Koran Jakarta | July 19 2018
No Comments

Rudhy Terus Gencar Perang Melawan Narkoba

Rudhy Terus Gencar Perang Melawan Narkoba

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Presiden Joko Widodo dalam beberapa kesempatan menyatakan bahwa Indonesia berperang melawan narkoba dan menetapkan status darurat narkoba dengan menghukum berat para pelakunya. Namun, hal tersebut tak lantas membuat peredaran narkoba surut, malah sepertinya semakin marak. Berangkat dari hal itu, seorang mantan pecandu narkoba, Rudhy Wedhasmara, mendirikan sebuah organisasi lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang fokus melawan narkoba yang diberi nama Orbit.

Yayasan ini berusaha menyadarkan para pecandu narkoba yang ada di Kota Surabaya. Rudhy menceritakan awal pembentukan organisasi itu tidaklah mudah. Stigma negatif sebagai mantan pecandu masih sangat melekat hingga akhirnya organisasi yang dibuatnya sempat hancur. Pada tahun 2006 baru membentuk Orbit, organisasi yang khusus mengurusi pengguna narkoba dan penderita AIDS.

“Orbit pada 2006 aktif setahun, setelah itu vakum, dan 2010 baru aktif lagi sampai sekarang,” kata suami Hanis Laras Widyaningpuri itu, di Surabaya, baru-baru ini. Terjun untuk memberikan pertolongan kepada pecandu narkoba memberikan kepuasan batin Rudhy. Sebagai seorang pecandu, dulu dia sering mengajak teman untuk memakai narkoba. Faktor inilah yang membuat pentingnya pencegahan terhadap narkoba.

Kepuasan Batin

Rudhy mengaku saat ini bisa mengajak orang untuk berhenti memakai narkoba lebih banyak dibanding dulu saat mengajak teman untuk mengonsumsi narkoba. “Ini adalah penebusan dosa saya. Ketika banyak pecandu yang bisa sembuh dan kembali ke keluarganya atau lepas dari masalah hukumnya, itu memberi kepuasan batin kepada saya,” kata Rudhy.

Rudhy mengaku mencoba rokok mulai dari TK. Saat kelas V SD sudah mulai minumminuman keras, dan setelah itu memakai narkoba hingga kecanduan sampai umur 21 tahun. Menjadi pecandu selama bertahun-tahun membuatnya jenuh dan membuat Rudhy memantapkan untuk direhabilitasi di Pondok Pesantren Inabah Suralaya.

Dia tak pernah kuliah karena sampai parkiran sudah memakai narkoba. Rudhy mengungkapkan titik jenuh itu berawal dari saat bangun tidur, sudah memikirkan barang apa lagi yang harus dijual. Kemudian, keesokan harinya lagi dia harus memikirkan nyari uang buat membeli narkoba. Pria berusia 37 tahun itu mengisahkan belum bangun tidur, pukul 04.00 badan sudah sakit semua.

Pukul 06.00 sudah ke bandar untuk membeli, dan pukul 09.00 sudah bingung lagi karena efek obatnya sudah habis. Konsumsinya terhadap narkoba kala itu melebihi konsumsinya kepada makanan. Dalam sehari, dia bisa enam kali memakai narkoba bahkan lebih. Setelah masuk pesantren dan keluar, oleh ustaznya, Rudhy disuruh keluar dan memberikan testimonitestimoni.

Akhirnya bertemu teman-teman sesama mantan pengguna narkoba dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) dan membentuk sebuah organisasi pada 2001. Dalam perjalanannya, Rudhy berhenti memakai narkoba dan bahkan menyadarkan orang. Banyak lika-liku yang dia hadapi, terutama stigma dari keluarga besar yang menganggapnya masih memakai narkoba.

Walaupun sudah lulus sekolah dan mendapatkan gelar hukum, tapi masih saja ada stigma terutama dari keluarga besar bahwa dirinya masih menjadi pemakai, padahal sudah berhenti 15 tahun. Rudhy mengatakan narkoba adalah persoalan serius di Indonesia. Jutaan anak muda mati sia-sia karenanya. Oleh karena itu, dia bertekad untuk terus berjuang dalam melawan narkoba dan menyembuhkan para pecandu narkoba untuk menyelamatkan masa depan bangsa.

Dukungan dari pemerintah sudah cukup baik. Namun sebagai masyarakat sipil, dia mengaku belum puas. “Dari segi anggaran, kami masih melihat dukungan program narkoba dan dukungan program AIDS itu masih dalam bentuk produk, belum dalam bentuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN),” kata Rudhy. SB/Ant/N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment