Koran Jakarta | June 26 2017
No Comments
WAWANCARA

Saldi Isra

Saldi Isra

Foto : ANTARA/Rosa Panggabean/Puspa Perwitasari
A   A   A   Pengaturan Font
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengangkat dan mengambil sumpah Saldi Isra untuk menjadi hakim Mahkamah Konstitusi (MK). Pengangkatan Saldi ini untuk menggantikan Patrialis Akbar yang diberhentikan tidak dengan hormat oleh Majelis Kehormatan MK karena terbukti melakukan pelanggaran berat terhadap kode etik dan pedoman perilaku hakim MK.

Pengambilan sumpah pria yang menyelesaikan pendidikan doktornya di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta tersebut berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 40/P Tahun 2017 dan digelar di Istana Negara, Jakarta, Selasa (11/4) kemarin.

Sebelum diangkat sebagai hakim konstitusi, Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Andalas itu lebih dulu menyisihkan dua nama calon hakim lainnya yang telah diserahkan kepada Presiden Jokowi oleh panitia seleksi (Pansel) Hakim MK pada 3 April 2017. Dua nama itu yakni dosen Universitas Nusa Cendana, NTT Bernard L Tanya, dan mantan Dirjen Peraturan Perundang-undangan Kemenkumham, Wicipto Setiadi.

Saat ini, Saldi sudah resmi menjabat hakim MK. Sejumlah langkah akan dilakukan dalam menjalani rutinitas sebagai hakim MK. Untuk mengetahui apa yang akan dilakukan ke depan, wartawan Koran Jakarta, Muhammad Umar Fadloli dan Agus Supriyatna berkesempatan mewawancarai Saldi Isra seusai dilantik Presiden Jokowi, di Istana Negara, dan di kesempatan terpisah di Jakarta, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Banyak orang berharap dengan terpilihnya Bapak saat menjabat hakim konstitusi, langkah apa yang akan dilakukannya?

Saya terima kasih banyak yang berharap begitu. Kalau ada orang baru kan pasti ada harapan. Tapi, yang paling penting dipahami, kalau bicara MK itu kan hakim menjadi salah satu komponen saja di antara beberapa komponen lain.

Maksudnya komponen lain seperti apa, bisa dijelaskan?

Iya, begini, di MK itu kan ada hakim, sekretariat jenderal (Setjen), dan kepaniteraan. Dari hakim, saya menjadi satu di antara sembilan orang yang ada. Makanya saya katakan, yang paling penting sekarang adalah membangkitkan posisi yang dulu pernah dicapai MK. Ini harus menjadi kebutuhan dan keinginan kolektif di MK. Itu yang paling penting menurut saya.

Bapak adalah hakim yang paling muda, apa ini akan jadi kendala?

Saya berharap, walaupun usia muda, tapi semuanya hakim kostitusi yang ada sekarang kan komunitas yang tidak asing bagi saya. Apalagi saya sering berinteraksi dengan hakim MK. Saya kenal baik kok dengan semua hakim-hakim konstitusi. Jadi, sekalipun saya yang paling junior, paling muda di antara mereka, saya kira itu tidak akan menjadi hambatan yang berarti untuk memulai langkah saya di MK.

Bapak yakin mereka akan langsung menyatu?

Saya percaya, hakim-hakim MK menyambut kedatangan saya di MK dan itu menjadi modal awal saya bekerja bersama dengan sembilan hakim lainnya untuk memulai tantangan baru di MK.

Terkait informasi bahwa Bapak pernah menjadi penasihat hukum pemerintah, bagaimana tanggapannya?

Nah, itu informasi yang keliru. Saya tidak pernah menjadi penasihat hukum pemerintah. Sebagai profesor hukum tata negara, kalau ada orang minta pendapat, ya kami berikan.

Bapak akan tetap menjaga independensi saat jadi hakim MK? S

aya tetap akan menempatkan posisi independen saya untuk soal-soal yang berkaitan dengan perkembangan ketatanegaraan. Banyak orang mengatakan saya dekat dengan Presiden Jokowi, saya kira tidak keliru juga, tapi saya tetap mempertahankan independensi. Anda bisa baca tulisan-tulisan saya pada umumnya itu kritis kepada pemerintah. Jadi, kalau pemerintah atau instansi mana pun memerlukan pendapat, saya akan selalu berupaya memberikan sesuai dengan keilmuan saya, tanpa kemudian merusak independen yang sudah saya bangun sejak lama. Mudahmudahan saya bisa bertahan dalam posisi seperti ini.

Bapak mempunyai beberapa jabatan seperti komisaris di PT Semen Padang, itu bagaimana?

Kalau komisaris, saya sudah menyampaikan surat pernyataan mengundurkan diri atau berhenti. Terhitung mulai ini (setelah dilantik), saya sudah tidak lagi di Semen Padang. Jadi clear soal-soal yang terkait saya di Semen Padang. Posisi saya sebagai dosen mulai juga sudah diproses untuk cuti di luar tanggungan negara. Tadi malam saya sudah menyepakati dengan teman-teman untuk berhenti dari Direktur Pusat Studi Konstitusi Fakultass Hukum Universitas Andalas. Jadi, semuanya sudah saya lepaskan. Saya akan berkonsentrasi sebagai hakim konstitusi.

Berarti Bapak akan total di MK?

Iya, ini perlu perhatian total, karena saya menganggap tahun 2019 akan menjadi periode yang krusial. Menuju 2019 semua hakim, semua komponen, baik di Setjen ataupun di kepaniteraan harus memiliki komitmen yang sama. Pada tahun 2019 tingkat kepercayaan publik kepada MK harus pulih seperti sediakala.

 

ANTARA/PUSPA PERWITASARI

 

Apa yang akan Bapak tawarkan untuk kebaikan MK ke depan?

Saya akan tawarkan beberapa konsep, misalnya soal justice office, lalu bagaimana meningkatkan yang jadi kritik selama ini. Ada putusan yang lama selesai dan segala macam. Itu beberapa hal yang, menurut saya, harus didiskusikan.

Apa maksud dari justice office itu, bisa dijelaskan?

Justce office itu sebetulnya office yang di dalamnya hakim dibantu oleh banyak orang yang memiliki pengetahuan dan itu menjadi supporting staf dari para hakim.

Staf ahli, maksudnya?

Boleh disebut begitu, tapi kan di MK banyak sekali anak-anak muda yang memiliki pengetahuan mumpuni untuk bicara hukum tata negara. Apalagi sebagian yang masuk MK itu kan lulusan terbaik perguran tinggi di Indonesia. Jadi, mereka direkrut ketika MK sedang berada di top performance.

Terkait pemilihan hakim MK, kapan Bapak dihubungi Istana?

Saya informal diberitahu itu pada Kamis (6/4). Jadi diberitahu, siap-siap akan ada pelantikan pada hari Selasa.

Ada pesan khusus yang disampaikan Presiden Jokowi seusai pelantikan?

Enggak ada, saya sampai hari ini (dilantik), sejak proses awal sampai hari pelantikan, baru tadi ketemu dengan Presiden Jokowi. Saya dulu kan pernah menjadi ketua tim seleksi juga. Dulu malahan sebelum pelantikan, seorang hakim yang terpilih itu bertemu dulu dengan Presiden. Saya sekarang sama sekali tidak dipanggil. Jadi mungkin, menurut saya, itu bisa ditanya ke Presiden Jokowi kenapa saya tidak dipanggil.

Apa tekad Anda di MK, mengingat sekarang citra mahkamah bisa dikatakan terpuruk dengan munculnya dua kasus yang melibatkan dua hakim MK, bahkan salah satunya adalah Ketua MK terdahulu?

Yang pasti saya akan langsung mengikuti sidang di MK. Tentu, saya ingin mengembalikan kepercayaan publik terhadap MK. Karena itu semua jabatan sudah saya lepaskan. Saya akan berkonsentrasi sebagai hakim konstitusi.

Banyak yang mengatakan Anda ini sebenarnya bukan orang baru di MK. Bisa dijelaskan?

Terus terang sebagai akademisi, pergaulan saya dengan MK sebenarnya sudah lama terjalin intens. Dari tahun 2008 sampai kemudian muncuk kasus Pak Akil, ya bisa dikatakan saya banyak berhubungan dengan MK.

Hubungannya naik turun?

Ya, hubungan pergaulan dengan MK naik turun.

Apa yang bisa ditarik sebagai pelajaran dari kasus Akil Mochtar dan Patrialis bagi Anda?

Saya kira begini, seorang hakim konstitusi itu tidak boleh disetir. Hakim konstitusi tidak boleh memberikan ruang untuk bisa dikooptasi oleh lembaga, orang atau kelompok mana pun. Termasuk oleh yang mengajukan saya. Harus independen. Jadi harus menanggalkan dari mana dia diajukan. Hakim periode pertama itu tidak memperlihatkan identitas dari mana mereka muncul. Semangat membangun dan menjaga integritas harus terus dijaga.

Banyak yang berharap Anda bisa jadi vitamin yang bisa memperbaiki citra mahkamah yang sedang terpuruk. Bisakah itu diwujudkan?

Begini MK ini banyak memiliki anak muda dengan pengetahuan mumpuni. Khususnya pengetahuan soal hukum tata negara. Saya kira, mereka adalah aset. Mereka bisa diajak berdiskusi mengenai berbagai perkara yang masuk ke MK.

Ada yang menyebut Anda jadi hakim MK, karena punya kedekatan dengan Presiden Jokowi.

Ya, banyak orang mengatakan, saya dekat dengan Presiden Jokowi. Saya kira tidak keliru juga, tapi saya tetap mempertahankan independensi.

Jadi Anda bukan orangnya Jokowi?

Saya selalu berusaha menjaga independensi. Kalau pemerintah memerlukan pandangan saya, sesuai dengan disiplin ilmu yang saya miliki, saya pastinya dengan senang hati menyampaikan pandangan itu. Yang pasti, saya selalu berupaya memberikan sesuai dengan keilmuan saya, tanpa kemudian merusak independen yang sudah saya bangun sejak lama. Mudah-mudahan saya bisa tahan dalam posisi seperti ini.

Jadi hakim konstitusi cita-cita Anda?

Terus terang, saya orang yang bercita-cita sebagai hakim konstitusi.

Wah kesampaian sekarang. Apalagi Anda tercatat sebagai hakim konstitusi termuda. Perasaan Anda bagaimana secepat ini cita-cita bisa tercapai?

Terus terang saya bisa wujudkan cita-cita ini, sebenarnya bukan sekarang. Saya ingin usia saya agak matang terlebih dahulu, baru kemudian saya berjuang menjadi hakim konstitusi. Tapi situasi meminta lain, mungkin ini menjadi jalan hidup. Jalan sejarah saya masuk lebih cepat ke MK.

Jadi?

Ya, saat ini sebenarnya belum berharap menjadi hakim konstitusi karena memandang usia. Tapi karena didorong banyak pihak, akhirnya saya mengambil sisi positif dari dukungan itu. Mungkin periode ini tepat masuk ke MK. Beberapa orang mengatakan ini momennya tepat, tapi saya katakan ini bukan kesempatan, saya katakan ini tantangan.

Tantangan MK ke depan seperti apa?

Tantangan MK yang paling berat saat ini adalah meraih dukungan dan kepercayaan masyarakat. Saya percaya bahwa tugas terberat dalam dua tahun ke depan, bagaimana meraih dukungan dan kepercayaan masyarakat setelah dua peristiwa terakhir. Kenapa? Kita akan hadapi Pemilu Serentak 2019 dan semua bermuara ke MK.

Anda merasa kagetkah, ketika ternyata terpilih jadi hakim MK?

Sebenarnya ketika saya akan menghadapi wawancara terbuka sama sekali tidak ada persiapan khusus. Apalagi kemudian saya dapat nilai tertinggi. Saya ditanya, ya saya jawab, agak nervous juga sih karena saya biasanya yang menyeleksi.

 

 

 

N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment