Koran Jakarta | December 16 2018
No Comments

Riwayat Sebuah Lukisan

Riwayat Sebuah Lukisan

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font
CATATAN ARSWENDO

 

Seorang teman meminta saya membuka pameran lukisan yang diselenggarakan bersama teman-teman­nya. Bukan teman biasa, karena kami sudah jalan bersama-sama, sekurangnya 50 tahun lalu. Kami sama-sama bekerja sama mem­produksi komik.

Saya membuat cerita, teman saya yang melukis. Ada juga yang membuat teks. Kerja sama yang berdasarkan saling percaya. Hasilnya dibagi. Begitulah, kami sempat mela­hirkan beberapa buah buku komik.

Sebelumnya, kami bergabung dalam sebuah grup lepas sekolah menengah atas, lajang, mengerjakan apa saja: mendekorasi pengantin, membuat spanduk, menghias mobil, membuat sketsa di jalanan.

Sesekali melukis. Teman saya ini terus melukis, beberapa kali pameran di berbagai kota, saya pernah membuka juga, juga bersama teman-teman lain. Kali ini sebenarnya kondisi kesehatan saya kurang menun­jang, tapi tak mungkin menolaknya— kalau tahu kondisi saya teman tadi juga tak mungkin meminta.

Lima puluh tahun berlalu, dan kami masih melakukan hal yang sama. Den­gan kemampuan terbatas, tak memi­liki akses lebih, tanpa ada maecenas atau pelindung atau sponsor, tak juga bantuan dari pemerintah daerah, mis­alnya.

Sampai sekarang pun sebagian dari teman-teman masih begitu. Setia dengan profesinya sebagai seniman, memiliki kebebasan penuh dalam berkarya.

Mereka bersepuluh dan tak ada obyek lukisan yang sama. Juga aliran masing-masing setia dengan isme sendiri-sendiri. Saya katakan: mereka inilah sesungguh­nya pemilik kebebasan dalam berkarya, tak ada yang mampu memer­intah harus begini atau begitu.

Saya pernah mengusulkan jauh hari, karena kebetulan kesepuluh seniman ini berasal atau pernah besar di Solo, untuk “menjual Solo” melalui kenangan sudut-sudut Kota Solo. Yang barang kali nostalgis bagi seseorang untuk mengoleksinya. Atau, dalam kondisi sekarang ini, misalnya pameran mengusung tema: Tampang Boyolali, dengan segala interpretasi mengenai tema tersebut.

Namun, itu tak termasuk dalam kamus pergaulan mereka. Mereka melukis dengan segala pengala­man, kemam­puan, kreativitas, pergulatan dari ide sampai penyele­saian karya. Itu saya yang saya istilahkan: mereka memiliki kebebasan sepanuhnya. Mer­eka melukis atas kemauan sendiri, dan kemudian berpameran.

Malam pem­bukaan lukisan berlangsung meriah, akrab, penuh kekeluar­gaan, dan terutama terasakan auora persahabatan, termasuk dengan pengunjung. Bahkan setelah lama acaranya dianggap selesai, obrolan masih berlangsung lama.

Saya bahagia bisa memenuhi per­mintaan teman, saya bahagia men­jadi bagian dari kebahagiaan itu, dan mungkin sekali masih ada kelanjutan­nya. Semua ini mengingatkan bahwa 50 tahun lalu, sampai sekarang ini masih ada mereka yang memilih profe­si sebagai seniman.

Yang tak merengek bantuan, tidak mengemis fasilitas, yang terus berkarya dengan segala kejujuran dan kebebasan. Mereka bukan pelukis dengan harga lukisannya dihargai san­pai miliar, kadang juga ada yang dipal­sukan.

Bukan, mereka adalah pelukis yang memiliki dan mengeskpresikan kebebasan, kesetiaan, sebagaimana, mungkin para pemahat candi zaman dulu, pem­buat hiasan zaman kerajaan apa, atau desain-desain kain, atau bahkan desain senjata, yang luar biasa.

Maka, kalau Anda suatu ke­tika menjumpai ada lukisan di rumah, yang tidak Anda ketahui siapa pemiliknya— kakek atau ayah atau paman, atau tak mengenal apa alirannya, atau bah­kan siapa nama atau inisial pelukisnya, rawatlah dengan baik.

Karena karya itu memiliki sejarah yang panjang, riwayat kesungguhan dalam menciptakan sesuatu tanpa memaksa. Riwayat ketangguhan, yang kini yang masih tersisa. Masih bisa dipelihara.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment