Koran Jakarta | June 17 2019
No Comments

Satu Vespa Seribu Saudara

Satu Vespa Seribu Saudara

Foto : ISTIMEWA
Kutu Distrik Depok untuk mewadahi para pecinta Vespa yang berada di wilayah Depok dan sekitarnya.
A   A   A   Pengaturan Font

Kebersamaan menjadi magnet untuk merekatkan hubungan antara para anggota komunitas pecinta Vespa.

Mencintai Vespa bukan sekadar otomotifnya. Kebersamaan sesama pecinta vespa menjadi daya tarik lain selain kendaraan­nya.. Hal tersebutlah yang dirasa­kan, Kutu Distrik Depok, komunitas Vespa di daerah Depok, Jawa Barat sebagai salah satu komunitas vespa di Tanah Air.

Tin-tin…, klakson Vespa berbunyi antara satu pengendara ke pengen­dara lain di tengah perjalanan. Lalu, mereka saling bertukar pandang dan melempar senyum.

Seolah meminta ijin, satu vespa melaju terlebih dahulu. Itulah kebersamaan dari para pecinta Vespa. Meski tidak saling menge­nal, mereka akan saling menyapa jika bertemu di tengah perjalanan layaknya bertemu saudara maupun teman dekat.

“Kebersamaan,” ujar Muhamad Taufik, Pengurus Kutu Distrik Depok tentang daya tarik komunitas yang ditemui di rumah Daranty, salah satu anggota Kutu Distrik Depok, dibilangan Cinere, Depok, belum lama ini. Rupanya, kebersamaan tersebut mampu menjadi magnet untuk merekatkan hubungan antara para anggota Kutu Distrik Depok. Sapaan di tengah jalan merupakan salah satunya.

Kebersamaan lainnya terlihat dari, para pecinta Vespa yang tidak perlu risau saat kendaraan meng­alami kerusakan di tengah jalan. Mereka tinggal menunggu vespa yang melintas yang akan menolong memperbaiki kendaraan.

“Akan ada yang datang menolong (sesama pengendara vespa),” ujar Daranty, 23, Sekretaris Kutu Distrik Depok. Perempuan yang biasa di­sapa Dara pernah mengalami Vespa­nya mogok. Lalu, ia melepas tebong Vespa lalu menaruhnya dipinggir jalan. Tak berapa lama, ada pengen­dara vespa yang menghampir dan menanyakan kondisi Vespanya. Lalu, ia pun dibantu memperbaiki kendaraannya.

Begitupula jika ada anggota distrik lain yang datang ke salah satu distrik. Mereka akan saling berkum­pul di warung kopi terdekat untuk menjamu dalam hal ini dimaksud­kan untuk berkumpul. Seperti saat anggota Kubu Distrik Surabaya datang ke Kubu Distrik Bekasi, Kubu Distrik Depok turut menyambangai dan berkumpul di salah satu warung kopi.

Sebagai salah satu komunitas Vespa, Kubu Distrik Depok tidak menutup diri dengan para pecinta Vespa lain. Bahkan kesenggangan yang sempat muncul antara pecinta Vespa metik dan vespa klasik pun dapat pun lambat laun terkikis.

“Satu Vespa seribu saudara, dulu slogannya begitu, jadi harus dijaga,” ujar Muhamad Taufik yang biasa disapa Taufik, pemilik vespa metik yang telah tergabung di komunitas selam dua tahun belakangan ini.

Secara rutin, Komunitas Dis­trik Depok melakukan kopi darat (Kopdar) satu bulan sekali. Kop­dar dilakukan dalam waktu yang lebih fleksibel. Acara Kopdar dapat dilakukan pada weekdays maupun weekend sesuai dengan keluangan waktu para anggotanya.

Hal ini lantaran, rata-rata para anggota memiliki pekerjaan dan keluarga. Sehingga meskipun hobi, mereka mengutakan pekerjaan dan keluarga. “Tidak ada kewajiban datang saat kopdar,” ujar Taufik, namun umumnya mereka akan menyempatkan datang ke kopdar di waktu luang.

Kopdar akan diisi dengan riding di daerah sekitar Depok. Lalu, me­reka akan kumpul di sebuah warung kopi sekedar tukar pikiran tentang vespa maupun kegiatan komunitas.

Dalam kopdar, pecinta vespa dari komunitas lain maupun di luar Kutu Distrik Depok dapat turut berga­bung. Biasanya, mereka akan saling tukar event. Di bulan ramadhan, mereka mengisi kegiatan dengan membagi takjil.

Sebagai salah satu komunitas pecinta kendaraan, Kutu Distrik Depok berupaya mengajak anggo­tanya untuk menjadi pengendaraan yang taat berlalu lintas. Untuk itu selain memiliki Vespa, bagi pecinta Vespa yang ingin bergabung mereka diminta untuk memiliki keleng­kapan surat-surat berkendaraan, seperti SIM dan STNK. Kendaraan memiliki plat motor, lampu, spion serta menggunakan helm selama berkendaraan.

Kutu Distrik Depok merupakan bagian dari Kutu Community yang berpusat di Jakarta. Kutu Distrik De­pok untuk mewadahi para pecinta Vespa yang berada di wilayah Depok dan sekitarnya. Terlebih, pecinta vespa Depok tergolong memiliki hubungan kebersamaan yang kental antara satu dengan lainnya.

Kutu yang menjadi penamaan komunitas tidak lain merupakan singkatan dari Ketika Usia Tak Men­jadi Urusan. Jadi menyukai Vespa tak perlu memandang usia. din/E-6

Siap dengan Onderdil Bekas

Pencarian on­derdil merupa­kan tantangan untuk kendaraan-ken­daraan klasik, salah satunya vespa. Hal ini lantaran, pabrik kendaraan sudah tidak memproduksi onderdil sesuai tahun produksi kendaraan.

“Kalau klasik (Vespa) rumit dari segi onderdil sih,” ujar Dara tentang pera­watan Vespa klasik. Para pencinta Vespa yang tengah men­cari onderdil harus memahami tahun produksi kendaraan supaya mendapatkan onderdil yang sesuai. “Kalau cari yang asli sulit sih,” tambahnya.

Para pecinta Vespa biasa men­cari onderdil bekas di sejumlah toko. Terkadang, mereka mencari onderdil yang dibutuhkan dari teman-teman di komunitas. Sampai saat ini, masih ada anggota komunitas yang men­cari onderdil Vespa keluaran 1960. Selain antar teman, terkadang mereka mencari onderdil melalui online.

Hanya, barang yang dijual di online berbeda dengan kondisi aslinya. Sebagai contoh speedom­eter yang dalam produksi aslinya terbuat dari kaca. “Kalau yang dijual di online itu menggunakan plastik,” ujar wanita yang memi­liki dua vespa ini.. Kalaupun, ada pecinta vespa yang mendapatkan speedometer asli biasanya sudah berwarna kuning lantaran usia onderdil.

Meski sulit, onderdil vespa klasik bukan berarti tidak dapat diperoleh. “Kalau cari pasti dapat,” ujar dia. Onderdil yang menjadi salah satu tantangan perawatan vespa klasik tidak menyurutkan pecintanya.

Vespa makin diburu terutama oleh para kolektor. Terlebih vespa klasik memiliki harga jual tergolong tinggi, yaitu mencapai ratusan juta rupiah. Bahkan kecin­taan terhadap vespa tidak sekadar nyaman untuk dikendarai namun Vespa dapat dijadikan investasi. “Bisa (untuk inveatasi),” ujar Tau­fik singkat.  din/E-6

Berkendara Nyaman dan Percaya Diri

Vespa menjadi kendaraan yang tidak lekang waktu. Kenda­raan yang memiliki bunyi nyaring ini menjadikan pengen­daranya merasa percaya diri selama di perjalanan.

Hal tersebut dirasakan Dara. Menurutnya, tak dipungkiri, vespa mampu meningkatkan kepercayaan diri selama di perjalanan. “Keper­cayaan diri tinggi bersama Vespa,” ujar perempuan yang biasa meng­gunakan Vespa untuk pergi kuliah maupun ke tempat kerja.

Vespa yang merupakan ken­daraan unik menjadikan para pengendara dilirik pengendaraan lain. Terlebih jika perempuan yang mengendarainya. “Kita cewek pasti kayak ratu banget,” ujar dia ten­tang pengalamannya diperhatikan pengendara lain selama perjalanan.

Selama ini, Dara lebih senang mengendari Vespa seorang diri ke­timbang harus berboncengan. Me­nurut dia, ada kepuasan batin saat mengendai motor sendirian. “Kalau berdua tuh ngobrol,” ujar dia.

Selain fokus mengendarai ber­cabang, obrolan yang dibahas pun tidak dapat ditangkap terlalu jelas lantaran suaranya bersaing dengan suara kendaraan. Kalau sendirian, ia lebih fokus membawa kendaraan di jalanan dan dapat menikmati perja­lanan tersebut.

Jika dibandingkan sepeda motor lainnya, Vespa merupakan kendara­an yang tidak untuk dikendari secara ugal-ugalan walaupun kendaran da­pat dipacu kencang. Tanpa disadari, pengendara vespa akan membawa kendaraannya lebih sopan.

Entah alasan body atau mesin kendaraan, secara tidak langsung pengandara akan menjadi lebih santun. Pengendara Vespa baru akan memacu kendaraan di jalanan lengang namun tidak mendahuli kendaraan lain secara zig-zag seke­dar mengejar kecepatan.

Hampir senada dengan Dara, Taufik merasa ada kepuasan saat mengendarai vespa. “Ada kepuasan,” ujar pria yang lebih senang mengendarai Vespa dengan mesin standar ini. Menurut dia, karena vespa tergolong kendaraan yang jarang dimiliki orang sehingga ada keseruan saat mengendarainya ketimbang kendaraan roda dua pada umumnya.

Saat bekerja di Jakarta, Taufik memilih membawa Vespanya pada saat weekend. Lantaran pada hari tersebut, kondisi lalu lintas tidak seramai hari kerja. Sehingga, dia lebih leluasa memacu Vespanya. Alasan lainnya, vespa lebih nyaman digunakan di jalanan yang lengang.

“Kalau dipakai di jalanan macet nggak ketemu nyamannya. Kalau jalanan nggak macet, kita menikmati perjalanan santai itu enak,” ujar pria yang setiap pagi tidak lupa ngelap vespanya. Saat ini, ia sering membawa vespa ke tempat kerjanya di daerah Cibubur yang tidak terlalu jauh dari rumahnya di kawasan Depok Timur, Jawa Barat.  din/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment