Koran Jakarta | March 25 2019
No Comments

Ruang Belajar Musik dan Budi Pekerti

Ruang Belajar Musik dan Budi Pekerti

Foto : foto-foto: dok tamude
A   A   A   Pengaturan Font

Taman Musik Depok memberikan ruang kegiatan positif untuk warga Depok.

Pada dasarnya, musik tidak sekadar milik individu. Musik adalah milik semua orang yang turut menikmatinya. Filosofi itulah yang disosialisasikan komunitas Taman Musik Depok (Tamude). Komunitas ini memberikan ruang belajar musik sekaligus budi pekerti bagi anak-anak.

Aktivitas Tamude bisa dinikmati tiap akhir pekan. Setiap Sabtu Sore dan Minggu pagi di Gedung Pemuda, Depok, selalu riuh dengan alunan nada maupun guru yang memberikan arahan tangga nada sebuah bait lagu.

Beragam alunan musik dimainkan dengan apik. Alunan gitar, biola, perkusi maupun vokal akan mengalir merdu. Mereka tengah belajar musik maupun vokal.

Musik menjadi wahana anak-anak bermain dan belajar. Melalui musik, anak-anak dapat mengasah keterampilan maupun menimba pengetahuan tentang musik. Selain itu, musik mengajarkan masyarakat untuk cinta pada budaya dan bangsanya sendiri.

“Karena anak-anak sekarang lebih kenal lagu negara lain ketimbang lagu daerah,” ujar Joko Priyono atau yang lebih popular disapa Koko Thole, pendiri Tamude yang ditemui dibilangan Depok, Senin (29/1).

Bagi Koko, musik tidak sebatas melodi namun dapat mengantarkan pemain maupun penikmatnya menyelami pengetahuan maupun keterampilan lainnya.

Untuk itu dalam melatih peserta didiknya, ia menggabungkan pelajaran musik bersama budi pekerti. Satu pelajaran yang diterjemahkan saat penampilan di atas panggung.

Pppara guru mengajarkan secara detil tentang musik. Penguasaan bodi, tampil di depan umum, jadwal penampilan (siang maupun malam) maupun pengetahuan tentang panggung merupakan pengetahuan yang diperlukan oleh musisi.

“Ini jelas perlu, supaya mereka sadar, saya main untuk siapa dan apa yang akan saya tampilkan,” ujar jebolan IKIP di Yogyakarta. Selain agar tidak salah memberikan materi, pengetahuan tersebut akan membentuk kepercayaan diri maupun sopan santun.

Koko yang lebih dikenal sebagai musisi musik campursari pada era 1990-an menyadari perlu adanya disiplin untuk membentuk peserta didik menjadi musisi. “Kalau tiga kali tidak masuk tanpa keterangan, dicoret. Ini karena (pelatihan) gratis yang antri banyak,” ujar dia tentang latihan tanpa pungutan biaya tersebut.

Meskipun begitu, guru yang melatih merupakan para pendidik yang memiliki kemampuan bermusik maupun vokal. Mereka memiliki latar belakang dari IKIP maupun sekolah musik.

Jika peserta didik tidak dipungut biaya, maka pelatih pengajar mendapatkan bayaran atas jasanya. Tamude bekerja sama dengan Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata Seni dan Budaya, Depok untuk menggaji para pelatih di Tamude.

Tamude terbuka untuk anak-anak Depok usia SD sampai SMA Kelas 2. “Kalau (SMA) kelas 3 kan mau ujian,” ujar dia pendek. Persyaratannya, mereka harus terdaftar dalam Kartu Keluarga Depok. Kepemilikan KK Depok menjadi syarat mutlak lantaran tujuan Tamude untuk memberikan ruang kegiatan positif untuk warga Depok.

Sementara, peserta yang akan bergabung tidak dituntut memiliki kemampuan bermain musik maupun vokal. “Minimal ada keinginan (bermain musik atau vokal),” ujar dia.

Alasan tersebut tidak lain lantaran kegiatan tidak dipungut biaya. Jika keikutsertaan peserta berdasarkan seleksi, Koko merasa tidak adil terhadap setiap peserta.

Untuk proses seleksi, pelatih akan menyeleksi kemampuan peserta dengan menggunakan rasa. Seleksi tersebut untuk mengetahui keberanian peserta tampil di depan umum maupun keberanian berbicara di depan umum.

“Tapi bukan berarti yang tidak berani kita tolak. Karena, kita mencoba menggaet mereka untuk menjadi anak yang berani, ” ujar dia.

Tamude digagas Koko bersama Walikota Depok. Saat ini, kegiatan masih menumpang Gedung Pemuda, Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata Seni dan Budaya, Depok. Koko memimpikan Tamude yang berdiri pada Januari 2017 ini dapat dilakukan di taman sehingga dapat dinikmati masyarakat umum. din/E-6

Sebagai Pijakan Masuk Sekolah Musik

Musik tidak hanya untuk mengembangkan hobi. Musik dapat menjadi jembatan menggapai pengetahuan bahkan membangun rasa percaya diri.

Pengetahuan tersebutlah yang ingin ditularkan Koko Thole pada peserta Tamude. Untuk itu, ia selalu mengajarkan anak didiknya untuk menguasai not balok sehingga tidak sekedar mampu memainkan alat musik atau mengolah vokal.

“Supaya, mereka memiliki bekal untuk melanjutkan ke SMK atau ISI,” ujar dia. Apalagi, berbagai sekolah musik sudah tersebar di seluruh penjuru Tanah Air.

Sekolah tersebut dapat menjadi pilihan jika memiliki keinginan menekuni musik pada tahap lebih lanjut. Di Tamude, Koko dan pelatih memberikan pelajaran tentang permainan gitar, biola, perkusi serta vokal.

Selain itu, kegiatan musik dimaksudkan untuk menambah pengetahuan musik pada anak didik. Pasalnya, banyak sekolah di sekitar Depok yang kurang memiliki guru musik yang memadai.

Dengan adanya kegiatan musik diharapkan dapat membantu pengetahuan musik anak-anak di sekolah. Untuk mengasah kepercayaan diri, Tamude memberikan panggung agar peserta dapat tampil di depan umum.

Koko selalu merekomendasikan beberapa peserta didik untuk tampil di berbagai acara yang diselenggarakan di Depok. Selain sebagai penampil, mereka kerap diikutsertakan dalam ajang lomba.

Keseriusan anak-anak bermain musik telah menarik minat pusat perbelanjaan untuk melakukan kerja sama. Mereka menginginkan peserta Tamude untuk tampil di pusat perbelanjaan secara terjadwal.

Sampai saat ini, Koko belum menyanggupi permintaan tersebut. Ia ingin peserta Tamude matang dalam memainkan musik dan tampil di depan umum. “Kalau dalam acara terjadwal khawatir mengganggu pelajaran,” ujar musisi yang menggarap musik beberapa penyanyi ini maupun media ini. Tanpa kenal lelah, Koko selalu berkeinginan menularkan musik pada generasi penerus. din/E-6

Dari Belajar Musik Ingin Menjadi Musisi

Musik selalu mengundang daya tarik. Melodinya menarik minat untuk mengenal maupun mempelajari lebih jauh. Ada kebanggaan saat mampu memainkan dalam partitur yang tepat.

Bagas Artha Pratama, 11, merupakan salah satunya. Siswa kelas 5 SD tak lelah mencari tempat belajar musik agar dia dapat memainkan musik sesuai partiturnya.

Berbagai kursus musik telah dijajalnya. Saat ini hatinya tengah tertambat pada Taman Musik Depok (Tamude). “Karena di sini (Tamude) diajarin not balok,” ujar dia yang dihubungi, Rabu (30/1).

Pelajaran tersebut membuat dia tidak fals saat bernyanyi. Pelajaran not balok tergolong istimewa lantaran tidak semua tempat belajar musik memberikan materi tersebut. Umumnya, mereka hanya memberikan materi tentang penggunaan alat musik maupun vocal.

Saat bergabung sekitar 2017 lalu, Bagas, begitu ia biasa disapa, telah memiliki kemampuan vokal serta bermain biola. Kemampuan yang telah dimiliki sejak usia tiga tahun secara otodidak telah mengantarkan ke berbagai perlombaan vokal dan musik.

Laki-laki yang mengidolakan Soimah ini, mengaku bahwa bermusik adalah hobinya. “Belajar musik itu seru,” ujar dia tentang suasana belajar yang menyenangkan lantaran bisa tertawa lepas.

Jika Bagas telah memiliki bekal musik, lain dengan Mutia Kurnia Ratna Putri, 13. siswa SMP kelas 1 mengaku belum dapat memainkan alat musik saat bergabung dengan Tamude. Setelah belajar hampir tiga tahun, kini ia bisa memainkan beberapa lagu dari Letto,band pop rock dengan iringan gitar.

Sebagai pemula, Mutia, begitu ia disapa, mengatakan selalu ada tantangan setiap menerima pelajaran baru. ”Pertama sih memang susah tapi kalau belajar pasti bisa,” ujar dia tentang pelajaran pertamanya mengenai kunci chord gitar. Alat musik tersebut merupakan alat musik pertama yang dikuasainya.

Tanpa terasa, Mutia merasakan pelajaran musik yang ditekuninya banyak memberikan manfaat. Ia bisa mengembangkan hobi bermain musik. Terlebih, kegiatan yang ditekuni sejak 2016 banyak membantu pelajaran di sekolah terutama pelajaran musik.

Gadis yang bercita-cita menjadi pelukis ini, tidak menampik kalau suatu saat dirinya akan menjadi salah satu pemain band maupun musisi. Yang jelas, penguasaan alat musik makin mengasah jiwa seninya. din/E-6

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment