Koran Jakarta | June 27 2019
No Comments

Rumah Mungil untuk Kalangan Urban

Rumah Mungil untuk Kalangan Urban

Foto : Istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Mahalnya harga tanah membuat luas rumah makin menyempit. Di sisi lain, kebutuhan tempat tinggal minim sesuai gaya hidup masyarakat urban yang lebih personal dan praktis.

Faktor harga tanah yang kian melambung, kebutuhan rumah tinggal mungil menjadi alternatif. Pengembang banyak membangun proyek rumah mungil sebagai sesuai kebutuhan kalangan urban yang makin praktis.

Kalangan ini memiliki kehidupan yang berbeda dengan masyarakat konservatif yang umumnya terikat keluarga besar. Mereka hidup lebih mandiri sesuai dengan passionnya. Bluprint, sebuah platform digital untuk arsitektur, desain interior dan building material mencermati gaya hidup kalangan urban yang berkembang di sejumlah kota di Indonesia.

Platform yang berbasis di Bali melihat bahwa banyak masyarakat yang lebih nyaman tinggal dengan anggota keluarga minim yang biasa terjadi di masyarakat urban, mulai keluarga dengan dua anak, pasangan tanpa anak maupun single. Luas lahan sebesar 100 meter dipandang sesuai dengan daya beli masyarakat saat ini.

“Dengan perhitungan pendapatan naik 10 persen setiap tahun sedangkan harga properti bisa naik 2 sampai tiga kali lipatnya,” ujar Ricky Cahyadi, CEO Bluprint yang ditemui usai jumpa wartawan dalam acara Homedec, sebuah ajang pameran home show, di Jakarta, Kamis (12/6).

Dengan luas lahan tersebut, masyarakat dipandang masih memiliki kemampuan daya beli. Di atas lahan seluas 100 meter persegi maka luas bangunan yang dapat digunakan maksimal seluas 70 meter persegi. Tanah sisanya akan digunakan sebagai lahan hijau dan untuk memberikan jeda antara bangunan dan jalan, sebanyak 3 meter.

Jeda atau ruang kosong untuk memberikan keseimbangan antara bangunan dan lingkungan sekitarnya dan kenyaman sebagai tempat tinggal. Jika, pemilik menginginkan bangunan yang lebih luas maka mereka dapat membangun rumah secara vertikal. Dengan maksimal luas bangunan sebesar 275 meter persegi.

“Jadi kurang lebih luas bangunan 70 meter persegi sebanyak tiga lantai,” ujar dia. Luas bangunan maksimal tersebut tidak lain supaya pemilik rumah dapat tinggal dengan nyaman. Selain itu, mereka masih dapat turun naik tangga tanpa perlu menggunakan lift.

Ricky menilai bahwa rumah tinggal dalam ukuran mungil akan makin banyak dimiliki oleh masyarakat urban selain apartemen. Dari hasil riset yang diperolehnya, pada 2030 sebanyak 60 persen masyarakat dunia kebanyakan akan tinggal di wilayah urban. Sehingga, tempat tinggal mungil diperkiraan akan semakin banyak bermunculan.

Selain untuk memenuhi masyarakat urban, rumah dengan ukuran lahan seluas 100 meter persegi dapat digunakan untuk tempat tinggal keluarga yang terdiri dari kakek nenek, dua anak, dua mantu dan cucu.

Karena alasan ekonomi, anak yang telah berumah tangga sebagian masih tinggal dengan orang tua, sepertihalnya yang banyak terjadi di keluarga di dalam negeri.

Desain rumah 100 meter persegi yang dilombakan dalam Indonesia Young Architect pada 2017 menampilkan bentuk tempat tinggal dengan ukuran lahan 5x 20 meter maupun 10x 10 meter. Pembangunan tidak hanya untuk tempat tinggal melainkan rumah dan toko.

Chairul Amal Septono , desain interior mengatakan pembangunan rumah perlu memberikan jeda lahan kosong antara bangunan dan jalan. “Ibaratnya bingkai,” ujar dia tentang jeda tersebut. Proporsi yang sesuai antara bangunan dan luas lahan kosong membuat bangunan lebih nyaman dipandang mata dan tidak membuat mata lelah. din/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment