Koran Jakarta | December 18 2018
No Comments

Rumah di Harga Rp500 Juta Jadi Primadona

Rumah di Harga Rp500 Juta Jadi Primadona

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Properti subsidi (tapak maupun rusun) menjadi primadona di pasar properti. Namun, sektor properti ini perlu melakukan perubahan, baik dari segi nilai jual maupun jumlah lantai. Mengingat aturan pemerintah yang makin ketat dan harga tanah yang melambung. Rumah subsidi memiliki peluang pasar besar di tengah bisnis properti yang tengah lesu.

“Rumah subsidi masih besar potensinya sampai sekarang,” ujar Endang Kawidjaja, Ketua Umum Himpunan Pengembang Pemukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) dalam Rumah.Com Property Outlook 2019 di Jakarta, Kamis (6/12). Selain menjangkau masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), rumah subsidi akan menangkap konsumen yang tidak jadi membeli rumah komersil dengan alasan nilai uang muka atau DP maupun harga melalui kredit pemilikan rumah (KPR) yang terlalu membengkak.

Untuk menjangkau konsumen, Himperra mengusulkan adanya celah produk rumah tapak senilai 200 sampai 250 juta di masa mendatang. Produk tersebut akan menyasar konsumen dengan pendapatan maksimal 7 juta rupiah.

Himperra berpendapatan kalangan ini berhak mendapatkan subsidi dengan skema Rusunami. Bunga KPR yang dibebankan di atas 5 persen, bisa 7,5 persen, selama 5 sampai 10 tahun pertama. Adanya peningkatan harga pada skema rumah subsidi tidak lain karena ketatnya peraturan pemerintah dalam pembangunan rumah tipe tersebut. Salah satunya, pemerintah meminta adanya peningkatan kualitas teknis dalam pembangunan rumah. “Rumah subsidi harus disertifikasi tenaga ahli yang bersertifikat,” ujar dia.

Himperra juga mengusulkan pembanguna rusun berkonsep Low Rise Vertikal (LVR) atau rusunami berbasis konsep Maisonette, yang dikembangkan dari dua lantai menjadi empat lantai. Alasannya adalah biaya pengembangan yang lebih murah karena simplifikasi, dapat mengakomodir nilai tanah hingga 2 juta rupiah per meter persegi (sehingga dapat lokasi yang lebih dekat kurang dari 30 menit dari commuter) dan harga mengikuti harga subsidi dari Rusunami.  din/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment