Koran Jakarta | March 24 2019
No Comments

Salatiga Langganan Menjadi Juara Kota Toleran

Salatiga Langganan Menjadi Juara Kota Toleran

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Salatiga, kota kecil yang berada tepat di te­ngah-tengah antara Semarang dan Solo, memiliki kondisi geografis dataran tinggi dan bentang alam yang indah. Kondisi ini membuat Pemerin­tah Hindia Belanda menyebut Salatiga sebagai Salatiga Dea Schoonnste Staad Van Midden Java atau Salatiga Kota Paling Indah di Jawa Tengah.

Bentang alam Salatiga me­mang lengkap. Kawasan ini dikelilingi Gunung Merbabu, Gunung Gajah, dan Gunung Telomoyo, serta memiliki da­nau alam, yakni Danau Rawa Pening. Hal ini menjadikan Salatiga benar-benar idaman para pejabat kolonial waktu itu.

Seiring dengan perkem­bangan zaman, kota ini terus berbenah dengan aneka tero­bosan dan inovasi sehingga pelayanan kepada warganya makin baik. Semua itu dinilai berhasil dan memang dirasa­kan manfaatnya oleh masya­rakat sehingga mendapatkan sejumlah penghargaan.

Untuk mengetahui apa saja yang telah dan akan dilaku­kan jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Salatiga ke depan, wartawan Koran Jakarta, Eko Sugiarto Putro berkesempat­an mewawancarai Wali Kota Salatiga, Yulianto, di Yogya­karta, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Apa kabar terakhir Salatiga?

Pemkot Salatiga mendapat banyak penghargaan pada 2018. Namun, hal itu tidak menjadikan kami terlena. Penghargaan itu justru mema­cu kami untuk lebih baik lagi. Pada Senin (7/1), saya mem­berikan pengarahan kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) di Salatiga untuk terus mening­katkan kinerja dan pelayanan kepada masyarakat.

Apa saja penghargaan yang diraih Salatiga?

Penghargaan tersebut, antara lain Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), Inagara Award, dan National Procure­ment Award. Pemkot Salatiga juga menerima Anugerah Parahita Ekapraya, peng­hargaan sebagai Kota Peduli Hak Asasi Manusia (HAM), penghargaan Kota Cerdas, dan penghargaan Kota Tertoleran nomor 2 setelah Kota Sing­kawang, Kalimantan Barat.

Toleransi adalah kata penting di Indonesia akhir-akhir ini. Bagaimana Salatiga menjaganya sehingga bisa menjadi yang terbaik?

Singkawang meraih nomor 1, tapi berada di Kalimantan dan Salatiga nomor 2. Itu artinya di Jawa yang bebera­pa kali terjadi ketegangan, Salatiga no­mor 1. Tentu saja, ditetap­kannya Salatiga sebagai kota paling toleran tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang selalu menjaga keberagaman antarumat beragama serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) lewat pendidikan serta menekan angka kemiskinan lewat pro­gram ekonomi kerakyatan.

Kami selalu memberikan kesempatan kepada setiap umat beragama untuk me­rayakan perayaan kegiatan keagamaan dengan nyaman. Umat muslim maupun kris­tiani sama-sama merayakan hari besarnya di lapangan dan arak-arakan atau karnaval di jalanan. Namun, itu semua tidak akan bermakna kalau pembangunan sektor pendi­dikan, kesehatan, dan eko­nomi rakyat tidak jalan.

Apa saja program untuk hal itu?

Sektor pembangunan pen­didikan, kami mengalokasikan anggaran pendidikan hingga 40 persen dari total dana APBD, padahal nasional kan hanya 20 persen. Di bidang kesehatan kami membangun rumah sakit tipe A dan C, baik oleh peme­rintah maupun swasta.

Adakah program khusus untuk mengurangi kemis­kinan?

Untuk mengurangi tingkat kemiskinan, Pemkot dan swas­ta bekerja sama mengucurkan berbagai program untuk tujuh kelurahan yang sebelumnya tingkat kemiskinannya terting­gi. Hasil dari berbagai program di atas, tingkat kemiskinan di Salatiga kini turun tinggal 5 persen. Keberhasilan menu­runkan angka kemiskinan dan meningkatnya angka indeks SDM menjadikan Salatiga ber­ada di posisi kedua kebupaten lain di Jawa Tengah sebagai kabupaten dengan penduduk miskin paling sedikit.

Saya ingin katakan bahwa toleransi juga sangat terkait dengan indeks kemiskinan, pendidikan, dan kese­hatan, yang semuanya terangkum dalam indeks kualitas sumber daya manusia. Hal itu mem­buat masyarakat Salatiga tidak mudah terprovokasi dengan berbagai isu yang ber­kaitan dengan SARA.

Kami semua ingin masya­rakat wasis, waras, dan wareg, tidak gampang diprovokasi atau diajak melakukan hal-hal yang tidak baik atau melanggar hukum.

Selain pendidikan dan kesehatan, Anda juga mem­prioritaskan koperasi dan ekonomi kerakyatan. Bisa diceritakan bagaimana perkembangan koperasi di Salatiga?

Di bidang koperasi dan eko­nomi kerakyatan karus diakui masih banyak yang harus kami tingkatkan. Koperasi ini kan lama stagnan dan kurang ber­kembang. Maka Pemkot selalu mendorong koperasi yang ada di Salatiga untuk berinovasi terutama dalam hal pengguna­an teknologi.

Inovasi harus dilakukan karena koperasi kalau tidak menyesuaikan zaman, akan di­tinggal anak-anak muda. Kalau tidak ada anak muda, tidak ada kader yang akan meneruskan­nya. Yang pertama, tentu saja kepercayaan kepada sistem kerja koperasi harus diting­katkan. Kehadiran Lembaga Penjamin Simpanan Koperasi tentu bisa memberikan keper­cayaan masyarakat. Koperasi yang sehat dan inovatif, pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment