Koran Jakarta | July 16 2018
No Comments

Risma Puji Kepahlawanan dan Keberanian Bayu

Risma Puji Kepahlawanan dan Keberanian Bayu

Foto : istimewa
jaga gereja - Polisi bersiaga di sekitar lokasi ledakan di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Ngagel Madya, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5).
A   A   A   Pengaturan Font

Serangan bom bunuh diri yang mengguncang tiga gereja di Kota Sura­baya pada Minggu (13/5) dan kantor Polrestabes Surabaya pada Senin (14/5) membuat luka mendalam bagi seluruh masyarakat di Indonesia. Tidak terkecuali bagi Wali Kota Sura­baya, Tri Rismaharini.

Risma bersama jajaran me­nyempatkan untuk mengun­jungi keluarga korban ledakan bom untuk menguatkan para keluarga korban. Pada Senin (14/5), sekitar pukul 15.00 WIB, Risma mendatangi rumah duka dari almarhum Aloysius Bayu Rendra Wardha­na, di Jalan Gubeng Kertajaya I Nomor 15A Surabaya.

Bayu merupakan salah satu korban meninggal dunia dari ledakan bom di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Ngagel, Surabaya. Sosok Bayu menjadi perbincangan karena sempat menghadang sepeda motor pelaku pengeboman di depan Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela.

Atas tindakannya yang menghentikan sepeda motor yang dikendarai Yusuf Fadhil (18 tahun) membonceng adik kandungnya Firman Hakim (16 tahun) sambil memangku bom rakitan, Bayu mampu menyelamatkan sekitar 500 umat yang sedang mengikuti misa.

Aksi Bayu membuat laju sepeda motor Yusuf terhenti dan langsung meledak di halaman gereja. Seketika itu pula, tubuh Bayu hancur bersama kedua pengendara dan pembonceng motor yang menabraknya. Sesampainya di rumah duka, Risma me­nyampaikan rasa bela sung­kawa kepada istri korban dan memberikan santunan kepada keluarga yang ditinggalkan.

“Mohon maaf kalau saya baru bisa datang ke sini, ka­rena dari kemarin masih ada pekerjaan yang belum bisa dit­inggalkan,” kata Risma kepada istri Bayu, Monic Dwi.

Risma pun tak tega melihat anak yang ditinggalkan korban masih berusia balita. Ia mem­berikan dorongan semangat agar tabah dan sabar dalam menjalani cobaan. “Bapakmu pahlawan Nak. Kalau tidak ada bapakmu, mungkin korban yang jatuh di sana bisa jauh lebih banyak lagi,” kata Risma kepada anak pertama almar­hum Aloysius yang masih berusia 2,5 tahun saat digen­dong ibunya, Monic Dwi.

Risma tidak kuasa mena­han air matanya melihat masa depan kedua anak mendiang Bayu yang harus ditinggalkan sang ayah akibat tindakan dari para teroris. Tak hanya berhenti sampai di sana, man­tan Kepala Badan Pemba­ngunan Daerah Kota Surabaya menciumi kedua anak Bayu. “Kamu harus bangga sama ba­pakmu, nanti kalau besar yang pinter ya,” kata Risma kepada anak kedua yang baru berusia 10 bulan.

Risma lalu melan­jutkan kunjungan ke keluarga korban ledakan bom lainnya. Ia mendatangi rumah duka Adi Jasa, di Jalan Demak No 90-92 Surabaya. Ada enam orang yang menjadi kor­ban ledakan bom bunuh diri disemayamkan secara bersamaan di rumah duka Adi Jasa Surabaya. Mereka adalah Martha Djumani (54 tahun), kakak beradik Evan (11 tahun) dan Nathan (8 tahun), Sri Puji Astutik (60 tahun), Go Derbin Ariesta (66 tahun), dan Tee Suk Tjien (64 tahun).

Dia kemudian memberikan santuan kepada masing-ma­sing keluarga yang ditinggal­kan. “Semua kita tanggung, tidak perlu khawatir. Nanti diurusi sama Dinas Kesehatan. Yang penting sekarang harus kuat,” kata Risma saat men­gunjungi ayah dari dua anak korban meninggal ledakan bom di Rumah Duka Adi Jasa.

Kedua anak yang mening­gal dunia saat ledakan bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela Surabaya adalah Vinsencius Evan dan Nathan, warga Barata Jaya Surabaya. Evan meninggal dunia di lokasi kejadian, sedangkan Nathan sempat mendapat perawatan di Rumah Sakit Bedah Sura­baya beberapa jam sebelum akhirnya meninggal pada Minggu (13/5) malam.

Ery, bapak dua anak yang meninggal dunia tersebut mengucapakan terima kasih atas bantuan yang diberikan Pemerintah Kota Surabaya melalui Risma. “Saya kuat kok bu,” katanya.

Risma mengatakan bantuan tersebut tidak hanya diberi­kan kepada keluarga Ery saja, melainkan juga kepada keluarga korban meninggal atau korban luka-luka lainnya. “Jadi semua nanti pengobatan, proses pemakann dan lainnya ditangung pemkot. Keluarga tidak perlu khawatir. Tadi ada yang tanya, bagaimana untuk kontrol dan lainnya, kami bilang akan bantu selesaikan,” katanya.

Risma pun mengecam keras tindakan kejahatan berupa peledakan bom di sejumlah tempat di Surabaya yang dilakukan oleh orang tidak berperikemanusiaan tersebut. “Saya tidak mau lagi ada kor­ban, banyak orang yang tidak berdosa, apalagi korbannya anak-anak. Ini sangat biadab sekali dan dzolim,” katanya.

Hal sama dikatakan Wakil Wali Kota Surabaya, Whisnu Sakti Buana. Ia meminta masyarakat tidak panik de­ngan tetap menjaga ketenan­gan namun selalu waspada, agar aktifitas warga tetap berjalan normal. Warga tetap tegar dan tidak merasa takut untuk menghadapi aksi teror, karena semakin diburunya para pelaku teroris oleh pihak keamanan justru semakin menambah kepanikan para teroris.

SB/Ant/N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment