangan bersamanya sebenarnya bisa berlanjut sebagai kendaraan wisata, misalnya, atau tempat wisata. Semacam “reborn”, dilahirkan kembali.

Mengikuti jejak film Warkop, di mana salah satu pemain utamanya, Dono Warkop, dijuluki tampang bemo. Bemo, jujur saya katakan, janganlah menjadi mantan.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment