Saluran Drainase Harus Diperkuat | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 20 2020
No Comments
Mengatasi Banjir | Normalisasi dan Naturalisasi Bisa Dilakukan Bersamaan

Saluran Drainase Harus Diperkuat

Saluran Drainase Harus Diperkuat

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Banjir di Jakarta terjadi sebagai akibat curah hujan tinggi, namun drainase internal tidak mampu mengalirkan air dengan baik.

 

YOGYAKARTA – Normalisa­si sungai dapat dilakukan se­bagai salah satu langkah untuk mengatasi banjir di wilayah Ja­karta. Untuk mendukung upa­ya normalisasi, saluran drai­nase harus lebih diperkuat strukturnya dengan beton agar tahan erosi.

Selain normalisasi sungai, naturalisasi juga menjadi salah satu cara untuk mengatasi ban­jir. Namun, untuk membuat sa­luran naturalisasi dengan debit besar membutuhkan tampang atau tanggul sa­luran yang luas. “Pertanya­annya, apakah Jakarta bi­sa membuat tampang lebar dengan membuang pendu­duk di tepi sungai?” kata Pakar teknik sumber daya air Univer­sitas Gadjah mada (UGM), Bu­di Santoso Wignyosukarto, saat jumpa pers bersama sejumlah pakar hidrologi dan lingkung­an, di rektorat UGM, Yogyakar­ta, Senin (6/1).

Acara tersebut dalam rang­ka memberi masukan atas ben­cana banjir yang menimpa Ja­karta dan sekitarnya, awal ta­hun ini.

Budi menambahkan, sis­tem polder yang merupakan kombinasi tanggul dan pom­pa juga dapat digunakan untuk mengatasi banjir. Konsep ini bisa dipakai di sejumlah tem­pat dengan ketinggian muka air tanah lebih rendah diban­dingkan muka air laut. “Upa­ya lain untuk mengurangi ban­jir dengan memperbanyak ru­ang terbuka hijau untuk daerah resapan,” tambahnya.

Menurut Budi, banjir di Ja­karta terjadi sebagai akibat curah hujan yang cukup ting­gi, tetapi drainase internal ti­dak mampu mengalirkan air dengan baik. Oleh sebab itu harus dilakukan manajemen air dengan baik. Selain itu juga manajemen penggunaan tanah untuk daerah resapan air ser­ta manajemen manusia dalam mengelola sumber daya air.

Kepala Pusat Studi Trans­portasi dan Logistik (Pustral) UGM, Nur Yuwono, mengata­kan perlu mengubah konsep pemikiran dalam penyelesai­an persoalan banjir. Anggapan bahwa air menjadi barang yang tidak berguna perlu dirubah menjadi barang yang memiliki nilai kemanfaatan tinggi. Oleh sebab itu perlu pengendali­an banjir dengan peneglolaan sumber daya air.

Tak hanya itu, menangani banjir bisa dilakukan dengan menangani air dari sumbernya serta penanganan hujan lokal dengan sistem jaringan. Selain itu juga harus dilakukan secara terintegrasi.

“Kesadaran masyarakat di daerah tangkapan air juga per­lu dibangun,” tandasnya.

Banyak Cara

Secara terpisah, Ahli Drai­nase dan Anggota Pusat Pene­litian Infrastruktur dan Ling­kungan Berkelanjutan, Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS), Umboro Las­minto mengatakan, mengatasi bencana banjir tidak dapat di­tanggulangi hanya dengan satu cara. Tetapi, banyak cara yang harus dilakukan bersama-sa­ma dan terintegrasi.

Cara tersebut, di antaranya bendungan/tampungan hulu segera dibangun atau diselesai­kan, perbanyak resapan air di hulu, normalisasi dan natural­isasi dilakukan di lokasi yang te­pat, mengeruk waduk/boesem di hilir, membuat tampungan hilir, membangun pompa dan pintu air, memperbaiki saluran drainase, serta mengeruk sedi­men dan sampah di dalam su­ngai dan saluran.

Dia berpendapat, naturalisa­si dan normalisasi sungai dapat dikerjakan secara bersama-sa­ma. Naturalisasi bisa dilakukan di daerah yang memungkin­kan untuk pembebasan lahan yang cukup lebar karena dibu­tuhkan penampang utama dan bantaran sungai dalam bentuk alami. “Jadi untuk daerah yang memungkinkan tersedia lahan yang lebar di tepi sungai dapat dilakukan naturalisasi sungai,” katanya.

Sementara normalisasi de­ngan memperlebar, mening­katkan kedalaman aliran agar kecepatan dan kapasitas deb­it meningkat. Karena keter­sediaan lahan terbatas maka normalisasi dilakukan dengan membuat tebing sungai tegak atau hampir tegak, sehingga perlu bangunan perkuatan agar tidak longsor. YK/SB/E-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment