Salurkan Keresahan Berbalut Kelucuan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | August 11 2020
No Comments
Stand Up Indo Depok

Salurkan Keresahan Berbalut Kelucuan

Salurkan Keresahan Berbalut Kelucuan

Foto : dok/Komunitas
A   A   A   Pengaturan Font

Stand Up Indo Depok bukan sekadar kumpulan komika yang mengedepankan kelucuan atau menghibur semata, tetapi juga menjadi penyambung lidah nilai-nilai sosial yang bermanfaat untuk masyarakat.

Siapa sangka kesenangan terhadap komedi dapat mengantarkan menjadi komika. Profesi ini kini terus berkembang, tidak hanya sebatas melucu atau lelucon semata.

Pemain Stand Up Comedy selain menghibur juga berfungsi menyampaikan nilai-nilai sosial berupa kritikan maupun yang dirasa bermanfaat bagi masyarakat.

Andri Sakti, 30, mengatakan menjadi komika atau pelaku Stand Up Comedy tidak lain lantaran kesenangannya terhadap komedi. Bapak dua anak yang tergabung dalam Stand Up Indo Depok ini telah memendam keinginannya untuk menjadi pelawak, namun bukan pelawak konvensional yang mengandalkan kelucuan dengan mengandalkan fisik semata, melainkan komedian yang kelucuannya membawa nilai-nilai serta bermanfaat untuk masyarakat.

“Kalau ini (Stand Up Comedy) ada pemikiran yang disampaikan, jadi nggak hanya ketawa tapi ada nilai yang disampaikan,” ujar dia beralasan menjadi seorang komika. Dengan kelucuan tersebut, dia beranggapan komika memiliki nilai lebih ketimbang sekadar membuat penonton tertawa.

Keresahan menjadi materi awal Stand Up Comedy. Andri, demikian disapa, lebih banyak mengangkat tema-tema tentang keresahan orang tua yang memiliki anak.

Lantaran tema dianggapnya penting, dia dan teman-temannya sampai menggelar show Stand Up Comedy dengan judul Dua Cukup. Selain itu, dia ingin membuktikan bahwa Stand Up Comedy tidak saja sebagai ajang berkreasi untuk anak-anak muda melainkan untuk orang-orang yang lebih dewasa. Sebelum membawakan materi, Andri akan menulis terlebih dahulu materi-materi yang akan disampaikan dalam Stand Up Comedy.

Ia mengaku bukan termasuk orang yang mampu mengantaran materi secara langsung, menulis materi secara runut dan mempelajari sebelum tampil di atas panggung merupakan cara aman untuk meminimalkan kesalahan.

Perkaya Materi Seperti halnya Andri, Gideon Victor Tulus Parulian mengaku bahwa setiap materi yang akan disampaikan di atas panggung perlu ditulis terlebih dahulu.

“Kalau saya ditulis,” ujar dia. Sering kali, materi yang ditulis tidak langsung menjadi satu tema cerita. Dia masih harus memperbaiki beberapa bagian supaya materi lebih kaya dan dapat memancing tawa penonton. Materi-materi yang telah ditulis akan dipraktikkan dan merekamnya. Jika kurang lucu, dia akan memperbaiki kembali atau mengasahnya melalui beberapa open mic, panggung Stand Up Comedy.

Proses pun dilakukan berulang-ulang. Ketertarikan terhadap komedi telah muncul sejak duduk di bangku SMP. Tulus, begitu ia biasa disapa dikenal senang melucu di antara teman-temannya.

Saat sekolah mengadakan class meeting, dia didaulat untuk tampil sebagai peserta. Semasa SMA, dia mulai banyak menyimak YouTube komika, seperti Raditya Dika.

Setelah duduk dibangku kuliah, dia mulai banyak tampil open mic. Tulus yang tertarik dengan masalah keseharian serta dunia perkuliahan ingin menjadi komika profesional dan mengandalkan hidup dari profesi ini. Karena, menurutnya, profesi komika sangat menjanjikan.

Panggung Komika Pemula

Stand Up Comedy menjadi cara untuk menyalurkan keresahan berbalut komedi. Keterampilan ini bukan sekadar berani tampil di panggung atau berbicara di depan umum.

Namun, keterampilan yang diasah secara terus-menerus. Stand Up Indo Depok menjadi komunitas Stand Up Comedy yang membuka ruang bagi para pencinta Stand Up Comedy unjuk kemampuan.

Menjelang pukul 21.00 WIB, Rabu (5/2), sebuah kafe di bilangan Margonda, Depok, makin dipenuhi pengunjung. Mereka tidak hanya sekadar pengunjung kafe yang ingin minum kopi, melainkan para peserta TAKKASHILUCU.

Suatu ajang latihan rutin Stand Up Comedy yang digelar setiap Rabu oleh Stand Up Indo Depok. Tanpa memiliki arti khusus, TAKKASHILUCU berarti tak kasih lucu.

“Ini adalah tempat latihan, jadi siapa saja boleh mencoba, bebas,” ujar Arbie Sani, 21, Ketua Stand Up Indo Depok, yang ditemui di tempat latihan, Rabu (5/2).

Ajang latihan yang telah digelar sejak 2011 tidak pernah sepi peminat. Tak kurang setiap Rabu, ada sekitar 15 sampai 20 peserta. Mereka unjuk kemampuan sebagai Komika, sebutan untuk pelaku Stand Up Comedy, di depan pengunjung kafe setempat.

Materi yang ditampilkan bermacam-macam sesuai dengan keinginan komika, sebutan pelaku Stand Up Indo Depok. Ada persoalan yang terkait dengan perkuliahan bahkan ada masalah keluarga. Para komika memiliki kebebasan untuk menyampaikan materinya.

“Materi, semua berasal dari diri sendiri,” ujar dia. Ajang yang digelar setiap Rabu menjadi ajang latihan untuk para komika. Mereka bisa mengeskpresikan diri untuk menyempaikan pesan yang dibalut dengan komedi.

Kadang-kadang, materi yang disampaikan tidak lucu, namun adakalanya materi dapat membuat penontonnya terbahak-bahak. Namun, itulah yang namanya latihan, semua berproses untuk mencapai hasil yang maksimal. Stand Up Comedy merupakan penyampaian keresahan yang dibalut dengan komedi. Dapat dikatakan, penyampaian keresahan yang berbalut komedi ini pun tanpa batas.

Para komika dapat menggunakan segala bahasa bahkan pengandaian yang terkesan vulgar maupun SARA untuk menyampaikan keresahannya. “Asalkan tahu tempat,” ujar Arbie.

Pasalnya, tidak semua penonton dapat menerima materi yang disampaikan para komika. Untuk itu, para komika lah yang perlu memfilter jenis materi yang ingin disampaikan dengan kalangan penonton sebagai penikmatnya.

Sejak berdiri 2011, Stand Up Indo Depok telah memliki sekitar 60 anggota aktif. Jumlah tersebut tergolong sedikit dibandingkan jumlah peserta yang latihan dengan rentang waktu berdirinya komunitas.

Hal ini lantaran, komunitas tidak bersifat mengikat terhadap anggota yang telah ikut tampil setiap hari Rabu. Ada peserta yang baru sekali datang langsung menghilang namun ada peserta aktif latihan setiap Rabu.

Saat ini, komika makin memiliki peluang terjun secara profesional makin terbuka lebar. Beberapa perhelatan menampilkan Stand Up Comedy sebagai salah satu rangkaian acaranya, mulai pentas seni di sekolahan hingga acara perusahaan.

Jika mendapatkan undangan untuk tampil di salah satu acara, komunitas akan memiliki komika yang memiliki kemampuan memadai. Jam terbang menjadi upaya untuk mengasah kemampuan para komika. Selain tampil dalam ajang komunitas, mereka dapat ikut kompetisi maupun tampil di kafe-kafe. Karena keterampilan menjadi komika tidak bisa ditempuh dalam waktu singkat.

“Lucu Itu Tidak Mudah”

Lucu menjadi bagian materi yang disampaikan dalam Stand Up Comedy. Namun, materi yang bisa mengundang gelak tawa bukanlah materi yang mudah. Para komika perlu mengasah kemampuannya supaya bisa membuat penonton tertawa. “Lucu itu susah-susah gampang,” ujar Arbie. Karena tidak semua orang memiliki kemampuan melucu.

Beberapa orang malah perlu latihan supaya materi Stand Up Comedy-nya terasa lucu. Namun ada juga, orang yang dengan mudah bisa melucu. “Jadi, kalau dia latihan jadi semakin lucu,” ujar Komika yang senang menampilkan materi tentang keseharian di lingkungan tempat tinggalnya di pinggiran Depok.

Selain materi dalam Stand Up Comedy, sisi komedi dapat diperkuat dengan gestur tubuh maupun intonasi suara. Terkadang, materi yang disampaikan tergolong kurang greget. Namun, karena ada permainan intonasi dan gestur tubuh, materi yang terkesan biasa pun dapat mengundang gelak tawa penonton.

Berbeda dengan Arbie, Andri memilih kelucuan tidak menjadi fokus dalam materi. Bagi laki-laki yang ingin menjadikan komika sebagai pekerjaan yang akan digeluti hingga tua nanti, lucu bukan fokus dari materi yang ingin disampaikan.

“Tapi kita senang dulu dengan yang kita omongin,” ujar dia. Lalu, dalam penampilan ditambah dengan gestur tubuh dan tekann suara. Sehingga, materi akan berjalan lebih natural dan dapat mengundang respons penonton termasuk gelak tawa. Setiap komika memiliki kenyaman yang berbeda dalam membawakan materinya.

Ada komika yang tampil sambil meloncat-loncat. Ada komika yang bermain dengan intonasi suara. Ada lagi, komika yang tampil dengan kata-kata atau diksi yang kuat. Tiap komika memiliki karekternya sendiri. “Tergantung dia nyamannya di mana,” ujar dia.

Andri mengaku dirinya masih berkutat dengan keresahan yang ingin ditampilkan. Dari segi penampilan, dia termasuk komika yang tidak aktif bergerak di atas panggung.

Namun tidak menutup kemungkinan, dia akan menjadi komika yang berkembang dengan karakter lain. Karena baginya, komika akan terus tumbuh dan berkembang termasuk dalam mengantarkan materi di atas panggung.  din/S-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment