Koran Jakarta | April 22 2019
No Comments
Nilai Tukar - Dana Asing Masuk ke Indonesia pada Januari-6 Maret 2019 Capai Rp74,4 Triliun

Rupiah Sulit Menguat Permanen

Rupiah Sulit Menguat Permanen

Foto : KORAN JAKARTA/ BUDI
STABILISASI RUPIAH - Chief Economist Bank BNI, Ryan Kiryanto (kiri) didampingi Deputi Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) IGP Wira Kusuma (tengah) dan Deputi Direktur Kebijakan Makroprudensial BI, Ita Rulina memaparkan kondisi perekonomian terkini di Yogyakarta, Sabtu (23/3). Pemerintah dan BI diimbau menjaga defisit neraca transaksi berjalan agar nilai tukar rupiah lebih stabil.
A   A   A   Pengaturan Font
Permintaan valuta asing untuk impor BBM meningkat sehingga membuat rupiah rentan terdepresiasi meskipun sepanjang pekan lalu cenderung menguat.

YOGYAKARTA – Kurs nilai tukar rupiah masih sulit menguat secara permanen. Hal itu disebabkan oleh kecenderungan peningkatan impor minyak dan gas (migas), terutama untuk pemenuhan kebutuhan bahan bakar (BBM) sehingga memicu permintaan valuta asing (valas) meningkat.

Chief Economist Bank BNI, Ryan Kiryanto, saat berbicara dalam pelatihan wartawan yang digelar Bank Indonesia (BI), di Yogyakarta, Sabtu (23/3), mengatakan ada kecenderungan permintaan valas oleh Pertamina terus meningkat untuk impor BBM. “Kalau dulu pemilik kendaraan terutama mobil kedua dan ketiga banyak yang diparkir di garasi, sekarang diproduktifkan menjadi taxi online, tentu akan meningkatkan konsumsi BBM,” kata Ryan.

Dari suplai, dia mengatakan kontribusi foreign direct investment (FDI) atau penanaman modal asing langsung masih bisa didorong agar nilainya yang masuk lebih besar. Diakui Ryan, kontribusi FDI terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2018 memang meningkat, tetapi hanya 2,2 persen.

Dibanding dengan negara pesaing, seperti Vietnam, Thailand dan Filipina, kontribusi FDI terhadap PDB Indonesia masih kalah. Tahun lalu, Thailand berhasil membukukan FDI mencapai 2,5 persen terhadap PDB, meningkat dari 2017 yang hanya 1,8 persen. Sementara itu, Vietnam berhasil menarik aliran dana asing yang masuk ke negaranya mencapai 6,5 persen terhadap PDB, sama dari tahun sebelumnya.

Meski demikian, Indonesia, kata Ryan, lebih baik dibanding Malaysia yang kontribusi FDI terhadap PDB turun menjadi 2,1 persen pada 2018 dari tiga persen pada 2017. “Kita harusnya bisa lebih besar karena sudah investment grade, “ katanya. Kurs rupiah sendiri berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) berada pada level 14.157.rupiah per dollar AS.

Kecenderungan penguatan rupiah itu dipicu oleh masuknya kembali dana asing ke pasar keuangan di emerging market termasuk Indonesia seiring dengan melemahnya ekonomi global yang dipacu oleh pelambatan di negara ekonomi terbesar dunia seperti Amerika Serikat (AS), Tiongkok dan Uni Eropa. R

yan dalam kesempatan itu mengimbau kepada BI dan pemerintah agar menjaga defisit transaksi berjalan tidak melebar mendekati tiga persen terhadap PDB seperti tahun lalu. Current account deficit (CAD) Indonesia tahun lalu mencapai 31,1 miliar dollar AS atau 2,98 persen terhadap PDB.

 

Investasi Membaik

 

Deputi Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, IGP Wira Kusuma mengatakan dana asing masuk ke Indonesia sejak Januari hingga 6 Maret 2019 mencapai 74,4 triliun rupiah. Dari jumlah tersebut yang masuk ke Surat Berharga Negara sebesar 62,5 triliun rupiah dan saham 11,9 triliun rupiah.

Kondisi tersebut lebih baik dibanding periode yang sama tahun lalu di mana terjadi capital reversal atau dana asing keluar sebesar 9,9 triliun rupiah. Menurut Wira, beberapa alasan Indonesia kebanjiran aliran modal asing. Salah satunya adalah terkait kondisi ekonomi global yang melambat. “Aliran modal ke emerging markets terus meningkat, disebabkan ketidakpastian dan risiko negara berkembang menurun,” kata Wira.

Berkurangnya ketidakpastian di pasar keuangan global disebabkan, kebijakan suku bunga acuan bank sentral AS (Federal Reserve) atau Fed Fund Rate (FFR) cenderung lebih dovish atau tak agresif. Hal sama juga terjadi di negara- negara maju lainnya.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, Nanang Hendarsah, optimistis nilai tukar rupiah akan terus menguat tahun ini karena berkurangnya ketidakpastian ekonomi global seiring dengan kian jelasnya arah kebijakan The Fed.

Risiko lain yang menghantui rupiah adalah perang dagang AS dan Tiongkok, serta progres perundingan terkait keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau Brexit. “Satu dari tiga faktor yang menekan rupiah pada 2018 sudah mereda,” kata Nanang. 

 

bud/E-10

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment