Koran Jakarta | November 12 2019
1 Comment
Kasus Brexit I Parlemen Paksa PM Johnson Kirim Surat Penundaan ke UE

Ribuan Warga Inggris Tuntut Referendum Ulang

Ribuan Warga Inggris Tuntut Referendum Ulang

Foto : AFP/ NIKLAS HALLE’N
TOLAK BREXIT I Pengunjuk rasa yang tergabung dalam kelompok gerakan anti-Brexit, People’s Vote Campaign, berunjuk rasa di London, Inggris, Sabtu (19/10). Mereka menuntut PM Boris Johnson menggelar referendum ulang Brexit. Kelompok ini menolak Inggris keluar dari UE.
A   A   A   Pengaturan Font
Dipaksa mengirim surat penundaan setelah kegagalan meyakinkan parlemen pada Sabtu adalah pukulan telak bagi PM Johnson.

 

LONDON – Puluhan ribu warga Inggris pro Uni Eropa turun ke jalan untuk mendesak dilakukannya referendum ulang terkait Brexi, di Lon­don, Sabtu siang (19/10). Demon­strasi tersebut diselenggarakan oleh kelompok gerakan anti-Brexit, seperti People’s Vote Campaign, An­other Europa is Possible, LabourSay, dan Our Future Our Choice.

Para demonstran ini berkumpul di Park Lane dekat Hyde Park pada siang hari dan berjalan menuju Par­liament Square saat para anggota parlemen menggelar voting pada sidang pertama. Demonstrasi itu adalah salah satu protes terbesar anti-Brexit.

“Little England mau keluar dari EU; Inggris Raya tak mau keluar dari EU,” kata Jeremy, seorang pensiunan manager proyek.

Neil, seorang profesor dari Uni­versity of Sheffield, mengatakan dia bergabung dalam aksi unjuk rasa itu untuk mendesak parlemen dan pemerintah agar berpikir bahwa Inggris milik Eropa. Anggota parlemen dari bermacam partai oposisi turut menyampaikan pendapat mereka di panggung Parliament Square itu.

Direktur kampanye People’s Vote, James McGrory, menyatakan pemerintah harus mendengar kemarahan para pendukung UE dan menggelar referendum baru tentang Brexit. “Kesepakatan baru ini tidak mencermink­an apa yang dijanjikan pada rakyat dan ini hak publik untuk memiliki peluang lain menyuarakan pendapat mereka,” kata James McGrory.

Dia menambahkan, “Tak ada demonstrasi yang lebih baik untuk mengubah keinginan rakyat selain ratusan ribu orang di jalanan menun­tut mereka didengarkan saat para politisi di dalam parlemen mengam­bil keputusan yang akan mempenga­ruhi kita selama beberapa generasi.”

Kirim Surat

Sementara itu, Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, mengirim surat kepada Uni Eropa pada Sabtu (19/10) malam yang berisi permoho­nan penundaan Brexit, atas desakan anggota parlemen. Surat tersebut dikirim Johnson setelah anggota parlemen memaksa dirinya untuk menunda Brexit yang jatuh tempo pada 31 Oktober.

Akan tetapi, Johnson yang meme­gang jabatan perdana menteri untuk bisa membawa Inggris keluar dari UE tepat waktu itu, tidak menan­datangani surat yang ditujukan ke­pada Presiden Dewan Eropa, Donald Tusk, itu.

Akibatnya, Pemimpin Partai Konservatif mengirim surat kedua yang menegaskan ia tidak memin­ta perpanjangan atas jatuh tempo Brexit, yang sebelumnya telah di­tunda dua kali.

Sebelumnya, anggota parlemen menolak memberikan dukungan mereka pada revisi kesepakatan yang dibuat Johnson dengan Uni Eropa.

Setelah gagal mendukung kese­pakatan berpisah, parlemen menge­luarkan peraturan yang mewajibkan Johnson menulis kepada pemimpin UE untuk meminta penundaan Brex­it, demi menghindari risiko Inggris keluar tanpa kesepakatan dalam dua pekan.

Johnson mengirim sebuah kopian surat berisi peraturan yang memin­tanya untuk mengirim surat permo­honan penundaan tersebut, namun tak ditandatangani.

Dia kemudian menulis dan menandatangani surat lainnya yang memperjelas dia tidak ingin menun­da Brexit lewat dari bulan ini.

“Sangat disesalkan, parlemen melewatkan kesempatan untuk me­masukkan momentum dalam proses ratifikasi,” tulis Johnson dalam surat yang ditanda tangan, menyesalkan bahwa kini pemimpin Uni Eropa mesti menghabiskan lebih banyak waktu lagi soal Brexit.

“Perpanjangan lebih lanjut akan merusak kepentingan Inggris Raya dan rekan kami Uni Eropa, dan hubungan di antara kita. Kita harus membawa proses ini kepada sebuah akhir,” lanjutnya.

Namun, Johnson mengatakan ia tetap “yakin” bisa menyelesaikan proses ini pada 31 Oktober.

Surat pengantar ketiga yang ditu­lis oleh Duta Besar Uni Eropa untuk Inggris Tim Barrow menjelaskan bahwa surat penundaan Brexit hanya dikirim untuk mematuhi hukum.

Atas surat penundaan tersebut, Tusk kemudian merespons dan me­nyebutkan ia akan berunding kepa­da pemimpin Eropa lainnya.

“Saya kini akan memulai berkon­sultasi dengan para pemimpin UE lainnya bagaimana merespons hal ini,” kata Tusk.

Pukulan Telak

Seorang sumber di Dewan Eropa berkata bahwa proses tersebut “akan memakan waktu beberapa hari” dan menolak berkomentar pada surat tak tertandatangani tersebut.

Juru bicara Kantor Perdana Men­teri Inggris mengatakan Johnson telah berbicara kepada Kanselor Jer­man Angela Merkel, Presiden Pran­cis Emmanuel Marcon, dan Tusk.

Perdana Menteri Belanda Mark Rutte mengatakan bahwa ia telah mendiskusikan situasi tersebut dengan Johnson dan “berharap dia suk­ses di tahap selanjutnya” di parlemen.

Dipaksa mengirim surat penundaan setelah kegagalan meyakinkan parlemen pada Sabtu adalah pukulan telak bagi Johnson. Sebab John­son sebelumnya mengatakan dia lebih suka “mati di comberan” dari­pada memperpanjang proses mengakhiri hubungan Inggris dan UE se­lama 46 tahun tersebut.

Brussel memaksa London un­tuk menjabarkan rencana mereka sesegera mungkin, ketika kan­tor Macron mengatakan sebuah penundaan Brexit yang baru meng­hilangkan minat semua pihak.

Pemerintah Inggris akan menge­nalkan peraturan untuk menerapkan kesepakatan Brexit pada pekan de­pan dengan pemungutan suara per­tama paling cepat dilakukan pada Selasa. ang/AFP/P-4

Klik untuk print artikel

View Comments

salsabila
Senin 21/10/2019 | 08:41
Pendaftran gratis di hoki165.com nikmati permainan live streaming masa kini, khusus bagi new member bisa mendapakan bonus 10%, dan bonus next deposit++ yang bisa di klaim berkali-kali setiap pengajuan deposit, selain itu juga masih ada bonus cashback, tunggu apalagi buruan gabung bersama kami di hoki165.com

Submit a Comment